Oleh Sri Rahayu


Entah apa yang merasuki sehingga penguasa mengeluarkan peraturan dibukanya investasi miras di negeri mayoritas muslim terbesar.

Pemerintah sebelumnya telah menetapkan industri minuman keras sebagai daftar positif investasi (DPI). Sebelumnya, industri minuman beralkohol merupakan bidang industri tertutup. Kebijakan itu tertuang dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 10 Tahun 2021 tentang Bidang Usaha Penanaman Modal. Beleid yang merupakan aturan turunan dari Undang-Undang (UU) Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja ini telah diteken Presiden Joko Widodo dan mulai berlaku per tanggal 2 Februari 2021.

Aturan tersebut merupakan turunan dari Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja. Dalam Lampiran III Perpres Nomor 10/2021 pada angka 31, 32, dan 33 ditetapkan bahwa bidang usaha industri minuman keras mengandung alkohol, alkohol anggur, dan malt terbuka untuk penanaman modal baru di Provinsi Bali, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Provinsi Sulawesi Utara, dan Provinsi Papua dengan memperhatikan budaya serta kearifan setempat. (Republika.co.id, 26/2/2021).

Bukankah masyarakat luas telah menyadari keharaman dan bahaya miras? Bahkan miras adalah pangkal segala kejahatan? Tidakkah cukup menjadi bukti bahwa kasus kejahatan terjadi karena pelakunya mabuk? 

Sungguh publik tersentak akan peristiwa penembakan yang dilakukan oknum polisi pada Kamis, 25 Februari 2021 menjelang subuh hari. Penembakan ini terjadi setelah oknum polisi disodori bill 3,3 juta, usai minum di kafe MR Cengkareng. Tiga orang tewas tertembak, salah satunya adalah anggota TNI AD sedangkan satu orang luka parah dan dirawat di rumah sakit. Peristiwa berdarah ini semakin membuka kesadaran kita akan bahaya miras. Miras tak hanya membahayakan peminumnya saja, tetapi masyarakat luas akan terancam.

Miras telah membuat manusia hilang akal. Makhluk paling sempurna karena dikarunia potensi akal, mampu membedakan baik, buruk, halal, haram, terpuji tercela, mampu berpikir, merenung dan memahami seruan. Kerusakan akal tentu akan membuat manusia hilang kemampuan berpikir, tak lagi mampu membedakan, inilah mengapa miras menjadi pangkal kejahatan.

Untuk semakin memahami larangan dan bahaya miras, berikut dalil-dalilnya:

Pertama Allah Swt. berfirman dalam QS. al-Baqarah ayat 219 yang artinya:

"Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan judi. Katakanlah: "Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya". Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: "Yang lebih dari keperluan". Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berpikir."

Kedua, mengonsumsi miras termasuk perbuatan setan sebagaimana Allah Swt. berfirman dalam QS. al-Maidah ayat 90 yang artinya:

"Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan."

Ketiga, Orang yang mabuk dilarang menunaikan salat. Allah Swt. berfirman dalam QS. an-Nisa ayat 43 yang artinya:

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu salat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekadar berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun."

Keempat, Abdullah bin Umar berkata: "Rasulullah saw. bersabda: 'Siapa yang minum khamr di dunia kemudian tidak bertobat darinya, maka tidak akan diberi (minuman itu) di akhirat.'" (Dikeluarkan oleh Bukhari pada Kitab ke-74, Kitab Minuman bab ke-1, bab firman Allah: "Khamr, judi, menyembelih untuk berhala dan mengundi nasib dengan anak panah itu adalah perbuatan keji."

Kelima, Hadits larangan minum khamr juga diriwayatkan oleh Abu Dawud bahwa Rasulullah saw. bersabda,

"Khamr itu telah dilaknat dzatnya, orang yang meminumnya, orang yang menuangkannya, orang yang menjualnya, orang yang membelinya, orang yang memerasnya, orang yang meminta untuk diperaskan, orang yang membawanya, orang yang meminta untuk dibawakan dan orang yang memakan harganya." (Diriwayatkan oleh Ahmad (2/25,71), Ath-Thayalisi (1134), Al-Hakim At-Tirmidzi dalam Al-Manhiyaat (hal: 44,58), Abu Dawud (3674)).

Keenam, Hadits larangan minum khamr juga disebutkan dalam Imam Ahmad yang meriwayatkan sebuah hadits dari Abu Musa al-Asy'ariy bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Tidak akan masuk surga orang yang senantiasa minum khamr, orang yang percaya atau membenarkan sihir, dan orang yang memutuskan tali silaturrahim. Barangsiapa mati dalam keadaan minum khamr (mabuk) maka Allah kelak akan memberinya minum dari sungai Ghuthah. Yaitu air yang mengalir dari kemaluan para pelacur, yang baunya sangat mengganggu para penghuni neraka." (Isnadnya dha'if. Diriwayatkan oleh Ahmad (4/399), Al-Hakim (4/146), Ibnu Hibban (5346) dan sanadnya dha'if).

Ketujuh, dalam hadits Ibnu Umar Nabi shalallahu alaihi wassalam menyatakan, "Setiap yang memabukkan adalah khamr dan setiap khamr adalah haram." (HR. Muslim no 2003). Jadi semua yang memabukkan disebut khamr baik berupa cairan, benda padat atau gas.

Demikianlah tujuh dalil tentang haramnya khamr, sehingga kaum muslimin harus meninggalkannya. Tidak patut bagi seorang muslim ketika Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan perkara kemudian mencari pilihan lain. 

Semoga kebijakan berbahaya ini tidak membuat masyarakat diam. Masyarakat harus bergerak dan menolak sebagai bukti kecintaan kepada negeri dan generasi. Takutlah kita pada fitnah/musibah yang tak hanya menimpa orang yang berbuat zalim saja. Masyarakat ini ibarat penumpang kapal. Apakah kita membiarkan jika ada orang di kapal tersebut melubangi kapal? Tentu jika yang lain diam, maka semua akan tamat tenggelam. Wallahu a'lam bishshawab.[]

 
Top