Dispensasi Usia Pernikahan Dipersoalkan

 



Oleh Enok Sonariah

Ibu Rumah Tangga dan Pegiat Dakwah


Pernikahan di bawah umur atau pernikahan dini kembali diperbincangkan. Di Indonesia sendiri, batas bawah usia calon mempelai laki-laki dan perempuan sudah diatur dan ditentukan dalam Undang-undang Perkawinan Nomor 16 Tahun 2019, yaitu sama-sama usia 19 tahun.

Walaupun undang-undang sudah menentukan batas usia terendah, bukan berarti tidak dibolehkan sama sekali menikahkan anak dibawah usia 19 tahun, asal orang tua calon mempelai mengajukan permohonan dispensasi atau keringanan usia pernikahan anaknya ke Pengadilan Agama atau Kantor Urusan Agama (KUA) setempat. Hal ini diatur dalam Undang-undang Perkawinan Pasal 7 ayat 2. Dispensasi tersebut karena berkaitan dengan adat dan keyakinan atau agama. 

Menurut pemaparan Direktur Eksekutif Plan Indonesia Dini Widiastuti, data pada Januari-Juni 2020 setidaknya terdapat 33.664 dispensasi usia menikah yang dikabulkan di seluruh wilayah Indonesia. Secara riil nya bisa jadi melampaui angka tersebut, karena belum termasuk pernikahan agama atau siri dan adat. (CNN Indonesia 13 Februari 2021)

Banyaknya data dispensasi yang diberikan Pengadilan Agama atau KUA di atas, telah dipersoalkan oleh Ketua Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (LBH APIK) Nursyahbani Katjasungkana. Menurutnya persoalan tersebut mesti betul-betul diusut.

Beberapa alasan yang mengemuka, mengapa pernikahan dini ditentang diantaranya; karena berdampak terganggunya kelanjutan pendidikan anak, mental anak yang masih labil, kesiapan dan kesehatan reproduksi perempuan, serta pendidikan rendah sulit mengakses pekerjaan formal. Semuanya diatasnamakan untuk kebaikan anak dan masa depan anak. 

Pertanyaannya, betulkah penolakan tersebut benar-benar dilandasi atas perhatiannya pada nasib anak?

Kalau kita mau jujur mendetili fakta yang dekat dengan kita, terganggunya pendidikan bukan hanya disebabkan nikah dini. Kemiskinan tidak bisa dipungkiri telah banyak menyumbang anak putus sekolah. Terkait kesehatan reproduksi, sungguh tidak masuk akal apabila usia 18 tahun masih dianggap anak-anak (usia dini), padahal mereka sudah matang secara reproduksi. Secara mental pun usia 18 tahun sudah cukup stabil apabila mereka mendapatkan pendidikan dan lingkungan yang baik. Tidak sedikit pernikahan di usia dini mampu mengarungi bahtera rumah tangga dengan sukses.

Alasan berikutnya, pendidikan rendah sulit mengakses pekerjaan formal. Idealnya pendidikan tinggi mudah mengakses pekerjaan formal, kenyataannya para sarjana banyak yang menganggur karena sempitnya lapangan kerja. Inilah kenyataan yang tidak bisa disembunyikan.

Kalaulah benar atas dasar ingin menyelamatkan anak, seharusnya persoalan pergaulan bebas, LGBT, pelegalan miras, film-film forno, lagu-lagu picisan, berbagai tayangan yang mengumbar aurat dan membangkitkan syahwat, lebih pas untuk dipersoalkan. Sebab semuanya menjadi faktor perusak generasi yang bisa diindera dengan kasat mata.

Larangan pernikahan dini dengan pembatasan usia 19 tahun jelas bertentangan dengan syariat Islam, bahkan kebijakan ini sarat dengan kepentingan politik global yang bertujuan mengurangi populasi penduduk muslim. Dengan pembatasan usia pernikahan akan mengurangi kesempatan kemungkinan hamil, seiring dengan gencarnya kampanye kesehatan reproduksi remaja dengan klaim bahaya kahamilan di usia dini.

Selain mengurangi populasi muslim, ada tujuan lain yaitu untuk kepentingan ekonomi kapitalis.  Demi tersedianya angkatan kerja, mereka didorong masuk sekolah agar siap memasuki dunia kerja. Generasi bukannya diarahkan menjadi pemimpin yang handal guna memajukan bangsa dan negaranya, tapi hanya disiapkan untuk dunia kerja.

Sebagai seorang muslim sangat tidak pantas mempersoalkan pernikahan dini yang jelas-jelas dibolehkan dalam Islam, karena termasuk pembangkangan kepada Allah Swt.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian haramkan apa-apa yang telah Allah halalkan bagi kalian, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS.Al Maidah : 87).

Dalam Islam, pernikahan dini bisa menjadi solusi menjauhkan anak-anak muda dari keburukan pergaulan bebas dan menjaga kehormatan mereka, selama tidak ada paksaan dan telah ada kesiapan dari kedua belah pihak yang akan menikah. Baik kesiapan ilmu, materi (kemampuan memberi nafkah), serta kesiapan fisik.

Islam memiliki aturan preventif dalam pergaulan yang mencegah berbagai penyimpangan dan kerusakan seperti; pacaran, pergaulan bebas, aborsi, pemerkosaan, serta pencabulan. Didukung dengan diwajibkannya menutup aurat serta menundukkan pandangan. Negara pun akan menjauhkan dari tayangan-tayangan yang merusak serta menjatuhkan sanksi bagi yang melanggarnya.

Kesimpulannya, permasalahan bukan terletak pada usia pernikahan, tapi terletak pada sistem yang diterapkan. Kapitalisme-sekular dengan faham kebebasannya telah menjerumuskan generasi kepada kehidupan liberal. Sebaliknya Islam menciptakan masyarakat yang bersih dan bermartabat.

Wallaahu a'lam bi ash shawaab