ISRA’ MI’RAJ DAN SERATUS TAHUN KERUNTUHAN KHILAFAH



Oleh Yusseva

Isra’ Mi'raj merupakan salah satu peristiwa penting bersejarah bagi umat Islam yang mengisahkan perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW. Peristiwa ini diperingati setiap tanggal 28 bulan Rajab dalam kalender Islam, sedangkan dalam kalender Masehi jatuh pada tanggal 12 Maret 2021.

Dalam abad kekinian, sering kita mendengar istilah satelit atau sputnik, yaitu kendaraan ruang angkasa yang diluncurkan menuju bulan dan planetnya di dalam kelompok matahari. Persitiwa satelit atau sputnik itu merupakan hasil kecerdasan otak manusia sekaligus merupakan alat terpenting dalam mencapai kemajuan lahir ke arah pengetahuan dan teknologi.

Pada abad ke-7 atau sekitar 1400 tahun silam, kita juga mendengar suatu peristiwa maha hebat dari tanah Arab. 

Persitiwa itu jauh lebih mengagumkan dari satelit ataupun sputik dan benda-benda langit lainnya. Peristiwa itu dinamakan Isra Mi’raj Nabi Muhammad saw. Nabi Muhammad tidak saja menembus ruang angkasa di sekitar bulan, bahkan sudah meluncur ke ufuk yang tertinggi , melalui sistem planet, menerobos ruang langit yang luas, berlanjut terus ke gugusan Bintang Bima Sakti, meningkat kemudian mengarungi Semesta Alam hingga sampai di ruang yang dibatasi oleh ruang yang tak terbatas. Kemudian sampailah Rasulullah Muhammad saw pada ruang yang mutlak yang dinamakan “Maha Ruang”. Inilah yang disebut “Dan dia Nabi Muhammad di ufuk yang tertinggi” 

Peristiwa luar biasa ini kontan membuat kontroversi di masyarakat. Ada masyarakat yang mencemooh; kebanyakan dari mereka orang kafir. Mereka menggemboskan isu bahwa Muhammad telah gila. Kelompok kedua adalah mereka yang ragu-ragu. Mereka terbawa oleh suasana kontradiksi, mau percaya kok rasanya berita itu tidak masuk akal. Tapi ngga percaya, kan Muhammad tidak pernah berbohong. Kelompok ketiga adalah mereka yang begitu yakin akan ke-Rasulan Muhammad. 

Perjalanan yang kontroversial ini pun bagi mereka justru meningkatkan kayakinannya bahwa beliau benar-benar utusan Allah.

Lantas bagaimana dengan kita? Termasuk golongan yang mana: tidak yakin, ragu-ragu, atau yakin? Alternatif dari jawaban itu adalah bahwa kita harus yakin dengan di-Isra’-kan dan di-Mi’raj-kannya Muhammad, sekaligus meyakinkan kaum peragu bahwa peristiwa ini pun masuk akal, logis, dan rasional. Sebab, bisa dibuktikan secara empiris dalam ilmu pengetahuan modern.

Isra’ Mi’raj juga dikisahkan sebagai sebuah perjalanan yang melibatkan fisik dan rohani (spiritual) yang bersumber dari al-Qur'an surah al-Isra dan hadis Nabi Muhammad saw. sehingga peristiwa Isra’ Mi’raj ini bisa dikatakan sebagai mukjizat yang pernah dialami Rasulullah Muhammad saw. Artinya peristiwa ini mengabaikan  hukum alam (sunnatullah) dan tidak berlaku setiap pertanyaan dan keterangan; Bagaimana Rasulullah saw. mampu menempuh jarak yang sangat jauh hanya dalam hitungan detik? Bagaimana tubuh Beliau yang mulia tahan dengan suhu badan yang mengkhawatirkan akibat gesekan tubuh beliau dengan udara?

 Bagaimana beliau hidup tanpa oksigen setelah Beliau melewati atmosfir yang mengelilingi bumi? Beribu-ribu pertanyaan bermunculan.

Setiap mukjizat yang terjadi pada Nabi tidak dapat dipungkiri bahwa ia memiliki tujuan khusus yang tercermin pada pengaruh yang ditinggalkannya. Artinya kita tidak boleh melewatkan peristiwa yang penting ini tanpa merenungi dan memahami dimensi-dimensinya. 

Peristiwa Isra’ dan Mi’raj ini merupakan ujian dari Allah Swt kepada manusia sehingga dengannya berimanlah orang-orang yang beriman dan berdustalah orang-orang yang berdusta. Peristiwa itu terjadi setahun sebelum hijrah yakni setahun sebelum diproklamirkan berdirinya daulah Islam. 

