Oleh Barozah alfajri

(Pemerhati Masalah Sosial)



Subhanallah, Mahasuci Allah Ialah yang menciptakan makhluk berupa virus yang tak kasat mata tapi pasti adanya, sungguh sangat mudah sekali bagi Allah untuk membuat semisalnya atau bahkan lebih daripadanya.

Kasus Covid-19 semakin hari semakin menjadi, hari demi hari kasus ini terus bertambah meskipun saat ini pemerintah sudah mulai menutup berita tentang kasus ini, entah karena bosan dengan situasi ini ataukah sengaja ditutup supaya rakyat tidak terlalu khawatir dengan situasi yang terjadi di negeri kita tercinta. 

Ponorogo saat ini adalah kota yang memiliki peringkat pertama di Jawa Timur, sungguh kota kecil yang penuh sejarah ini harus menjadi kota yang penambahan kasus terbanyak, betapa menyedihkan bagi kami yang tinggal di sana. Seperti yang diberitakan di detik.com, Jumlah kasus aktif di Jawa Timur hingga Sabtu (6/3) sebanyak 2.922. Daerah dengan kasus aktif Covid-19 terbanyak ada di Ponorogo.

Berdasarkan data Satgas Covid-19 Jatim, Ponorogo menjadi daerah dengan kasus aktif terbanyak yakni 229. Kemudian menyusul Kota Surabaya sebanyak 222 kasus.

Magetan ada di peringkat 3 kasus aktif terbanyak dengan 216 kasus. Menyusul Kabupaten Kediri dengan 175 kasus. Trenggalek melengkapi 5 besar daerah dengan kasus aktif tertinggi di Jatim dengan 160 kasus Covid-19 aktif.

Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya kasus ini belum juga usai, karena seperti yang kita ketahui bersama untuk penanganan kasus ini terlihat sangat tidak tepat sasaran, kita berbaik sangka jika pemerintah sudah berupaya sedemikian rupa untuk mengatasi masalah ini. Tapi perlu kita ketahui bersama, apakah yang dilakukan pemerintah sudah tepat sasaran? 

Maka hal ini perlu kita kaji secara mendalam bagaimana Islam mengatasi masalah berupa wabah yang menular. 

Sejatinya Islam adalah agama yang sempurna, yang memiliki aturan dalam berbagai hal, seperti halnya mengatur penanganan wabah yang menjadi pandemi dalam suatu negeri. 

إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَدْخُلُوهَا، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا مِنْهَا

Artinya: "Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu." (HR. Bukhari).

Kemudian, Rasulullah saw. mengajarkan doa kepada para sahabat dari penyakit deman dan semua penyakit, agar mereka mengucapkan:

“Dengan menyebut nama Allah yang Mahabesar, aku berlindung kepada Allah yang Mahaagung dari kejahatan penyakit na’ar (yang membangkang) dan dari kejahatan panasnya neraka.” (Sunan Ibnu Majah No. 3517).

Dalam sahih Muslim dijelaskan bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda (HR. Muslim No. 2449), bahwa di jalan-jalan masuk ke Kota Madinah ada malaikat pengawal, sehingga bahaya wabah penyakit menular dan bahaya dajjal tidak dapat masuk ke kota itu.

Selain dengan panjatan doa yang terus dilantunkan, maka Islam mengajarkan bahwa negara memiliki peran penting dalam menangani masalah pandemi ini.

Untuk mengatasi wabah penyakit yang sudah menjadi epidemi bahkan pandemi, tidak cukup peran dari segelintir kelompok, komunitas, atau Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Negara harus berperan aktif dalam menangani masalah ini, dengan terus berupaya semaksimal mungkin melakukan hal-hal yang tepat dalam menanganinya. Islam mengajarkan ketika terjadi penyakit menular maka hendaknya antara yang sakit dan yang sehat dipisah, dengan cara mendeteksi penyakit sejak dini, dan ini dilakukan dengan cuma-cuma, karena kesehatan merupakan hak rakyat kewajiban negara. 

Negara juga bisa mengimbau rakyatnya untuk melakukan upaya mencegah terjangkit virus corona. Di antaranya melakukan penyuluhan kepada rakyat agar menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).

Melakukan lokcdown juga himbauan Rasul ketika terjadi virus yang menyebar..Seperti yang beliau sabdakan,

إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَدْخُلُوهَا، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا مِنْهَا

Artinya: "Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu." (HR. Bukhari).

Negara juga harus memenuhi kebutuhan pokok (makan) warga negaranya sehingga dapat hidup sehat, cukup nutrisi, dan memiliki pola makan seimbang. 

Itu dilakukan di wilayah karantina, sedangkan wilayah yang tidak dikarantina mereka tetap melakukan aktivitas seperti biasa, sehingga roda perekonomian tetap berjalan sebagaimana mestinya. 

Berbeda sekali dengan kehidupan saat ini, dalam keadaan pandemi, yang sudah tak terkonrol penularannya. Masyarakat harus terus mencari ekonomi demi memenuhi kebutuhan hidup mereka, meskipun sejatinya mereka tak ingin jika penyakit menular itu menghampiri. Namun tak ada pilihan lagi, peran negara yang tergolong hanya mementingkan sisi ekonomi dan untung rugi menjadikan nyawa rakyat hilang tak terkendali. Begitulah potret penerapan sistem kapitalis demokrasi. Hanya Islam yang mampu menangani berbagai masalah yang terjadi, terlebih masalah pandemi saat ini. Semoga Allah segera menurunkan pertolongan-Nya dengan diterapkannya sistem Islam yang mulia, agar umat kembali berjaya. 

Wallahu a'lam bishshawab.

 
Top