Defisit Ekologi Akibat Tanpa Khilafah


Oleh Enung Sopiah

(Ibu Rumah Tangga dan Aktivis Dakwah)


Manusia secara fitrahnya adalah makhluk sosial. Manusia berinteraksi dengan komponen lingkungan fisik biotik (hewan dan tumbuhan), maupun dengan komponen abiotik (tanah, air, batuan dan lain-lain), semua itu adalah sumber daya alam, yaitu potensi sumber daya yang terkandung di dalam bumi, air maupun udara. Fungsi sumber daya alam sangat vital bagi kehidupan manusia, sehingga dapat menjadi sumber konflik, bahkan apabila di suatu negeri yang mempunyai kekayaan alam yang melimpah akan mengundang perhatian dari bangsa-bangsa yang tamak untuk menguasai kekayaan alam negara kaya tersebut.


Seperti yang terjadi pada negeri kita Indonesia. Sejarah mencatat, bagaimana negara-negara penjajah ingin menguasai Indonesia karena kekayaan alam yang melimpah. Mereka, para penjajah melakukan segala cara untuk menguasai daerah-daerah yang kaya akan SDA untuk dieksploitasi dan hasilnya untuk dibawa ke negaranya. Pada zaman modern sekarang pun sama, perbedaannya hanya pada cara mereka menjajah, dan mengeruk kekayaan alam negeri kita, dengan cara neo imperialisme. Indonesia yang memakai sistem demokrasi kapitalis menjadikan tempat bercokolnya para kapitalis asing yang ingin menguasai dan mengeruk sumber daya alam Indonesia. Mereka mengeksploitasi sumber daya alam Indonesia secara besar-besaran. Akibat dari perilaku tersebut, lingkungan mengalami kerusakan dan akhirnya berdampak buruk bagi manusia, di antaranya, berkembangnya penyakit, bencana alam dan lain-lain.


Dilansir oleh Mediq Indonesia, Berdasar data global FootPrint Network tahun 2020, Indonesia mengalami devisit ekologi  sebanyak 42%. Angka ini menunjukkan konsumsi terhadap sumber daya alam lebih tinggi daripada yang saat ini tersedia, dan akan menyebabkan daya dukung alam terus berkurang. "Kebijakan pembangunan ekonomi di Indonesia, masih belum memperhatikan modal alam secara serius," sebut guru besar IPB University, dari Departemen Ekonomi Sumber daya dan Lingkungan fakultas Ekonomi dan Managemen (FEM), Prof Dr Akhmad Fauzi, dilansir dari laman IPB University, Akhmad menyampaikan, saat ini indeks modal alam Indonesia masih rendah, yaitu urutan 86. Padahal negara tropis umumnya ada di peringkat 10 besar urutan indeks modal alam. Terdapat kerusakan yang cukup masif pada alam di Indonesia. Kerusakan alam ini misalnya disebabkan oleh alih fungsi lahan, laju pencemaran lingkungan khususnya air juga tinggi, selain itu keberagaman alam juga sudah semakin berkurang. Hal ini membuat perekonomian nasional kita melemah. Mengabaikan modal alam juga berakibat memperbesar angka ketimpangan ekonomi," beber Akhmad. 


Akhmad juga menegaskan, bahwa pembangunan ekonomi tidak bisa dilepaskan dari kelestarian lingkungan. Sistem ekonomi kapitalis ini adalah produk dari sistem demokrasi kapitalis, yang menjadikan manusia semakin serakah, mereka hanya memikirkan keuntungan yang sebesar-besarnya, tidak peduli dengan kelestarian lingkungan. Walaupun akhirnya berdampak pada kerusakan alam dan semakin berkurangnya sumber daya alam, karena eksploitasi sumber daya alam secara besar-besaran. Sumber daya alam Indonesia seharusnya dikelola oleh negara untuk kesejahteraan rakyat, bukan dikelola dan dikuasai oleh asing, atau individu atau hanya sekelompok orang tertentu, sehingga rakyat Indonesia tidak menikmati hasilnya, bahkan sebaliknya rakyat hanya merasakan dampak dari kerusaka alam, karena eksploitasi sumber daya alam secara besar-besaran, seperti, banjir, longsor, pergeseran tanah dan lain-lain.


