Oleh Hamsina Halisi Alfatih


Awal abad ke-14 merupakan masa kelahiran Kekhalifahan Utsmani. Sebuah kerajaan yang berpusat di Turki modern dan pernah berkuasa hingga selatan Eropa, barat Asia, dan utara Afrika. Sementara pada awal abad ke-20 adalah masa keruntuhannya. Pangkal tragedi tak hanya bersumbu dari gerakan nasionalis Turki, namun juga serangan kekuatan-kekuatan baru maupun lama di sekitar kerajaan.

Historis kelam semenjak runtuhnya khilafah tahun 1924 masehi atau 1342 hijriyah, nation state mencabik-cabik negeri Islam. Penjajahan Barat semakin menunjukkan taringnya hingga melebarkan kekuasaan mereka sebagai penguasa kapitalis. 

Keadaan pun berbeda secara drastis. Apa yang menimpa kaum muslim setelah runtuhnya kekhalifahan Turki Utsmaniyah, pemikiran umat mulai rusak hingga tersusupnya paham sekularisme, liberalisme, feminisme, pluralisme dan paham lainnya. Tak kalah menyayat hati, jajahan Barat tak diam mengoyak, menjarah dan menggasak kekayaan alam (SDA) negeri-negeri Islam hingga umat harus hidup dalam kemiskinan dan keterjajahan.

Hilangnya perisai umat yakni khilafah, tak hanya membuat kaum muslim tercokoli oleh pemikiran asing serta direnggutnya SDA mereka. Petaka runtuhnya khilafah 1924 membuat kaum muslim harus hidup dalam penindasan kafir Barat. Sebagaimana yang diderita oleh kaum muslim di Palestina, Suriah, Afganistan, Rohingya dan negeri kaum muslim lainnya.

Penindasan serta keterjajahan yang menimpa kaum muslim hingga saat ini sejatinya adalah tak terlepas pula dari lahirnya paradigma pemimpin negeri-negeri muslim yang tak mampu menunjukkan sikap tegas mereka terhadap penguasa kapitalis. Kenyataan ini adalah pangkal kecil mengapa kaum muslim semakin dijajah serta mengalami kemunduran dalam berpikir.

Betapa saat ini kapitalisme sekularisme telah menguasai kehidupan umat. Liberalisme telah menjadi corong lahirnya perbuatan yang menabrak syariat seperti feminisme, LGBT dan kesetaraan gender. Sayangnya, kerusakan yang dilahirkan oleh sistem rusak tersebut semakin tak membuat sebagian umat menyadarinya. Inilah kemunduran umat dalam berpikir, akidah mulai melenceng dan lebih mengikuti tabiat dari ajaran nenek moyang. Parahnya sistem rusak ini masih diagungkan oleh mereka yang tak lain haus dan gila akan kekuasaan.

Dalam moment Rajab 1442H ini, tepat 1 abad atau 100 tahun lamanya umat hidup tanpa khilafah. Hilangnya perisai umat telah menggambarkan rentetan peristiwa berdarah di berbagai belahan dunia. Hal ini kemudian menjadi kecamuk di benak umat untuk memperjuangkan kembali tegaknya khilafah sebagai benteng perlindungan umat.

Khilafah adalah negara yang dinaungi oleh sistem Islam sebagai institusi yang menerapkan aturan atau syariat Islam secara kafah. Sistem pemerintahan khilafah yang menerapkan Islam sebagai ideologi, syariat sebagai dasar hukum, serta mengikuti cara kepemimpinan Nabi Muhammad dan Khulafaur Rasyidin dalam menjalankan pemerintahannya.

Kesempurnaan Islam di bawah sistem pemerintahan Islam yakni khilafah, dapat kita saksikan sebagaimana telah  melebarkan sayap kekuasaannya sebagai perisai bagi umat Islam serta menjaga kemuliaan kaum muslim dan melindungi mereka dari marabahaya. Hal itu terus berlangsung sepanjang eksistensi kekuasaan Islam selama 14 abad lamanya.

Historis keemasan Islam ini tergambar ketika Khilafah Utsmaniyah berperan penting memberikan keamanan bagi perjalanan para jemaah haji dengan menempatkan armada laut di laut Hindia. Khilafah Utsmaniyah juga mengirim bantuan personel pasukan termasuk ahli teknik dan senjata, berikut senjata, meriam dan kapal yang dipimpin laksamana Kurtoglu Hizir Reis ke Kesultanan Aceh untuk bersama-sama melawan dan mengalahkan penjajah Portugis.

Sungguh fakta sejarah itu sangat berbeda dengan kondisi umat Islam saat ini. Tak sedikit umat Islam yang diusir, disiksa bahkan dibunuh di berbagai tempat. Rohingya, Uighur, Suriah, Palestina, beberapa bagian Afrika, dan lainnya adalah saksi kekejaman penjajahan Barat yang telah merenggut kehormatan serta kemuliaan kaum muslim. Namun sayang, saat ini tidak ada yang mampu membela dan melindungi mereka. Apa yang menimpa kaum muslim saat ini adalah akibat lahirnya nation state serta hilangnya kekuasaan Islam.

Oleh karena itu, harapan umat saat ini adalah kembalinya khilafah sebagai junnah yang melindungi kaum muslim dari segala bentuk penindasan. Sebagaimana dalam sabda Rasulullah saw.:

«إِنَّمَا اْلإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ »

Artinya: "Sungguh Imam (Khalifah) itu laksana perisai (junnah); orang-orang berperang mengikuti dia dan berlindung kepada dirinya." (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahîh Muslim menjelaskan bahwa Imam (Khalifah) adalah junnah (perisai), yakni seperti penghalang. Ia berfungsi menghalangi musuh menyerang kaum muslim, menghalangi sebagian masyarakat menyerang sebagian yang lain, melindungi kemurnian Islam dan orang-orang berlindung kepadanya.

Sungguh hanya Khilafah Islamiyah yang tak hanya mampu menerapkan syariat Islam secara kafah tetapi juga sebagai junnah/perisai umat. Melindungi kaum muslim dari segala bentuk penindasan dan menjaga kehormatan serta kemuliaan mereka. Wallahu a'lam bishshawab.

 
Top