Heboh Soal Aishaa Weddings, Stigmatisasi Syariat Kembali di Gugat?

 

Oleh: Illa Assuyuthi

 (member aktif menulis)

          Setelah beberapa pekan yang lalu, publik diramaikan dengan adanya polemik aturan tentang pemakaian jilbab dilingkungan sekolah. Kini, masyarakat kembali dihebohkan dengan adanya akun Aishaa Weddings yang diduga memfasilitasi dan memotivasi agar para remaja menikah muda atau melakukan pernikahan dini. 


          Berita tersebut sejak pertama kali muncul menuai banyak protes dari beberapa pihak diantaranya dari Kemen PPPA,  Komnas Perempuan,  dan LSM yang bergerak dibidang Isu Perlindungan Anak. Sampai saat ini,  akun Aishaa Weddings telah dilaporkan ke pihak kepolisian agar kasus ini  segera diusut siapa dalang dibalik pembuat akun Aisha Weddings ini. 


          Dengan laporan bahwa akun ini telah memberikan kegaduhan dan keresahan dihati masyarakat juga diduga telah melanggar Undang-Undang perkawinan dan Undang-Undang perlindungan anak. (Merdeka.com)


          Hal ini diperkuat dengan adanya laporan oleh Pegiat Sahabat Milenial Indonesia SETARA Institute,  Disna Riantina ke Polda Metro Jaya pada Rabu,  10/02/2021 sore. (Merdeka.com, 10/02/2021)


          Kecurigaanpun semakin bertambah dengan adanya kalimat-kalimat vulgar didalam situs Aishaa Weddings.com. Apakah ini akun sungguhan atau akun ini sengaja dibuat untuk memojokkan salahsatu ajaran agama tertentu? 


         Kasus tersebut mencuat ke permukaan seolah menjadi angin segar bagi para penggiat kesetaraan gender dan para Liberalis. Pasalnya,  dari sekian banyak pernyataan dari beberapa pihak seakan-akan penyebab segala permasalahan yang dialami oleh perempuan dan anak adalah pernikahan dini. 


          Padahal,  penyebab utama dari permasalahan itu semua adalah Sistem Kapitalisme-Sekulerisme yang melahirkan Paham Liberal.  Sehingga mencetak individu-individu terutama remaja yang berprilaku bebas tanpa batasan agama. Contoh faktor pemicunya   adalah  Iman yang lemah,  tontonan film yang semakin kacau yang sehari- hari menampilkan adegan-adegan pacaran,  bercampur baur dengan lawan jenis yang bukan mahram (ikhtilath), berdua-dua dengan lawan jenis tanpa mahram (khalwat)  dan pergaulan lawan jenis yang tidak atur sesuai syariat.  Belum lagi iklan yang mengumbar aurat dan syahwat. Ditambah musik-musik yang melalaikan. Maka wajar jika banyak generasi muda yang termotivasi untuk menikah muda akibat pergaulan bebas dan hamil diluar nikah.  Na'udzubillah.. 


          Seharusnya bukan pernikahannya yang digugat. Namun, Sistem Kapitalisme-Liberalisme yang sudah jelas rusak dan merusak. Sistem ini rusak  dan merusak bukan saja dikalangan anak muda. Tetapi,   Sistem ini sungguh rusak dan merusak di seluruh tatanan kehidupan manusia. Disebabkan sistem Kapitalisme-Liberalisme bukan berasal dari wahyu melainkan berasal dari hawa nafsu manusia semata.  


          Dengan sebab itu, sudah saatnya kita campakkan Sistem Kapitalisme-Liberalisme yang sudah terbukti gagal memberikan perlindungan bagi perempuan dan anak-anak.


         Dalam Islam,  pernikahan diatur sesuai syariat.  Sehingga dalam pernikahan, yang diharapkan hanyalah ridho Allah SWT. Sebagaimana dalam firman Allah SWT yang  artinya :" Wahai manusia,  bertakwalah Kepada tuhanmu (Allah SWT) yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah)  menciptakan pasangannya (Hawa) dari (dirinya); dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta dan (jagalah) hubungan kekeluargaan.  Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu." (Qs.  An-Nisaa' ayat 1)


          Beberapa tujuan pernikahan dalam Islam adalah untuk membangun generasi beriman,  bertanggung jawab terhadap anak,  mendidik, mengasuh,  dan merawat hingga cukup usia, sebagai jalan ibadah sekaligus sedekah yang menjadi bekal diakhirat kelak. 


Sebagaimana dalam firman Allah SWT yang artinya: " Dan orang-orang yang beriman,  dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka, dan kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya." (QS.  At-Thur ayat 21)


          Sedangkan pernikahan yang dilandaskan karena hawa nafsu bukan berlandaskan syariat misalnya seseorang tersebut tidak memiliki bekal ilmu tentang pernikahan, minim dalam pemahaman agama sehingga pasangan suami  istri tidak memahami hak dan kewajiban masing-masing,  minimnya bekal dalam pengasuhan dan pendidikan anak,  serta kurangnya dalam memahami karakter pasangan masing-masing. Sehingga dalam kehidupan rumah tangga tersebut sulit untuk menciptakan tujuan pernikahan yang sesuai syariat. 


          Pernikahan yang hanya berdasarkan hawa nafsu biasanya rentan konflik yang berujung pada perceraian dan berbagai permasalahan lainnya didalam sebuah pernikahan. 


          Dalam hal ini,  pentingnya mendalami Islam Kaaffah sebagai bekal dalam pernikahan agar memiliki pemahaman tentang syariat pernikahan yang utuh sehingga tidak salah jalan. 


          Dan  peran negara sangat penting dalam menjaga setiap individu dari segala aktivitas atau perbuatan yang bertentangan dengan syariat seperti adanya remaja yang Khalwat, Ikhtilat, dsb. 


          Juga dibutuhkan peran negara agar terbentuk individu-individu yang bertaqwa sehingga memahami tujuan sebuah pernikahan  yang sesuai dengan tuntunan syariat dan individu tersebut mampu mewujudkan tujuan pernikahan yang hakiki, yakni melestarikan keturunan,  melahirkan generasi-generasi bertaqwa yang unggul dalam sebuah peradaban yang gemilang,  serta menjadikan umat kuat didalam sebuah negara. Namun, hal tersebut tidak mungkin terwujud dalam Sistem Kapitalisme -Sekulerisme. 


          Hanya Islam yang akan mampu mewujudkan sebuah pernikahan yang sesuai syariat dan Islam mampu membentuk individu-indivudu yang bertaqwa,  suasana yang kondusif dalam ketaqwaan sehingga lahir generasi -generasi unggul yang memahami tujuan penciptaannya didunia yaitu untuk beribadah kepada Allah. 


          Untuk itu, pentingnya menerapkan sistem Islam dalam sebuah kehidupan baik kehidupan individu,  masyarakat,  maupun bernegara. Agar seluruh syariat dapat terlaksana. Karena dengan sistem Islam semua pelaksanaan syariat  tak akan lagi digugat. Dan semua itu akan terlaksana hanya dalam bingkai Khilafah ala minhajinnubuwwah. Wallahu'alam bisshowab.