Hijab Dihujat di Seluruh Dunia, Bukti Muslimah Butuh Junnah


Oleh Hanaa Karimah

(Muslimah Penggiat Literasi)


Hijab adalah identitas bagi seluruh muslimah di mana pun ia berada, sebagai salah satu bukti ketundukannya kepada aturan pencipta-Nya. Maka, tak salah jika hijab adalah bagian dari rasa cinta yang dijewantahkan dalam suatu bentuk ketaatan yang sempurna atas perintah-Nya. Maka, siapapun tak ada yang bisa melakukan pelarangan maupun penekanan untuk tidak memakai pakaian takwa tersebut. Justru sangat mengherankan jika hijab senantiasa dilekatkan dengan budaya ekstrimisme dan ke arab-araban. Sungguh sangat naif jika muslimah hanya ingin taat pada aturan penciptanya, namun ketaatan itu terhalang oleh ‘restu’ setiap orang yang merasa keamanannya terganggu karena kehadiran hijab. 


Anehnya, begitu banyak negara yang menerapkan pelarangan menggunakan hijab bagi muslimah pada setiap sektor publik. Alasannya klise, semacam keamanan dan terhalang pemeriksaan. Faktanya bukan sesuatu yang tabu ketika Islam dan hijab adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Olehnya itu begitu banyak orang berspekulasi bahwa Islam adalah agama yang keras dan ekstrimis sehingga pada akhirnya hijab menjadi sasaran yang dianggap menakutkan dan menjadi momok di kalangan negeri-negeri muslim hingga negara-negara Barat.


Hijab di Mata Dunia 


Hijab di mata dunia memiliki posisi tawar yang sering diperbincangkan bahkan dilarang di belahan dunia luar, hingga ke negeri-negeri Islam karena dianggap sebagai momok yang menakutkan dari dunia interaksi sosial masyarakat. Tak heran jika beberapa dunia Islam maupun dunia Barat menerapkan kebijakan atas pelarangan hijab maupun cadar dan burqa’ terhadap para muslimah. Efeknya, menimbulkan polemik dan juga tekanan atas hak-hak beragama bagi kalangan muslimah yang ingin menyempurnakan kewajibannya menutup aurat.


Bahkan tak jarang negara-negara yang menerapkan kebijakan tersebut, akan memberikan sanksi apabila ada muslimah yang  melanggar aturan pelarangan tersebut. Turki sebagai negara yang pernah menjadi kekuatan besar kaum muslimin melalui Kekhilafahan Utsmaniyah, kini menjadi negara sekuler yang memberikan ruang kebebasan untuk berhijab maupun tidak. Meski pernah menerapkan kebijakan pelarangan hijab semenjak kepemimpinan presiden Turki yang pertama Mustafa Kemal Attaturk. Namun sejak tahun 2013 Presiden Recep Tayyip Erdogan mencabut pelarangan tersebut dengan mengatakan bahwa sebagai langkah awal menuju normalisasi. 


"Kami kini mencabut aturan kuno yang bertentangan dengan semangat republik. Ini adalah langkah menuju normalisasi, masa-masa kekelaman sudah berakhir. Para perempuan yang mengenakan jilbab adalah warga republik seperti halnya mereka yang tak mengenakan jilbab," tambah Erdogan. (Kompas.com (8/10/2013)


Para pegawai negeri perempuan kini diperkenankan mengenakan jilbab dan pegawai pria boleh memelihara janggut, dua hal yang menjadi simbol Islam yang dilarang oleh presiden pertama Turki, Mustafa Kemal Attaturk. Namun, aturan tak boleh mengenakan jilbab tetap berlaku untuk para hakim, jaksa, polisi, dan personel militer. Tak hanya negeri-negeri Islam yang menerapkan pelarangan memakai hijab seperti Tunisia dan Suriah, namun juga dunia Barat yang kerap melontarkan pernyataan bahwa hijab adalah pakaian ekstrimis yang memicu kekerasan. Pernyataan ini sungguh sangat kontroversi. Sehingga benar saja jika kalangan muslimah yang berada di dunia Barat, kerap mendapatkan perlakuan tidak aman dan nyaman karena identitas pakaian mereka terganggu. 


