Kapitalisme Melenyapkan Sumber Daya Alam



Oleh  Siti Hajar 

(Aktivis Dakwah Islam) 


Masih segar dalam ingatan waktu sekolah dulu diajarkan tentang UUD 1945 beserta pasal-pasalnya. Salah satunya adalah pasal 33 ayat 3 yang berbunyi ”Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”. 


Dengan ini maka jelas bahwa, sejak merdeka cita-cita negara tentang sumber daya alam adalah mengelolanya sendiri dengan baik yang hasilnya digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Namun, sangat perlu untuk dilihat kembali sudah kah jalan dari cita-cita itu ditempuh ? Sudah kah rakyat sebagai pemegang kedaulatan benar-benar merasakan hasilnya ?


Kenyataannya hari ini adalah hampir seluruh sumber daya alam yang ada dikelola oleh asing dan swasta, sedang pemerintah hanya berperan sebagai regulator. Maka jelas keuntungannya hanya untuk mereka yang mengelola dan untuk individu atau kelompok tertentu yang ikut andil didalamnya, sedang rakyat hanya mendapat sisanya. Jelas saja masih banyak masyarakat yang hidupnya sangat sulit, masih banyak anak-anak yang kurang gizi meski hari gizi sudah diperingati bertahun-tahun.  


Disisi lain kasus kerusakan dan bencana ekologi terus terjadi, tanah menjadi rusak, hutan menjadi gundul, hewan kehilangan tempat tinggalnya yang bisa menyebabkan dia mengganggu atau membunuh manusia, air kehilangan rumahnya maka banjir terjadi besar-besaran, tanah menjadi longsor, tempat tinggal warga sekitar menjadi tercemar, dan masih banyak lagi lainnya.


"Berdasarkan data Global Footprint Network tahun 2020, Indonesia mengalami defisit ekologi sebanyak 42%. Angka ini menunjukkan, konsumsi terhadap sumberdaya lebih tinggi daripada yang saat ini tersedia dan akan menyebabkan daya dukung alam terus berkurang" Media Indonesia (11/02/21)


Jelas saja kerusakan dan bencana ekologi semakin nampak dan semakin sering terjadi, semua karena kebijakan pengelolaan SDA yang eksploitatif.

Penambangan besar-besaran terjadi dimana-mana hampir tidak ada kota yang tidak terjamah tambang, perkebunan sawit semakin meluas. kalau saja kebijakan pengelolaan SDA tidak eksploitatif tentu kerusakan ekologi tidak akan terjadi dengan begitu parah. Namun apa daya, begitulah realitas hidup dalam sistem kapitalisme yang hanya bersandar pada asas manfaat dan keuntungan, tidak peduli rakyat apalagi alam.

Merasakan semua ketimpangan yang terjadi, rasanya tidak mungkin untuk tetap bertahan dalam sistem kapitalisme. Karena itu, sudah saatnya untuk kembali pada sistem Islam yang merupakan rahmat bagi seluruh alam.


Islam melarang sumber daya alam dimiliki dan dikelola oleh individu atau kelompok tertentu, karena sumber Ddya alam dalam Islam adalah milik seluruh umat yang harus benar-benar dikelola dengan baik oleh gegara agar seluruh manusia bisa merasakan hasilnya. Nabi Muhammad saw. bersabda "Kaum Muslim berserikat dalam tiga perkara yaitu padang rumput, air dan api" (HR. Abu Dawud, Ahmad, Al-Baihaqi, dan Ibn Abi Syaibah)


Tentu sumber daya alam dalam Islam tidak akan dikelola secara eksploitatif, karena Islam mengatur manusia bukan berdasar untung rugi semata tetapi berdasarkan kebaikan dan keadilan untuk semua makhluk. Dunia akan menjadi lebih baik dengan penerapan sistem Islam dalam naungannNegara khilafah.


Wallahu'alam