Namun sayangnya pada tanggal 3 Maret 1924 M khilafah Islamiyah secara resmi dihapuskan oleh Mustafa Kemal Attaturk seorang Yahudi agen Inggris, menandai 97 tahun silam atau 100 tahun berdasarkan hitungan tahun Hijrah, Dunia Islam hidup tanpa naungan sentral kepemimpinan. Hilangnya sistem Khilafah berarti hilangnya sebuah peradaban Islam yang menyatukan Dunia Islam di bawah satu kepemimpinan berlandaskan syariat Islam selama tidak kurang dari 14 abad. Hilangnya sistem Khilafah juga berarti hilangnya Negara Islam yang menurut Dr. Yusuf Qaradhawi, merupakan perwujudan dari ideologi Islam.

Penghapusan sistem khilafah yang dilakukan oleh Mustafa Kemal Attaturk merupakan sebuah pengkhianatan total terhadap Islam itu sendiri. Pasalnya, Islam tegak secara sempurna dengan Khilafah. Para ulama menyebut Khilafah sebagai taj al-furudh (mahkota kewajiban). Dengan Khilafah, semua kewajiban di dalam agama Islam akan tertunaikan. Tanpa Khilafah, syariah Islam tak bisa diterapkan secara kafah. Tanpa Khilafah, bahkan penyebaran risalah Islam ke seluruh dunia dengan dakwah dan jihad fi sabilillah terhenti.

Sebagai akibat yang menimpa umat Islam di seluruh dunia karena ketiadaan imam atau khalifah, sebagai penjaga bagi umat Islam, diantaranya umat Islam hidup terpecah-belah dan terpisah-pisah lebih dari 50 negara atas dasar nasionalisme. Akibatnya, kaum muslim menjadi lemah walaupun secara jumlah sangat besar. Dengan begitu, mereka menjadi santapan empuk negara-negara imperialis Barat. Demikianlah yang menimpa saudara-saudara kita di Palestina, Kashmir, Afghanistan, Irak, Muslim Rohingnya, dan wilayah lainnya. Walaupun berjumlah banyak, umat Islam tampak tidak berdaya menghadapi Barat. Sebabnya, mereka tidak bersatu; hidup terpisah-pisah oleh batas-batas nasionalisme dan nation-state.

Kini, sudah 100 tahun tragedi itu terjadi (1342 H-1442 H), dan kehancuran institusi khilafah adalah sebuah episode sejarah umat Islam yang paling tragis, memilukan dan menyakitkan. Betapa tidak, pasca kejadian itu terjadilah malapetaka yang tak berkesudahan sampai saat ini, umat Islam kehilangan jati diri “bagaikan ayam yang kehilangan induknya, bahkan tidak punya rumah pula".

 Umat Islam yang dahulu bersatu di bawah penerapan syariat Islam secara total dengan al-Qur’an sebagai dasar negara, kini berada dalam perpecahan yang luar biasa menyedihkan. Umat Islam yang dahulu disegani dan dihormati, saat ini tidak lebih menjadi target penjajahan dan penjarahan oleh imperialis Barat.

Hancurnya kekhilafahan Islam telah menghancurkan pula sebagian besar hukum Allah di muka bumi. Saat ini, syariat Islam nyaris musnah dari realitas kehidupan yang mana Islam hanya dijadikan sebagai ibadah ritual semata, sementara yang lain mengadopsi hukum jajahan Barat.

 Akibatnya, manusia beralih menggunakan sistem fasad (rusak), sistem yang penuh dengan kontradiksi, konflik kepentingan dan pragmatisme yang menyebabkan kaum Muslim menjadi terbelakang, terjajah, menjadi umat yang bergantung pada asing dan banyak lagi duka nestapa lainnya.

Oleh karena itu, perjuangan menegakkan kembali khilafah saat ini sangatlah relevan. Sebab tegaknya kembali khilafah akan mengembalikan umat Islam pada posisi yang semestinya sebagai khairu ummah dan penyebar rahmatan lil alamin.

 Perjuangan tersebut, tentu diawali dengan membangkitkan potensi utama umat, yakni kebangkitan taraf berpikir menuju keyakinan yang shahih yang dibangun dengan akidah Islam. Karena perjuangan ini bukan sekadar kemestian secara realitas, namun harus didorong oleh keyakinan akan perintah dari Sang Pencipta, Allah Swt.
Wallahu ‘alam bishawab