Aksentuasi Isra Mi'raj


Oleh Hasni Tagili

(Aktivis Perempuan Konawe, Sulawesi Tenggara)


“Maha Suci Allah Swt. yang telah memperjalankan hamba-Nya di suatu malam dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa dan telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar Lagi Maha Mengetahui.” (TQS. Isra: 1).

Peristiwa Isra dan Mi'raj identik dengan perjalanan spiritual Rasulullah saw. dalam menerima perintah salat lima waktu. Namun, jika ditelisik lebih jauh, ada penitikberatan opini yang lebih dari itu.

Pertama, penghadiran semangat baru. Ya, perjalanan yang dilakukan oleh Rasulullah ini terjadi sesudah beliau mengalami berbagai peristiwa menyedihkan. Tahun-tahun kehilangan. Satu per satu tumpuan dipanggil pulang. Alhamdulillah, setelah perjalanan tersebut, semangat baru dalam diri Rasulullah dan kaum muslim kembali membara. Beliau menawarkan Islam dengan penuh semangat dan optimis kepada suku-suku dan para delegasi yang datang berhaji ke Mekkah.

Kedua, gambaran kekokohan sistem pemerintahan Islam. Dalam peristiwa Isra, ketika Rasulullah saw. di Masjidil Aqsa, beliau salat 2 rakaat sebagai imam dengan memimpin para nabi dari berbagai bangsa dan warna kulit (lihat HR. Muslim No. 162). Hal ini menunjukkan bahwa kelak negara yang dibangun oleh Rasulullah saw. akan melingkupi berbagai bangsa dan warna kulit, baik bangsa Arab maupun non Arab. Pun, hal tersebut sudah pernah terbukti dan insyaallah akan terbukti sekali lagi.

Ketiga, perubahan politik secara fundamental. Setelah melaksanakan salat berjemaah di Baitul Maqdis, selanjutnya Rasulullah saw. ditawari gelas berisi anggur dan susu. Baginda pun lebih memilih susu daripada anggur sebagai tanda, sekaligus sebagai simbol antara jalan asketisme dan hedonisme. Pilihan Rasulullah tersebut mencerminkan fitrah. Mengandung makna bahwa sistem kehidupan yang diturunkan kepada Rasulullah, yang akan dibangun negara di atasnya, adalah sesuatu yang sesuai dengan fitrah manusia.

Tampilnya Rasulullah sebagai imam bersama para nabi menunjukkan perubahan politik yang mendasar. Manifestasi penyerahan kepemimpinan kepada umat Muhammad saw. Pun, secara prospektif, hal ini menunjukkan bahwa kelak Baitul Maqdis akan menjadi bagian dari kekuasaan negara Islam, yang merupakan cikal-bakal peradaban gemilang.

Betapa tidak, sesudah peristiwa Isra dan Mi’raj, Rasulullah saw. hijrah dan mendirikan negara Islam pertama di Madinah. Inilah salah satu perubahan mendasar yang telah terwujud saat itu dan sekali lagi, insyaallah, akan terwujud secara sempurna dalam bentuk Khilafah ala' minhajin nubuwah yang kedua. Tegaknya, tidak lama lagi. 

“Di tengah-tengah kalian ada zaman Kenabian. Atas kehendak Allah Swt. zaman itu akan tetap ada. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak. Kemudian, akan ada Khilafah yang mengikuti manhaj Kenabian. Khilafah itu akan tetap ada sesuai kehendak Allah. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak. Kemudian, akan ada kekuasaan yang zalim. Kekuasaan zalim tersebut akan tetap ada sesuai kehendak-Nya. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak. Kemudian, akan ada kekuasaan diktator yang menyengsarakan. Kekuasaan tersebut akan tetap ada sesuai kehendak Allah. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak. Kemudian, akan muncul kembali Khilafah yang mengikuti manhaj Kenabian.” Kemudian Rasulullah saw. diam. (HR. Ahmad dan al-Bazzar). Wallahu a'lam.