Oleh Sri Mardiantini 

(Muslimah Peduli Umat)


Dalam rangka memperingati Hari Perempuan Sedunia 8 Maret ini dihadiri puluhan perempuan dari DPC Perempuan Bangsa Kabupaten Bandung, sebagai organisasi sayap Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Kegiatan dilaksanakan dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

“Kita lihat keterwakilan perempuan di DPRD Kabupaten Bandung saja sekarang tinggal sembilan orang, menurun dari yang sebelumnya 13 orang. Tentunya ini akan berdampak pada kurang tersampaikannya apa yang menjadi aspirasi perempuan Kabupaten Bandung,” kata Emma Dety Supriatna istri bupati Kabupaten Bandung terpilih.

Menurut mantan Kepala Desa Tegalluar, Bojongsoang ini, tidak menutup kemungkinan bagi anggota Perempuan Bangsa yang hadir, ada yang bisa menjadi kepala desa seperti dirinya, atau menjadi anggota DPRD Kabupaten Bandung. Juga beliau menyayangkan terjadinya penurunan politisi perempuan yang menduduki kursi di DPRD Kabupaten Bandung. 

Dari fakta di atas dapat kita lihat bahwa pemerintah mendorong perempuan untuk berpolitik dan berhasil menduduki kursi di DPR atau DPRD dengan tujuan agar dapat menyampaikan aspirasi perempuan pada memerintahkan ini adalah teori pada praktiknya ternyata dapat kita rasakan sendiri bagaimana kaum perempuan tambah ke sini malah tambah tidak dihargai, terjadi pelecehan secara seksual ataupun secara verbal, tidak jarang malah terjadi pemerkosaan, hak-hak perempuan sebagai sesosok yang harus dilindungi dicampakkan. Yang tadinya posisi perempuan sebagai tulang rusuk malah menjadi tulang punggung.  Malahan sekarang yang terjadi wanita itu di samping menjadi seorang istri yang taat kepada suami juga harus menjadi pencari nafkah secara bersamaan ini jelas melanggar fitrah seorang perempuan. 

Bagaimana ini bisa terjadi tidak lain dan tidak bukan karena gerakan feminimisme yang mendorong paham emansipasi wanita, yang mensejajarkan wanita dengan laki laki. Gerakan ini lahir dari paham liberalisme/kebebasan yaitu kebebasan berpendapat. Sejarah  feminisme berasal dari masyarakat Eropa abad pertengahan dimana pada saat itu wanita dianggap sebagai titisan setan, maka wanita tidak diberi hak dan kebebasan bahkan wanita boleh diperlakukan secara semena mena. Maka para wanita ketika awal abad ke-19 berontak menginginkan diperlakukan selayaknya laki-laki lahirlah gerakan feminisme. Berbeda ketika di Arab pada abad pertengahan ketika Islam berjaya justru kaum perempuan derajatnya ditinggikan. Dimana para perempuan dihormati, dilindungi, dinafkahi mempunyai hak berpendapat yang sama dengan laki-laki. Jika ada laki- aki jangankan melecehkan berlaku semena-mena  akan dihukum oleh negara dengan hukuman yang berat. Maka sungguh mengherankan jika sekarang banyak orang yang berfaham feminisme tapi mencap Islam sebagai agama yang mengekang perempuan berarti mereka buta sejarah islam.  

Feminisme menarik perempuan dan generasi muda untuk ramai-ramai berpolitik praktis (sekuler) menghadang laju penerapan syariat kafah melalui berbagai peraturan perundangan. Feminisme telah mem-brainwashing remaja dan muslimah untuk menelan mentah-mentah akidah sekularisme yang batil. Targetnya remaja dan muslimah menjadi pasukan pejuang gender equality yang anti syariat kafah. Feminisme bagaikan serigala berbulu domba sepertinya memperjuangkan hak hak perempuan padahal justru menjerumuskan kaum muslimah untuk memerangi syariat Islam.

Perhatikan dengan teliti gagasan moderasi agama, salah satunya melalui pendidikan “ulama perempuan” versi feminisme. Mereka akan dididik untuk menafsirkan ulang nas-nas dengan menafsirkan ulang kaidah-kaidah pokok (qawa’id ushul). Feminisme telah lancang memukul agama (Islam) dengan mengeksploitasi agama. 

Sesungguhnya hanya Islam yang menjamin kesejahteraan perempuan. Allah telah menetapkan aturan-aturan dalam Islam yang memuliakan dan juga melindungi perempuan, serta memberikan hak-hak kepada perempuan dalam mengarungi kehidupan.

Islam menetapkan kemuliaan manusia hanya dari ketakwaannya kepada Allah Swt. sebagaimana firman Allah dalam surah al-Hujurat ayat 13. Islam juga menjamin penafkahan perempuan dengan berbagai mekanisme, sehingga perempuan dapat menjalankan fungsinya sebagai istri, ibu dan pendidik generasi dengan optimal. Maka perempuan dapat hidup sejahtera tanpa harus bekerja untuk menafkahi dirinya. Tapi Islam juga memperbolehkan perempuan untuk bekerja hanya mengamalkan ilmu yang dia dapat tanpa meninggalkan kewajibannya sebagai ummu warobatul bait. Benar adanya Islam mengharamkan perempuan untuk menjadi penguasa, namun bukan berarti merendahkan kaum perempuan karena Islam membolehkan perempuan berkiprah dalam berbagai bidang di luar kekuasaan, bahkan juga boleh memimpinnya. Islam juga memperbolehkan perempuan untuk perpolitikan menyampaikan aspirasinya di majelis ummat. Mempunyai hak untuk memilih pemimpin dan mempunyai hak untuk mengingatkan penguasa. Tapi bukan politik kotor yang sekarang tapi politik yang sesuai dengan syariat Islam yaitu politik untuk meriayah/mengurusi kepentingan umat bukan politik yang berebut kursi untuk mendapatkan proyek yang menguntungkan dirinya dan partainya. Maka ayo kita kembali ke aturan Islam yang diajarkan oleh Rasulullah yaitu syariat Islam. 

Wallahu a'lam bishshawab.

 
Top