Habis Gelap Pasti Akan Ada Terang


Oleh Zulhilda Nurwulan, S. Pd

(Relawan Opini Kendari)


03 Maret 2021, tepat 100 tahun dunia tanpa khilafah. Sejak Islam dicabut dari peradaban, dunia seolah runtuh. Tiap hari dunia dihiasi dengan kesedihan, kesakitan, dan kepedihan. Terlebih, segala kesakitan itu dialami oleh umat muslim di berbagai penjuru. Tidak ada lagi persatuan, tidak ada lagi keutuhan, semua terpecah-belah atas asas cinta tanah air dan nasionalisme. Islam, sebuah agama akidah yang mampu menyatukan umat atas dasar keimanan sehingga segala aspek kehidupan bejalan sesuai syariat yang berasal dari aturan Allah Swt. Sayangnya, sejak Islam runtuh di Turki kala itu, dunia kehilangan junnah (pelindung) nya. Wanita muslim dihinakan, laki-laki muslim diperbudak, aturan dunia disekularisasi. Tak ada lagi kesejahteraan yang dialami umat sejak saat itu.

Berbagai fenomena yang menimpa muslim adalah akibat dari penerapan sistem kufur warisan Belanda, sistem kapitalis-sekuler. Sistem ini telah mencampakkan Islam dari ranah kehidupan. Pengkhianatan yang dilakukan Mustafa Kemal Attaturk atas bantuan kolonialis Inggris kala itu, menyisakan luka dan derita panjang di jiwa kaum muslimin hingga hari ini.

Tak hanya itu, pencekalan terhadap Islam tidak sebatas pada subjeknya saja melainkan seluruh aspek yang terkandung di dalamnya, termasuk ajarannya sekaligus. Islam diserang dengan berbagai perspektif miring di antaranya agama teroris, agama ekstrimis, agama radikalis. Isu ini seolah membuka peluang bagi para pegiat liberalis mengencangkan cengkeramannya pada sebagian diri muslim yang tidak mengenal agamanya secara sempurna. Sehingga, masyarakat dengan mudah teropini oleh isu-isu miring tersebut sampai membenci saudaranya sesama muslim bahkan mengelakkan kebenaran Islam. 

Malapetaka Runtuhnya Khilafah

Runtuhnya khilafah di Turki Utsmani pada 1924 disebabkan oleh dua faktor. Pimred jurnal dakwah Al-wa'ie, Ustadz Farid Wajdi, S.I.P menegaskan bahwa faktor tersebut datang dari internal maupun eksternal. Faktor-faktor ini akhirnya menghasilkan kemunduran berpikir di tubuh umat muslim. 

Pertama, faktor internal. Faktor ini merupakan faktor yang terdapat dalam tubuh negara Islam kala itu. Beberapa faktor tersebut di antaranya tertutupnya pintu ijtihad, terhapusnya bahasa Arab sebagai bahasa negara, hadirnya para penghianat, terhempasnya aturan Islam dari aturan bernegara, dan lain sebagainya. 

Bisa dibayangkan betapa nestapanya dunia tanpa Islam. Saat pintu ijtihad ditutup, tak ada lagi mujtahid yang menggali hukum. Walhasil, segala aturan diambil berdasarkan kebutuhan dan keinginan tanpa peduli pada syari'at. Kemudian, bahasa Arab menjadi tersisihkan dari kehidupan bernegara. Tak ada lagi bahasa pemersatu umat. Sehingga, bahasa Arab menjadi tabu dan terasingkan dari kehidupan masyarakat. Hal inilah yang akhirnya membuat masyarakat semakin malas berpikir dan tidak peduli lagi akan penggalian hukum yang notabene menggunakan bahasa Arab. 

