Kematian dalam Pandangan Sistem


Oleh Lismawati

(Mahasiswi dan Praktisi Pendidikan)


Setiap kehidupan akan selalu dipertemukan dengan yang namanya akhir. Sebagaimana akhir kehidupan ini adalah pada kematian setiap orang. Tidak selalu tentang tua dan sakit pasti mati. Yang muda, sehat, serta melakukan baik dan buruk pun akan mati.

Semua ini tentang batas waktu yang telah dituliskan oleh Sang Pencipta dalam Lauh Mahfudz-Nya. Pendek ataukah panjangnya usia setiap manusia bergantung pada apa yang telah Allah rencanakan. Meski manusia pun juga berencana terhadap kehidupannya.

وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ اَنْ تَمُوْتَ اِلَّا بِاِذْنِ اللّٰهِ كِتٰبًا مُّؤَجَّلًا

"Setiap yang bernyawa tidak akan mati kecuali dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya." ( QS. Ali Imran: 145).

Belumlah terlalu jauh bila kita lihat posisi umat Islam saat ini. Mereka hidup dengan mencintai dunia. Materialis menjadi makanan sehari-hari. Bila tidak seperti itu, bagaimana mereka dapat bertahan hidup di bawah kejamnya kapitalisme? Sulit.

Tidak ada makan siang gratis. Mungkin ini pepatah yang telah tren di kalangan umat muslim. Sehingga membentuk mereka mencintai materi dan benci dengan kematian. Mengganggap bahwa kematian hanya sebuah lelucon yang ada di sebuah kartun. Akhir kehidupan menjadi dongeng kala mereka akan tidur.

Wajar bila hal ini menggerogoti umat Islam saat ini. Karena penghidupan yang begitu sempit. Serta banyaknya hal yang harus mereka pertahankan di sistem yang tidak pernah berpihak pada mereka. Pada akhirnya, mereka tersibukkan dengan urusan dunia dan lupa kematian.

Si miskin kesana-kemari mencari materi. Si kaya sibuk menumpuk harta untuk dirinya sendiri. Lupa bahwa akhir dari kehidupannya bisa jadi dekat. Namun ia tidaklah tampak seperti alarm yang akan berbunyi memperingati kita. Sehingga hidup di bawah naungan kapitalistik menjadikan mereka mengerjar dunia. Tidak ada makan siang gratis.

Ada beberapa karakter pandangan manusia yang hidup di dunia ini, yaitu:

Pertama, mereka yang mengetahui kematian namun menolaknya. Manusia yang seperti ini takut dengan hilangnya semua yang ia miliki atau sesuatu yang belum ia miliki. Ia mengetahui bahwa mati akan datang namun menolaknya berharap kehidupannya abadan. Inilah pandangan kematian oleh sistem kapitalisme.

Kedua, mereka yang mengetahui dan mencoba menerimanya. Yaitu ketika ia memahami bahwa setiap kehidupan akan menemui akhir dengan kematian. Maka ia mengetahui bahwa mati adalah kepastian setiap makhluk. Sehingga tidak perlu menolaknya dan menerimanya. 

Ketiga, mereka yang mengetahui, menerima serta mempersiapkannya. Bagi orang-orang seperti ini, kehidupan dunia hanya sebuah jembatan kepada kehidupan sesungguhnya. Meski penghidupan sempit mereka akan terus berupaya melakukan dan mempersiapkan bekal untuk kembali pada keabadian.

Hakikat sebuah kematian adalah pasti. Meski kesulitan, kesempitan hidup dirasakan di sistem buruk hari ini. Tidak akan dapat menunda, mengundur ataupun mempercepat datangnya mati. Karena itu adalah hak prerogatif Allah Sang Maha Esa. Manusia pun tidak akan dapat hidup untuk waktu yang abadi.

Meski kehidupan begitu buruk dan tidak adil dalam bingkai kapitalisme. Dan hidup yang terasa sibuk untuk hanya mencari materi. Maka perbaiki kembali pemahaman kita. Bahwa kehidupan ini hanya akan berujung kematian. Sehingga mempersiapkan bekal terbaik itu yang wajib dilakukan. 

Dalam sejarah sistem Islam, kaum muslimin justru mencari kematian itu dengan jihad. Dalam kehidupan dunia pun hanya mengambil sedikit materi karena memahami hakikat hidup yang sebenarnya. Hal ini erat dengan penanaman akidah yang terus menerus dilakukan oleh khalifah dalam sejarah kekhilafahan.

Mereka memahami kematian akan datang kapan saja. Dan tidak takut dengan kematian. Mereka mendekatkan mati seolah ada dalam pelupuk mata sehingga selalu bercucuran air mata dalam salat. Sungguh, kematian seperti apa yang akan kita pilih. Dan bekal apa yang telah kita siapkan? Semoga bekal terbaik yang kita persembahkan ketika bertemu kematian.

"Setiap yang berjiwa akan merasakan mati, dan hanyalah di hari kiamat akan diberikan semua pahalanya. Barang siap yang dijauhkan dari neraka dan dimasukan ke dalam surga, sungguh mendapatkan kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang menipu." (QS. Ali Imran: 185).

Wallahu a'lam bishshawab.