Detik Berhenti Bersama Kematian


Oleh Lismawati

Mahasiswi dan Praktisi Pendidikan


Terkadang aku berpikir, bagaimana bentuk dari sebuah keikhlasan itu? Apalagi jika kita harus melihat seseorang yang seperti ruh bagi raga itu hilang. Kesedihan, kehilangan mendalam dan duka lara menyandera dalam dekap yang tidak akan lekang oleh waktu.

Pernahkah terbayang dalam angan, bagaimana bila si Fulan meninggal? Bila ia dekat maka yang terasa adalah kesedihan meski tidaklah sebegitu dalam. Karena dunia tetap berjalan semestinya. Lalu bagaimana bila yang hilang dari masa depan kita adalah orangtua, suami, anak, dan lain-lain kita?

"Tiap-tiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Dan Kami akan menguji kamu dengan keburukan serta kebaikan sebagai cobaan. Dan hanya kepada Kamilah kamu akan dikembalikan." (QS. al-Anbiya: 35).

Saat kehilangan itu datang, sulit sekali bagi setiap diri berdamai dengan takdir yang telah Allah gariskan. Keinginan terus bersama hingga akhir hayat menjadi oase di tengah penghidupan yang sementara. Berharap layaknya sebuah kisah dongeng dengan happy ever ending.

Selayaknya jantung yang diremas dalam 1 detik. Begitulah yang terasa kala sakaratul maut datang memanggil orang terkasih. Seolah oksigen telah direnggut paksa dan bernafas dengan tercekik. Berkata 'andai' semua hanya sebuah bunga tidur. Ketika esok bangun semua tetap sama.

Setiap manusia dilahirkan dengan fitrah bahwa mereka membenci perpisahan dengan yang dikasihi. Tidak suka dengan perubahan yang drastis tanpa pemberitahuan. Apalagi perpisahan dengan jangka waktu dan jarak yang tidak mampu ditempuh dengan alat transportasi apa pun.

Sebuah Proses Pembelajaran

Saat semua yang terpampang dalam obsidian bukanlah fatamorgana. Di kala cerita kehidupan membawa kita pada skenario terburuk yaitu kehilangan. Menjadikan tangan terasa begitu dingin dan airmata terus mengalir. Himpitan dada yang begitu berat.

Kematian akan mendatangi setiap jiwa. Tidak terkecuali diri secara pribadi. Dia akan datang tanpa pemberitahuan. Tidak dapat diulur waktunya. Tidak dapat dimajukan ataupun dimundurkan. Akan tepat di waktu Allah memerintahkan detik itu berhenti. 

وَلَنْ يُّؤَخِّرَ اللّٰهُ نَفْسًا اِذَا جَاۤءَ اَجَلُهَاۗ وَاللّٰهُ خَبِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ 

"Dan Allah tidak akan menunda (kematian) seseorang apabila waktu kematiannya telah datang. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan." (QS. al-Munafiqun: 11).

Mengikhlaskan tidaklah semudah mengucapkannya. Setiap manusia yang mengetahui hakikat dari kematian, hanya berusaha untuk mengikhlaskan. Menjadikannya sebagai pembelajaran hidup yang berharga. Bahwa dunia yang begitu gemerlap akan padam suatu saat nanti.

Setiap insan memiliki prosesnya masing-masing untuk mengikhlaskan orang terkasih pergi. Menjalani masa depan dengan satu pemahaman baru. Bahwa yang berlalu akan tetap berlalu. Dan masa depan akan tetap datang. Sehingga kehidupan akan berjalan meninggalkan masa lalu.

Kematian hanyalah sebuah pembuka dari kehidupan yang abadi kelak. Kehidupan abadi yang jauh lebih panjang dan melelahkan. Sehingga bagi mereka yang hidup di dunia fana namun ia tidak memiliki bekal yang cukup. Maka merugilah ia.

Sebaliknya, bagi insan yang berhati-hati terhadap kehidupan fana. Ia mempersiapkan bekal sebaik-baiknya. Maka beruntunglah ia. Jika kematian adalah batas perjalanan di dunia fana. Maka bagi mereka yang masih hidup, apa yang telah dipersiapkan?

Atau justru kita sibuk dengan berleha-leha dan bermaksiat terhadap Allah. Tidak menjadikan kematian orang terkasih sebagai cambukan keras untuk kembali kepada jalan Allah. Menyungkurkan kepala lebih dalam lagi di atas sajadah.

Untuk mereka yang masih berjalan di kehidupan dunia yang fana ini. Kembalilah kepada Allah dengan ketaatan yang sempurna. Sebelum datangnya kematian yang akan memutuskan segala kenikmatan. Karena mati tidak akan menunggu kamu menjadi baik.

Wallahu a'lam.