Di dunia Barat pelarangan hijab karena alasan atas keamanan dan mengukuhkan negaranya sebagai negara yang menganut kebebasan berperilaku. Sebut saja Perancis, salah satu negara Eropa yang begitu sangat fobia atas pakaian identitas muslimah ini. Bahkan segala hal yang berkaitan dengan simbol-simbol Islam tidak diperkenankan oleh negara yang merupakan rumah bagi sekitar lima juta muslim ini. Perancis justru menjadi negara pertama yang melarang penggunaan cadar di muka publik, yang meliputi Burqa, niqab, dan kerudung di tempat umum. Pemerintah Perancis mengklaim larangan tersebut ditujukan untuk membantu mengintegrasi orang-orang. Tak hanya kerudung, syal dan sorban pun dilarang dipakai untuk pemeriksaan keamanan. 


Indonesia pun sebagai negeri muslim terbesar, meski muslimah menggunakan hijab namun tak membuat muslimah merasa nyaman memakainya. Sebab, hijab maupun simbol-simbol Islam lainnya seperti jenggot, celana cingkrang, maupun cadar seringkali dikaitkan dengan kekerasan dan tindakan ekstrimisme. Tak adil rasanya jika sesuatu yang telah diperintahkan oleh Allah kemudian dihujat hanya karena kepentingan sesaat maupun karena fobia yang tak beralasan. Bukankah Islam agama damai yang menjadi rahmatan lil alamin. Melarang ataupun mencurigai simbol Islam seperti hijab dan lainnya, dengan tuduhan yang lekat dengan ekstrimisme dan semacamnya adalah suatu bentuk tuduhan fitnah yang keji, dan tidak dapat dipertanggungjawabkan. 


Hijab adalah Simbol Pakaian Takwa


Syariat Islam yang agung tidak lepas dari aturan sempurna yang memuliakan manusia, khususnya kaum muslimah. Turunnya perintah menutup aurat bagi wanita merupakan perintah langsung dari Allah Swt., dalam rangka menjaga kehormatan wanita dari pandangan syahwat laki-laki asing. Maka tak mengherankan jika bagian-bagian tubuh yang dianggap menarik perhatian kaum Adam tersebut hingga perkara hukumnya menjadi perhatian besar di dalam Islam.


Sebagaimana kita ketahui bahwa hijab adalah pakaian takwa yang diwajibkan dilaksanakan bagi kaum muslimah yang telah baligh sekaligus sebagai identitas sebagai muslimah. Allah Swt. telah menetapkan aturan tersebut sebagai penegas bahwa wanita adalah kaum hawa yang harus dilindungi dengan pakaian yang menutup dengan sempurna. Pakaian sempurna tersebut telah dijelaskan di dalam Al-Qur'an berkaitan dengan khimar (kerudung) dan jilbab (jubah/gamis). Hal demikian telah dijelaskan dalam Al-Qur’an, Allah Swt. berfirman tentang tata cara secara hijab tersebut dikenakan: “Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya”. (TQS an-Nûr [24]: 31)


Yakni, janganlah mereka menampakkan anggota tubuh mereka yang menjadi tempat perhiasan seperti telinga, lengan, betis, atau yang lainnya, kecuali apa yang biasa nampak di kehidupan umum pada saat turunnya ayat tersebut, yakni pada masa Rasulullah saw., yaitu wajah dan kedua telapak tangan. Dan firman Allah Swt. berkaitan dengan pakaian wanita bagian bawah: “Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (TQS al-Ahzâb [33]: 59)


Juga apa yang telah diriwayatkan dari Ummu ‘Athiyah, ia berkata, “Rasulullah saw. memerintahkan agar kami mengeluarkan para wanita yakni hamba-hamba sahaya perempuan, wanita-wanita yang sedang haid, dan para gadis yang sedang dipingit, pada hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha. Adapun wanita-wanita yang sedang haid, mereka memisahkan diri tidak ikut menunaikan salat, tetapi tetap menyaksikan kebaikan dan (mendengarkan) seruan kepada kaum muslim. Aku lantas berkata, “Ya Rasulullah, salah seorang di antara kami tidak memiliki jilbab.” Rasulullah pun menjawab, “Hendaklah saudaranya memakaikan jilbabnya kepada wanita itu.” (HR. Muslim)


Dalil-dalil ini menunjukkan dengan gamblang tentang pakaian wanita di kehidupan umum.  Allah Swt. di dalam kedua ayat di atas, telah mendeskripsikan pakaian tersebut yang telah diwajibkan kepada wanita untuk dikenakan di kehidupan umum, dengan deskripsi yang rinci, lengkap dan menyeluruh. Alhasil, sesungguhnya hijab adalah pakaian yang melindungi perempuan bukan  untuk mengekang ataupun menimbulkan bahaya bagi orang lain. Wallahu ‘alam bishawwab.