Kewajiban Mengangkat Pemimpin bagi Umat Islam

 


Oleh Ummi Nissa

Penulis Komunitas Muslimah Rindu Surga


Seperti anak ayam kehilangan induknya. Peribahasa ini tepat untuk menggambarkan kondisi umat Islam saat ini. Dimana kaum muslimin tidak lagi memiliki pemimpin yang satu. Berbagai permasalahan pun muncul karenanya. Mulai dari penindasan terhadap kaum muslimin yang minoritas, kemiskinan, kriminalisasi, dan setumpuk permasalahan lain. Umat Islam tak punya tempat untuk mengadukan semua masalahnya, tak ada lagi pemimpin yang mampu melindunginya. 


Lihatlah saudara-saudara muslim di Palestina. Mereka tidak pernah merasakan ketenangan dan kedamaian dalam hidupnya sampai saat ini. Begitu pun apa yang dirasakan umat Islam di Uighur, Rohingya, Pattani, Moro, dan beberapa wilayah lainnya. Mereka dizalimi, dirampas hak-haknya, dikriminalisasi, hidup di kamp-kamp pengungsian. Bahkan ada yang terombang-ambing di lautan untuk lari menyelamatkan diri, sementara kaum muslimin lainnya tidak memiliki kekuatan untuk membela saudaranya. Sebab terhalang oleh pemahaman nasionalisme yang telah dicekokkan penjajah kepada benak umat. 


Kondisi ini telah berlangsung lama. Satu abad sudah umat Islam hidup tanpa memiliki pemimpin. Padahal seorang pemimpin mampu mempersatukan umat yang berbeda-beda. Baik dari sisi bahasa, warna kulit, tempat, bahkan pendapat. Umat tidak akan terpecah belah karena terhalang batas-batas teritorial seperti saat ini.


Begitu pula umat Islam telah kehilangan pemimpin yang mampu menjamin kebutuhan hidupnya. Padahal kekayaan alam begitu melimpah, tetapi tidak mampu untuk menyejahterakan rakyatnya. Ibarat mati kelaparan di lumbung padi. Meskipun di dalam bumi terkandung kekayaan yang tak terbatas, di atas bumi terhampar hutan dengan potensi yang melimpah, begitu pula kekayaan laut yang tidak pernah habis, sebagai karunia Allah Swt. Akan tetapi karena ketiadaan pemimpin juga pengelolaan yang sesuai dengan tuntunan syariat, menjadikan umat menderita kemiskinan. Kekayaan alam hanya dinikmati oleh segelintir orang saja.


Kaum muslimin seharusnya segera sadar akan kondisi saat ini. Semua permasalahan yang terjadi, penyebabnya karena aturan-aturan Allah Swt. telah banyak ditinggalkan. Dan umat pun telah kehilangan pemimpin sebagai pelindungnya. Yang tersisa hanyalah aturan ibadah dan pernikahan, ini pun kerap mendapat penyerangan bertubi dari para pendengki. Umat lebih percaya terhadap aturan manusia yang lemah dan terbatas. Sekulerisme telah mendarah daging dalam jiwa kaum muslimin. Mereka sudah merasa cukup ketika dipimpin oleh pemimpin yang muslim. Akan tetapi rela diatur dengan peraturan yang berasal dari manusia. Bahkan tidak segan-segan menjadi kaki tangan penjajah.


Padahal populasi kaum muslimin di seluruh dunia saat ini mencapai 1,9 miliar. Akan tetapi jumlah yang banyak ini tidak lantas menjadikan umat ini kuat. Bahkan sebaliknya, lemah dan tidak memiliki kekuatan. Seperti buih di lautan, banyak tapi mudah  hancur ketika menabrak karang. Hal ini sebab umat tidak lagi memiliki pemimpin, yang mampu mempersatukan seluruh kaum muslimin di dunia menjadi satu kekuatan yang kokoh. 


Islam merupakan agama yang universal. Diturunkan oleh Allah Swt. melalui Nabi Muhamad saw. untuk seluruh umat manusia di dunia. Aturannya yang sempurna mampu diterapkan di mana pun serta kapan pun sampai  hari akhir. Aturan Islam tetap mampu memecahkan seluruh permasalahan manusia.


