Khamr dalam Pandangan Islam


Oleh Nia Kurniati Hasibuan


Awal tahun 2021 selain dihadapkan pada banyaknya bencana, kasus lainnya yang cukup mengkhawatirkan adalah belum tuntasnya kasus-kasus seputar minuman keras dengan berbagai macam berita berkenaan dampak buruknya di tengah masyarakat.

Mengutip dari laman detik.com sepanjang awal tahun 2021 hingga bulan Maret secara berurutan masyarakat dihadapkan maraknya kasus seputar minuman keras oplosan yang memakan banyak korban, sepeti fakta meninggalnya 7 pemuda penenggak miras oplosan di Bandung Barat, meninggalnya korban bahkan pelaku pemerkosaan di Kabupaten Cirebon pasca pelaku menenggak miras oplosan, dan beberapa peristiwa pesta miras baik di awal tahun baru lalu yang juga menelan korban jiwa, dan banyak lagi deratan kasus serupa yang berkenaan dengan miras oplosan ini.

Walaupun secara resmi Pak Jokowi telah menghapuskan lampiran III investasi miras, namun tidak akan mampu menyurutkan penyebaran miras di tengah masyarakat, sebagaimana ditulis dalam muslimahnews disangsikan miras akan berhenti tersebar karena akar masalahnya tidak diselesaikan. 

Jadi, biang keladi sesungguhnya dari kegaduhan terbitnya Perpres mengenai klausul investasi miras ada pada UU 11/2020 tentang Cipta Kerja. Akhirnya UU Cipta Kerja dan ketentuan investasi miras dalam Perpres 10/2021 makin mengonfirmasi bahwa hukum dalam sistem pemerintahan demokrasi mudah diutak-atik sesuai kepentingan. Aturannya lentur dan berubah-ubah, tergantung siapa yang berkuasa dan berkepentingan.

Sudah jelas bagi kita bahwa khamr adalah minuman yang mengandung alkohol dan memabukkan, dan Islam telah tegas melarangnya. Sebagaimana dalam QS. al-Maidah ayat 90-91 yang menyatakan bahwa: “Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya minuman keras, berjudi, berkurban untuk berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka, jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu beruntung. Sesungguhnya setan hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu karena meminum khamr dan berjudi itu dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan salat. Maka, berhentilah kamu dari perbuatan itu.”

Perihal saat ini di masyarakat khamr biasa disebut sebagai miras atau minuman keras. Minuman keras yang memabukkan ini telah diharamkan dalam agama Islam. Dan telah jelas dapat merusak akal manusia dan merusak pikiran bahkan tubuh manusia. Dan yang terparah tentu saja menghantarkan pada kematian yang sia-sia. 

Perjalanan Diharamkannya Khamr

Pada zaman jahiliyah kebiasaan meminum khamr lumrah dilakukan, bahkan sampai mabuk dan menyebabkan perkelahian. Namun saat Islam hadir dengan aturannya mengharamkan khamr dan seiring perjalanannya hingga tegas untuk tidak meminum khamr walaupun sedikit saja. 

Awalnya Allah Swt. hanya menjelaskan bahwa dalam buah kurma dan anggur terdapat suatu zat yang dapat dijadikan sebagai minuman memabukkan dan dapat menjadi rezeki yang baik. Hal itu terdapat dalam QS. an-Nahl ayat 67: “Dan dari buah kurma dan anggur, kamu buat minuman yang memabukkan dan rezeki yang baik. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda bagi orang yang berakal.”

Selanjutnya saat Islam datang, kebiasaan meminum khamr masih dilakukan oleh orang-orang Islam baik saat jamuan atau ada undangan di antara mereka, maka ketersediaan minuman khamr masih ada untuk disuguhkan pada masyarakat.

Sebagaimana yang dicontohkan Abdurrahman bin Auf yang mengundang para sahabat untuk makan di rumahnya. Saat sahabat memenuhi undangan tersebut mereka disuguhi khamr sehingga mereka mabuk. 

Saat kondisi mabuk terdengar suara azan pertanda waktu salat telah tiba.

Para sahabat yang masih terpengaruh minuman khamr tetap mengerjakan salat, namun yang terjadi mereka salat dalam kondisi kacau bacaan salatnya, ada yang terbalik-balik dan tentu saja akan mengubah arti dari makna do’a dalam bacaan salat. 

Sehingga sepulangnya dari sana para sahabat menyampaikan pada Rasulullah saw. tentang kejadian itu, dan tidak lama kemudian turunlah surat an-Nisa ayat 43 yang memerintahkan untuk tidak melaksanakan salat saat sedang mabuk: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu salat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan…”.

Setelah ayat ini turun, kebiasaan orang-orang Islam meminum khamr belum berhenti, yang berbeda adalah saat mendekati jadwal salat maka mereka menghindari untuk tidak meminum khamr. 

Akan tetapi, masalah lain muncul selain ngawurnya dalam bacaan salat saat meminum khamr, terjadi pula masalah perkelahian karena tidak sadarnya sahabat yang dalam kondisi mabuk lantas berbicara ngawur dengan membanggakan kelompoknya dan menghina kelompok Anshar. Ini ketika Utbah bin Malik mengundang para sahabat makan di rumahnya, para sahabat hadir menerima jamuan tersebut, termasuk Saad bin Abi Waqqas. 