Menurut UUD 1945 pasal 33 ayat 1: "Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara," pasal 33 ayat 2: "Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya  dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat." Dan masih banyak lagi pasal-pasal lain, yang merupakan kewajiban pengelola negara untuk menjamin kemakmuran rakyatnya. Namun, semua itu hanya angin surga yang diimpikan para penggagas dan pendiri Republik ini. Sementara yang berjalan dan dipraktikkan selama ini justru sebaliknya.


Keadaan seperti ini juga terjadi di negeri-negeri Islam yang kaya akan sumber daya alamnya, dikuasai oleh para penjajah. Seperti contoh di Timur Tengah yang kaya akan akan minyak bumi, selalu jadi rebutan para penjajah, sehingga keadaan di Timur Tengah tidak pernah berhenti bergejolak akibat invasi dan cengkeraman imperialisme Barat. Keadaan seperti ini dikarenakan ketiadaan khilafah bagi kaum muslim. Negeri-negeri Islam dipaksa menerapkan aturan kapitalis yang melakukan liberalisme ekonomi, dan merekalah para kapitalis yang diuntungkan sementara rakyat yang seharusnya menikmati hasil dari kekayaan alam negerinya, tidak merasakannya, bahkan kebanyakan penduduknya miskin. 


Khilafah berfungsi untuk menegakkan syariat Islam, yang mengatur seluruh aspek kehidupan, termasuk mengatur bagaimana negara mengelola SDA untuk kesejahteraan umat, dan juga sebagai perisai bagi kaum muslim, untuk menjaga negeri-negeri muslim agar tidak jatuh ke tangan para imperialisme, dan  menjadikan Islam rahmatan lil'alamiin. 


Rasulullah saw., pernah mengambil kebijakan untuk memberikan tambang kepada Abyadh bin Hammal al-Mazini. Namun, kebijakan tersebut ditarik kembali oleh Rasulullah setelah mengetahui tambang yang diberikan kepada Abyadh bin Hammal laksana air yang mengalir. Pada salah satu contoh kebijakan Rasulullah tersebut, diperbolehkan individu menguasai area tambang jika luas dan depositnya sedikit, akan tetapi jika barang tambang yang jumlahnya tidak terbatas, maka individu tidak boleh menguasainya, sebab barang tambang tersebut termasuk harta milik umum, dan hasilnya masuk dalam kas baitulmal. 


Rasulullah saw. bersabda: "Kaum muslim bersekutu dalam tiga hal, air, padang dan api." (HR. Abu Dawud). Hadis ini juga menegaskan yang termasuk harta milik umum adalah sumber daya alam, yang tidak boleh dikuasai oleh individu. 


Syariat Islam sangat memperhatikan kelestarian alam, bahkan ketika berjihad fi sabilillah, kaum muslim tidak diperbolehkan merusak fasilitas umum, tidak diperbolehkan membakar, menebangi pohon tanpa alasan yang jelas. Kerusakan alam dan lingkungan akibat dari eksploitasi sumber daya alam yang besar-besaran telah kita rasakan, di mana-mana terjadi bencana alam, dan sumber daya alam semakin berkurang, semua itu akibat dari keserakahan manusia, dan akibat tidak diterapkannya aturan-aturan Islam. 


Allah Swt. berfirman: "Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar." (QS. ar-Rum [30]: 41).


Inilah salah satu urgensi, dimana sistem khilafah harus ditegakkan agar bisa diterapkannya syariat Islam, untuk kemaslahatan seluruh umat.

Wallahu a’lam bishshawab.