Islam Cipta Pemuda Sumber Perubahan Bukan Kerusakan



Oleh Tri Silvia 

(Pemerhati Masyarakat) 


Lagi-lagi masyarakat kota Tangerang dihebohkan dengan penangkapan 10 dari total 50 remaja yang diduga hendak membahayakan masyarakat di kawasan Jembatan Merah, Kecamatan Tangerang pada Minggu (28/2/2021) dini hari. Para remaja dengan inisial RMJ, APR, MRP, IDM, TB, ML, MSM, WR, SJ, dan MSM ini ditangkap beserta barang bukti berupa satu buah busur dengan lima anak panah, 21 celurit, tiga golok, dan tiga stik golf. 


Adapun mereka berkumpul berdasarkan undangan yang disebar secara online melalui media sosial. Undangan tersebut ditujukan kepada kelompok remaja lainnya untuk bersama-sama melakukan aksi tawuran serta memproduksi konten anarkis yang bersifat provokatif. Dan yang lebih menyeramkan adalah bahwa mereka tak hanya menjadikan kelompok tertentu saja sebagai sasaran, melainkan juga kerap melukai masyarakat secara acak (random) di jalanan. (Tangerangnews, 4/3/2021)


Mengerikan, inilah kondisi para pemuda saat ini. Sebenarnya hal semacam ini tak hanya terjadi di wilayah kota Tangerang saja melainkan juga terjadi di berbagai wilayah negeri ini. Dan tak hanya di Indonesia, hal tersebut pun terjadi hampir di seluruh dunia. Pemuda yang harusnya jadi sumber perubahan, kini justru terkesan tidak terdidik dan gemar berbuat kerusakan. Mau jadi apa negeri ini jika para pemudanya, yang notebene merupakan penerus generasi justru bersikap anarkis dan cenderung merusak juga melukai.


Berdalih adanya kondisi pandemi, dimana banyak aktivitas fisik mereka yang dibatasi. Para pemuda saat ini cenderung merasa jenuh dan butuh media pelampiasan. Alih-alih melakukan hal yang kreatif dan produktif, mereka justru bersikap destruktif dan mengajak pemuda lainnya untuk melakukan hal yang sama. Mereka menganggap bahwa kekerasan merupakan media yang menyenangkan dan mampu memuaskan serta menghilangkan kejenuhan mereka.


Kira-kira seperti itulah kondisi pemuda di era kapitalis ini. Sikap brutal, mementingkan ego pribadi dan pencarian jati diri merupakan hal yang dominan sekaligus menjadi pemakluman untuk mereka berbuat sesuka hati, tak peduli apakah sikapnya itu akan membawa bahaya dan kerusakan bagi orang lain ataukah tidak. Selain itu, mereka pun cenderung individualis dan mengagung-agungkan sikap hidup hedon yang amat jauh dengan kehidupan masyarakat pada umumnya.


Hal tersebut sungguh amat berbeda dengan sikap para pemuda di masa kejayaan Islam dahulu, dimana sikap brutal, mementingkan ego pribadi dan pencarian jati diri tidak pernah sekalipun melekat di dalam pribadi mereka. Mereka pun cenderung tidak mengenal sikap individualis dan gaya hidup hedon, mereka sibuk untuk berkarya dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat untuk umat bukan sebaliknya seperti saat ini. Mereka tampak sebagai pribadi-pribadi matang yang siap untuk menjalankan segala aturan Islam dan menjadi garda terdepan pembela Rasulullah dan kemuliaan Islam. 


Lihatlah bagaimana Ali bin Abi Thalib, Zubair bin Awwam, dan Thalhah bin Ubaidillah menjadi orang-orang yang pertama kali masuk Islam dalam kondisi yang amat belia. Begitupun ada Usamah bin Zaid, Sa'ad bin Abi Waqqash, Atab bin Usaid yang terkenal dalam bidang kemiliteran. Lalu pun ada Al Arqam bin Abil Arqam, Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Mas'ud, Mu'adz bin Jabal, Ibnu Abbas, Anas bin Malik serta Mush'ab bin Umair yang unggul dalam perihal keilmuan. Mereka senantiasa berkumpul di sekitar Rasulullah Saw dengan berbagai keistimewaan yang mereka miliki.


Mereka terus saja menjadi sumber inspirasi dan perubahan di tengah masyarakat jahiliah khususnya pada saat itu dan masyarakat Islam secara umum hingga hari ini. Jauh berbeda dengan hari ini, saat dimana para remaja dan pemuda rela melakukan apapun demi mendapat kepopuleran. Mereka rela untuk membahayakan diri sendiri dan orang lain demi tidak lagi dipandang sebelah mata oleh orang lain.


Dan yang lebih miris lagi adalah bahwa hukuman dari segala macam kejahatan yang dilakukan oleh para remaja akan dibedakan dengan hukuman bagi orang dewasa. Para remaja masih dianggap dan diperlakukan sebagai anak-anak sehingga mereka pun luput dari efek jera sebuah hukuman. Mereka pun akhirnya tidak faham akan adab dan tanggungjawab sebenarnya di dalam Islam.


Semua hal tersebut akan terus terjadi jika sistem kapitalis yang diterapkan hari ini masih dipertahankan. Sebab memang, segala ciri yang ditunjukkan oleh para remaja di atas merupakan sikap-sikap alamiah yang muncul dari sistem kapitalisme.


Maka dari itu, sebuah perubahan besar perlu segera dilakukan. Yakni perubahan sistem hidup secara keseluruhan, bukan yang bersifat sementara apalagi hanya perubahan personel saja. Sistem Islam harus diterapkan secara sempurna dan secepatnya guna menciptakan para remaja dan pemuda yang cinta dengan perubahan, merindukan kebangkitan dan senantiasa berusaha untuk membawa manfaat bagi masyarakat.

Wallahu a'lam bishawwab