Saad yang terpengaruh minuman khamr tidak dapat mengendalikan diri dari perkataan yang menyakiti pemuda Anshar sehingga pemuda Anshar bangkit dan memukul Saad hingga terluka. Akhirnya kejadian itu pun diadukan Saad pada Rasulullah saw. hingga turunlah surat al-Maidah Ayat 90 yang jelas mengharamkan khamr.

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamr, judi, berkorban untuk berhala, mengundi nasib dengan panah adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.”

Pasca turunnya ayat tersebut orang-orang berkata bahwa mereka akan berhenti meminum khamr. Dan sahabat bertanya kepada Rasulullah saw. lantas bagaimana dengan mereka yang telah wafat padahal mereka dulunya suka meminum khamr, maka Rasulullah saw. menyampaikan dalam HR. Ahmad bahwa: “Seandainya dahulu hal itu diharamkan kepada mereka, niscaya mereka meninggalkannya sebagaimana kamu meninggalkannya sekarang.”

Bersegera Meninggalkan Khamr Setelah Jelas Keharamannya

Berkenaan dengan pelarangan khamr, Umar bin Khattab berkhutbah di atas mimbar Rasulullah saw.: “Hai manusia, telah diturunkan ketentuan yang mengharamkan khamr yang terdiri dari lima jenis: anggur, kurma, madu, terigu, dan biji gandum. Khamr adalah sesuatu yang merusak kenormalan akal.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Saat turun ayat pelarangan khamr, sahabat Anas bin Malik sedang memberikan minuman pada orang-orang di rumah Abu Thalhah. Dia memberikan minuman dari perasan kurma basah dan kering. Tiba-tiba ada orang yang datang dan memberitahukan kalau khamr telah diharamkan. Maka, saat itu juga Anas bin Malik membuang khamr tersebut ke Sumur Madinah.

Kisah lainnya saat ketika Rasulullah saw. sedang berkumpul bersama sahabat di masjid setelah turunnya ayat pelarangan khamr, beliau bersabda: “Barangsiapa yang memiliki suatu jenis khamr maka bawalah ke hadapan kami.” Maka salah seorang di antara mereka berkata bahwa ada yang memiliki sekantung, yang lain mengatakan memiliki satu geriba. Dan orang-orang pun berdatangan membawa khamr yang mereka miliki, maka terkumpullah khamr yang banyak di sisi Rasulullah saw. 

Maka Rasulullah saw. bersabda: “Kumpulkanlah di tanah lapang dan dekatkanlah kepadaku.” Kemudian orang-orang pun mengerjakannya, dan beliau berdiri dan berjalan menuju tumpukan khamr dan bersabda: “Kalian benar. Sesungguhnya Allah melaknat khamr, orang yang memerasnya, orang yang minta diperaskannya, orang yang meminumnya, orang yang memberi minumannya, orang yang membawanya, orang meminta dibawakannya, orang yang menjualnya, orang yang membelinya, dan orang yang memakan hasil pengelolaannya.” 

Kemudian Rasulullah meminta pisau dan menyuruh untuk diasah, dan setelahnya Rasulullah saw. mengambil dan menggunakannya untuk menyobek kantung kulit tersebut.

Kembali pada Syariat Islam dan Penjaganya

Telah jelas bagi umat Islam akan haramnya khamr dan apa pun jenis minuman yang dapat memabukkan manusia. Pelarangan ini semata untuk menjaga akal manusia agar tetap dapat berpikir jernih dan wujud menjaga apa yang Allah Swt. titipkan pada kita.

Meninggalkan perkara yang haram ini harus segera dilakukan sebagai wujud keimanan seorang muslim pada Allah Swt. dan apa pun aktivitas yang dapat merusak akal manusia dengan minuman khamr ini harus segera dihentikan dan sesegera mungkin bertobat dan kembali kepada aturan Allah Swt. untuk mewujudkan ketaatan yang sempurna.

Aturan yang baik yakni Islam kini sangat sulit dipahami masyarakat karena gandrungnya pemikiran sekularisme (memisahkan agama dari kehidupan) yang bercokol di negeri tercinta kita. 

Segala macam ajaran yang berbau Islam atau dalam kerangka menjalankan syariat Islam seperti anti untuk diterapkan di negeri yang notabene mayoritas Islam ini.

Maka kita yang mengaku mencintai Allah dan Rasul-Nya, Islam dan ajaran-Nya juga negeri yang dititipkan Allah Swt. ini bagi kita, maka wajib kita jaga dari segala kerusakan, dan nyata sumber kerusakan itu karena tidak diterapkan Islam dan syariat Islam yang cenderung menerapkan aturan buatan manusia yang sudah terbukti akan membuat masyarakat jauh dari kata baik dan sejahtera.

Dan untuk kuatnya penerapan Islam di tengah masyarakat sesungguhnya penting adanya penjaga dan kita mengenal penjaga itu adalah penguasa yang cinta pada Allah Swt. dan Rasul-Nya, yang dia memimpin karena sebab takwa pada Allah Swt., dan sangat memahami bahwa kepemimpinannya akan dimintai pertanggunjawaban di sisi Allah Swt. di akhirat kelak. 

Maka wujud cinta kita pada Islam mendorong kita untuk menerapkan Islam dalam segala keadaan, dan senantiasa menyampaikan kebenaran Islam untuk dapat dirasakan masyarakat luas, tersebab lain karena Islam juga wajib untuk disampaikan agar rahmat Allah dapat tersebar. Yuk, segera taat. Wallahu a’lam bishshawab.