Oleh Ria Astina
(Aktivis Muslimah Muara Enim)

Masyarakat kembali dikagetkan dengan penemuan virus Corona varian baru B117. Pemerintah mengonfirmasi, mutasi virus corona jenis baru yang dinamakan B117 sudah masuk ke Indonesia. Sebelumnya, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil melaporkan bahwa varian baru virus Corona dari Inggris, B117 ditemukan di Kabupaten Karawang. (Kompas.com, 3/3/2021)

Virus Corona jenis B117 pertama kali ditemukan di Inggris.  Pemerintah Inggris mengumumkan penemuan strain baru SARS-CoV-2 yang bermutasi dengan nama Corona B117 pada September 2020. Epidemiolog Griffith University, Australia, Dicky Budiman, menyebut ancaman yang terdapat pada virus Corona B117 ini cukup serius. Corona B117 lebih cepat menular dan juga dapat menyumbangkan 60% angka kasus terinfeksi COVID-19 di kota tersebut. Ia juga menyebut situasi pandemi di Indonesia saat ini akan memasuki masa kritis. [detikINET, 3/3/2021]

Ditengah meningkatnya kecemasan masyarakat terhadap varian baru virus Corona B117, Presiden RI dalam unggahan video youtube Sekretariat Presiden (4/3) mengatakan agar masyarakat tidak perlu khawatir dan melakukan solusi vaksinisasi yang di gadang-gadang mampu menyelesaikan penyebaran virus.

Abainya Peran Negara di Tengah Pandemi

Miris, Di saat harus mengambil sikap waspada dan antisipatif, pemerintah justru menganggap remeh virus Corona. Pemerintah juga meminta agar berita mengenai virus ini tidak harus digaungkan, mereka betul-betul menganggap negeri saat ini seolah baik-baik saja.

Ditambah lagi Moeldoko dan Ganjar yang menyebut bahwa RS sengaja meng-covid-kan pasien untuk mengambil keuntungan, hal ini sungguh melukai perjuangan para dokter dan tenaga kesehatan. Hal semacam ini sangat berbahaya, karena masyarakat akan menganggap bahwa ini merupakan pembenaran mengenai isu Covid.

Masyarakat akan termakan isu bahwa Covid ini hanya rekayasa dari pihak-pihak rumah sakit agr dapat dijadikan ladang bisnis mereka. Padahal bagi pihak rumah sakit, untuk memutuskan seorang pasien positif Covid tidaklah mudah. Disi lain, pemerintah justrus melemahkan kepercayaan masyarakat terhadal tenaga medis dan rumah sakit. Jika masyarakat tidak percya akan hal itu, maka penangan virus Corona ini tidak akan berjalan dengan baik.

Maka, Negara juga harus berperan penting disaat kritis wabah yang melanda negeri ini. Negara  harus memastikan setiap doter dan tenaga medis menjalankan tugas Dan fungsinya dengan rasa tanggung jawab, Negara juga harus memastikan masyarakat mendapat layanan kesehatan dengan baik dan maksimal.

Islam Solusi Pandemi

Pemerintah tidak serius dalam menangani wabah ini, sejak awal Indonesia karut-marut dalam penanganan wabah Covid ini. rezim sering kali tak mendengar suara para pakar, saat para pakar epidemiologi menyerukan untuk lockdown agar wabah tak menyebar.

Alih-alih mengindahkan, rezim malah memberlakukan PSBB, yang disebut oleh beberapa pengamat merupakan wujud kompromi antara suara rakyat dan suara korporasi.
Alhasil, Indonesia dapat dikatakan sebagai salah satu negara yang tidak memiliki persiapan cukup untuk mengantisipasi penularan Covid-19 di dalam negeri, sehingga penyebarannya kian masif bahkan setelah setahun berlalu.

