Oleh Enok Sonariah 

Ibu Rumah Tangga dan Pegiat Dakwah


Sejarah Islam memiliki peran penting bagi umat Islam khususnya. Sebab dengan mempelajari sejarah, kita akan memahami bagaimana dulu Rasulullah saw. mendakwahkan serta memperjuangkan Islam hingga akhirnya tersebar ke seluruh penjuru dunia.

Dari sejarah pula umat Islam akan mengetahui sebab-sebab kemunduran hingga keruntuhan kejayaan Islam yang dibangun sejak masa Rasulullah berlanjut ke masa Khulafa ar-Rasyidin dan khalifah-khalifah setelahnya. Semuanya untuk diambil sebagai pelajaran apalagi bagi yang terpanggil untuk memperjuangkannya kembali. Maka tidak heran Al-Qur'an pun disajikan dalam bentuk kisah-kisah yang menakjubkan.

Berangkat dari pentingnya mengenalkan sejarah Islam, Kementerian Agama (Kemenag) meminta guru madrasah pengampu mata pelajaran Sejarah dan Kebudayaan Islam (SKI) untuk menyampaikan materi pelajaran tersebut secara komprehensif, dengan tujuan agar siswa memahami sejarah Islam masa lalu dengan utuh. Menurut Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan Madrasah, Muhammad Zain, penyampaian sejarah Islam secara komprehensif memiliki andil membentuk generasi muda yang moderat. (Sindonews.com, 26/02/2021)

Gambaran sejarah Islam yang komprehensif dan utuh adalah suatu keharusan dan kebutuhan. Karena Islam itu sendiri adalah agama yang syaamil (utuh-menyeluruh) dan kaamil (sempurna), mengatur seluruh aspek kehidupan mulai dari bangun tidur sampai membangun negara. Mengatur hubungan manusia dengan Sang Pencipta, dengan dirinya sendiri dan sesama manusia. Mengatur cara ibadah, berpakaian, berekonomi, sosial, politik sampai pemerintahan.

Penerapan Islam yang syaamil dan kaamil telah dipraktekan oleh Rasulullah saw. bersama para sahabat dilanjutkan oleh para khalifah yang banyak. Sepanjang kurang lebih 13 abad lamanya, umat Islam berada dalam satu kepemimpinan, satu wilayah serta satu aturan yang bersumber dari Al-Qur'an dan as-Sunnah.

Sebenarnya apa yang disampaikan oleh Muhammad Zain tidak ada keterkaitan sama sekali antara penyampaian SKI yang komprehensif dengan generasi muda yang moderat. Komprehensif seharusnya ditujukan untuk membentuk generasi muslim kafah/ideologis  bukan generasi muslim moderat.

Penting kita fahami, Islam moderat yang saat ini gencar disosialisasikan di dunia pendidikan termasuk di madrasah, sejatinya adalah Islam yang dipersepsikan dan dikehendaki oleh kafir Barat, yaitu Islam yang sejalan dengan nilai-nilai Barat yang sekuler dan liberal, serta ramah atau menerima Barat sebagai mitra bukan musuh. Mata pelajaran SKI menjadi sarananya.

Generasi yang Barat inginkan adalah generasi yang meragukan ajaran agamanya sendiri, yang tidak yakin bahwa Islam adalah solusi segala permasalahan kehidupan. Sebaliknya memandang Barat sebagai simbol kemajuan dan modern. Potensi generasi dibajak, seharusnya menjadi motor penggerak mengembalikan kemuliaan Islam malah membebek kepada Barat. 

Usaha yang sungguh-sungguh ditunjukkan oleh Barat dengan memobilisasi dari berbagai kalangan yang bisa dimanfaatkan; merekrut lembaga-lembaga pendidikan, para akademisi, kaum intelektual, LSM, media, sampai kalangan ulama berikut lembaga pesantrennya, dengan menggelontorkan dana yang tidak sedikit. 

Sayangnya sebagian umat Islam khususnya para pemangku kebijakan, termakan propaganda Barat yang menyesatkan dan melemahkan. Bukannya menolak malah dianggap model ber-Islam yang cocok bagi negeri ini. Sedangkan penyeru Islam kaffah dituduh sebagai muslim radikal.

Semestinya umat Islam menyadari posisi Barat di kancah internasional. Sejak runtuhnya Kekhilafahan terakhir umat Islam yakni Khilafah Utsmani, negeri-negeri Islam yang dulunya bersatu dipecah-belah oleh penjajah Barat dengan faham nasionalismenya sehingga lemah, terpuruk dan tertindas. Barat sangat berkepentingan membenamkan geliat kesadaran umat Islam, yang menyerukan persatuan seluruh negeri-negeri muslim, serta menyerukan umat Islam untuk kembali kepada Islam kafah dalam bingkai khilafah.

Barat sangat memahami kembalinya khilafah adalah mimpi buruk bagi mereka. Setelah Uni Soviet runtuh, satu-satunya kekuatan ideologi yang mesti dihalangi kebangkitannya hanyalah Islam. Oleh karena itu Barat dengan serius memastikan tersampaikannya Islam moderat melalui kurikulum pendidikan. Madrasah yang banyak mempelajari agama dikhawatirkan menjadi lembaga yang menciptakan generasi yang siap memperjuangkan Islam. Generasi menjadi sasaran paling efektif karena masa depan umat ada di pundak mereka.

Kemulian hanya ada pada Islam yang menyeluruh, bukan yang parsial apalagi moderat. Sudah saatnya umat Islam terutama generasi mudanya menyadari hakikat persoalan yang sebenarnya, agar tidak mudah tertipu dengan rekayasa Barat yang sangat khawatir peradaban kapitalisme sekularnya runtuh, tergantikan oleh khilafah.

Semangat menyebarkan Islam kafah tidak boleh pudar, cukuplah firman Allah Swt. sebagai pengingat:

“Mereka (musuh-musuh Islam) berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir tidak menyukai.” (QS. At-Taubah [9]: 32)

Wallaahu a'lam bi ash-shawaab.

 
Top