Selain itu, munculnya para antek-antek pengkhianat didikan Inggris, Mustafa Kemal Attaturk dan pengikutnya yang turut melanggengkan kehancuran di tubuh daulah. Kaum muslim yang pemikirannya telah dicekoki oleh ide barat. Karena kehausannya terhadap dunia akhirnya membutakan mereka dari hukum Allah Swt. Inilah yang terjadi setelah daulah Islam runtuh. Umat Islam tak henti-hentinya dicecar dengan penyiksaan dan kesengsaraan. 

Kedua, faktor eksternal. Faktor eksternal datang dari ide-ide sekuler yang mewabah di tengah umat. Peraturan kapitalis-sekuler telah merusak jati diri kaum muslim bahkan sampai menghilangkan rasa takut terhadap Allah sebagai Sang Khalik. Aturan-aturan yang dibuat selalu bertentangan dengan fitrah kaum muslimin bahkan tak tanggung-tanggung mereka menghalalkan segala cara demi untuk mendapatkan pengakuan kaum kapitalis. 

Oleh karena itu, pada momentum peringatan 100 tahun runtuhnya khilafah (sistem pemerintahan Islam) dari bumi ini hendaknya kaum muslimin mengembalikan ghirohnya dalam memperjuangkan kembali kebenaran Islam agar sistem yang kompleks ini bisa menghapuskan berbagai kesengsaraan yang dialami umat dalam era kapitalis hari ini.

Kegemilangan Islam akan Terulang Kembali

Islam adalah agama yang paripurna. Sebagai agama sekaligus ideologi Islam telah berhasil membawa keberkahan di kehidupan umat. Kabar gembira itu akan datang. Janji Allah bagi hambanya yang beriman dan yakin akan kemenangan Islam di muka bumi. Bisyarah Rasulullah saw. akan terulang kembali. Islam akan kembali berjaya sebagaimana kesuksesannya terdahulu yang mampu menguasai 3/4 belahan dunia dalam kurun waktu kurang dari 1400 abad lamanya.

Musuh-musuh Islam bisa saja meremehkan kemenangan Islam yang segera hadir. Namun, ini merupakan tanda bahwa sungguh kemenangan itu nyata. Allah tak pernah ingkar maka sebagai muslim wajib meyakini kemenangan Islam yang merupakan janji Allah. Karena meyakini janji Allah merupakan suatu bentuk keimanan. Sebagaimana yang termaktub dalam QS. an-Nur ayat 55. 

Lanjut, hadis dari Hudzaifah ra.yang berkata bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda:

"Di tengah-tengah kalian terdapat zaman kenabian. Ia ada dan atas izin Allah akan tetap ada. Lalu Allah akan mengangkat zaman itu jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada khilafah yang mengikuti manhaj kenabian. Ia ada dan atas izin Allah akan tetap ada. Lalu Allah akan mengangkat zaman itu jika Dia berkehendak mengangkatnya. Lalu akan ada kekuasaan yang zalim. Ia juga ada dan atas izin Allah akan tetap ada. Kemudian Allah akan mengangkat zaman itu jika Dia berkehendak mengangkatnya. Lalu akan ada kekuasaan diktator yang menyengsarakan. Ia juga ada dan atas izin Alah akan tetap ada. Selanjutnya akan ada kembali khilafah yang mengikuti manhaj kenabian." (HR. Ahmad, Abu Dawud ath-Thayalisi dan al-Bazzar).

Dari hadis di atas maka bisa disimpulkan bahwa kemenangan Islam pasti akan datang dan tak ada keraguan tentangnya. Sehingga, sebagai muslim yang baik wajib meyakini kabar gembira itu dan bersungguh-sungguh dalam mewujudkan janji Allah tersebut. Sesungguhnya menanti janji tanpa berusaha sama halnya bagaikan menggantang asap. Maka, sekalipun tegaknya khilafah merupakan janji Allah namun diperlukan perjuangan untuk menegakkannya. Karena sesungguhnya Allah melihat usaha kita sebagai bentuk keyakinan dan keimanan kita kepada-Nya. Wallahu a'lam bishshawab.