Penanganan wabah pada dasarnya bersifat universal, bisa diadopsi siapa pun, negara mana pun, bahkan dalam sistem apa pun. Selain itu, upaya penanganan wabah harus tetap dipersiapkan meski munculnya wabah tidak mampu diprediksi. Hal ini membutuhkan adanya koordinasi dengan berbagai sektor yang bersinggungan langsung dengan kemaslahatan rakyat.

Masa pandemi yang tak kunjung reda serta berbagai problematik yang muncul karenanya, merupakan bukti terhadap kegagalan sistem kapitalisme dalam menanggulangi pandemi. Sistem batil yang menjadikan akal manusia sebagai pemutus perkara, telah menghantarkan pada kebijakan yang hanya mengakomodasi kepentingan penguasa. Dalam sistem ini adalah para pemilik modal. Lihat saja bagaimana para pejabat begitu membungkuk dan menggelar karpet merah pada korporasi, agar kemaslahatan mereka terlindungi. Jadi wajar jika kebijakannya disetir oleh korporasi.

Berbeda dengan Islam, sistem buatan Allah Swt yang menjadikan syariat yang dibawa Nabi saw. menjadi pemutus seluruh perkara. Sehingga para penguasa dalam Islam hanya membungkuk dan bersujud pada Allah Swt. Seluruh kebijakannya independen, terbebas dari setiran pihak mana pun. Dan menjadikan kemaslahatan rakyat sebagai fokus utamanya. Termasuk juga dalam menangani wabah. Islam sangat serius dalam menyelesaikannya.

Rasulullah saw.bersabda :
Apabila kalian mendengarkan wabah di suatu tempat maka janganlah memasukir tempat itu, dan apabila terjadi wabah sedangkan kamu sedang berada di tempat itu maka janganlah keluar rumah.” (HR Muslim)

Kebijakan ini juga serupa dengan kebijakan lockdown atau karantina wilayah yang memang mengunci satu wilayah agar pergerakan wabah tak keluar dari wilayah tersebut. Konsekuensinya, seluruh kebutuhan pokok umat dipenuhi negara dan wabah pun akan cepat mereda.

Dalam Tulisan Profesor Ahmad Rusydan Utomo, PhD, yang berjudul “Kebijakan Islam dalam Menangani Wabah Penyakit, 2020”. Khalifah pernah menerapkan penggunaan vaksin kepada masyarakat, saat wabah smallpox (cacar air) melanda Khilafah Utsmani di abad ke 19.

Sikap tegas khalifah menjadikan warganya mengikuti anjurannya. Akhirnya, wabah tersebut dapat teratasi dengan tindakan tegas dan cepat Khalifah terhadap kondisi masyarakat. Kebijakan Khalifah yang berdiri sendiri tanpa campur tangan asing, telah menghantarkan pada kebijakannya yang selalu ada maslahat bagi umat.

Gelontoran dana begitu besar kepada para peneliti, untuk bisa cepat menemukan vaksin yang aman dan efektif. Daulah tidak mengandalkan vaksin dari negara lain, apalagi negara kafir harbi. Kebijakannya yang memang berfokus pada umat, akan serta merta menjadikan umat percaya pada pemerintah, semua kebijakannya adalah yang terbaik bagi warganya. Berbeda dengan sistem sekuler kapitalis yang selalu saja memproduksi kebijakan yang menzalimi umat. Menjadikan pemimpinnya justru mendapatkan kebencian, bukan kepercayaan.

Oleh karena itu, urusan apa pun termasuk vaksinasi, jika dijalankan dalam sistem sekuler kapitalis akan berakhir pada kemudaratan. Bisnis menjadi ruh dalam setiap kebijakannya. Agar kita bisa menyelesaikan permasalahan pandemi ini, tak ada cara lain selain berjuang mengembalikan kehidupan Islam. Agar penguasanya adalah pemimpin yang bersungguh-sungguh dalam menyelesaikan permasalahan umat.
Wallahu a'lam

 
Top