Akidahnya menjadi dasar keimanan yang kokoh. Keyakinan pada Allah Swt. yang Maha Pencipta sekaligus Maha Pengatur  akan membentuk ketakwaan individu, agar tetap terikat pada aturan-aturan yang telah ditetapkan.


Masyarakat dalam Islam ibarat satu tubuh. Ketika salah satu anggota tubuh sakit maka yang lainya ikut merasakan sakit. Ketika ada saudaranya kesulitan, atau dizalimi, maka yang lain segera membantu serta memperjuangkan hak-hak saudaranya atas dasar keikhlasan karena Allah Swt. Tidak ada batas teritorial yang memisahkan. Selama akidahnya sama Islam, maka mereka saudara sesama muslim. 


Betapa indahnya hidup dalam masyarakat Islam, budaya amar makruf nahyi mungkar menjadi kebiasaan. Hal ini tidak lain sebagai bukti kasih sayang sesama agar tetap terjaga dan terikat aturan. Kemaksiatan tidak akan dibiarkan terus berkepanjangan karena yakin azab Allah Swt. tidak hanya menimpa pada pelaku kemaksiatan saja. Akan tetapi akan menyeluruh pada seluruh masyarakat ketika tak berupaya mencegahNya. 


Namun demikian aturan Islam dapat sempurna diterapkan, jika ada institusi sebagai wadah pelaksana aturan. Juga pemimpin yang berkewajiban mengurus urusan umat, menjamin seluruh kebutuhan hidupnya, melindunginya dari berbagai ancaman, dan menyebarkan Islam ke seluruh penjuru dunia. 

 

Saat ini umat telah kehilangan pemimpin juga institusi yang melindunginya. Untuk itu mewujudkan adanya pemimpin yang akan melaksanakan aturan-aturan Islam adalah sebuah kewajiban. Dalam Islam menganggkat imam/khalifah adalah fardhu kifayah. Suatu hukum dimana harus direalisasikan oleh seluruh kaum muslimin. 


Seluruh ulama muktabar sepakat akan kewajiban ini. Salah satunya menurut Al-Imam Abu Ishaq asy-Syirazi asy-Syafi'i, dalam Kitab At-Tanbih fi Al-Fiqh.


"Imamah atau khilafah hukumnya adalah fardhu kifayah. Apabila tidak ada yang layak (untuk menjadi imam/khalifah kecuali hanya satu orang saja maka hukumnya menjadi fardhu 'ain bagi orang tersebut, dan wajib atas dirinya untuk memintanya (menjadi imam/khalifah). Apabila dia tidak mau, maka harus dipaksa (agar mau)." 


Hal ini berarti berdosa atas seluruh kaum muslimin jika tidak berupaya mewujudkannya. Apabila tidak ada yang layak (untuk menjadi imam/khalifah) kecuali hanya satu orang saja maka hukumnya menjadi fardhu ‘ain bagi orang tersebut. Sedangkan bagi umat Islam yang lain tetap sebagai fardhu kifayah. Apabila sudah terwujud seorang imam/khalifah yang layak, berikut wilayah kekuasaan dan jaminan keamanan di tangan kaum muslimin, maka gugur kewajiban tersebut dari umat Islam. Oleh karenanya wajib bagi umat Islam mencari jalan agar dapat merealisasikan keduanya. Yakni adanya khalifah/imam  dan institusi khilafah. Tentu dengan jalan yang dibenarkan syara.


Dengan demikian, kondisi umat yang terpuruk harus diubah menjadi kondisi yang lebih baik. Sebagaimana yang telah terjadi di masa lalu. Umat Islam menjadi umat terbaik di dunia. Untuk itu aktivitas perubahan umat mesti diarahkan untuk terwujudnya kepemimpinan Islam, yang akan menerapkan aturan-aturannya secara kaffah, serta mempersatukan seluruh umat Islam di berbagai wilayah di dunia. Di pundaknya kewajiban melindungi dan mengurusi umat. Karena Allah Swt. akan meminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Pemimpin dalam Islam yang memiliki keberanian untuk menyebarkan Islam agar menjadi rahmat  ke seluruh umat dan bangsa di dunia.

 

Wallahu 'alam bishshawab.