Oleh: Hany Handayani, S.P

(Penggiat Literasi) 


Kaum muslim Indonesia meradang, disinyalir dari peraturan presiden yang mengatur pembukaan investasi baru industri miras yang mengandung alkohol menuai banyak penolakan (detik.com, 2/3/2021). Masukan, kritik, saran serta protes keras pun dilayangkan oleh segenap lapisan masyarakat. 

Wajar karena sebagian besar masyarakat Indonesia adalah muslim. Dalam ajaran Islam, baik Miras maupun Minol merupakan barang haram yang harus diberantas. Dari Ibnu Umar berkata, sesungguhnya Rasulullah Saw bersabda, “Segala hal yang memabukkan adalah khamar dan setiap khamar adalah haram.” (HR. Muslim)

Maka masyarakat menuntut agar pemerintah tidak meloloskan peraturan presiden yang dianggap sebagai biang dari segala tindak kriminal dan kejahatan yakni minuman keras serta minuman beralkohol. Karena dampak negatif yang akan terjadi cukup besar, bukan hanya berdampak pada yang mengkonsumsi saja namun orang disekitarnya juga. 

Setidaknya ada sepuluh dampak akibat mengkonsumsi khamar yang perlu dipertimbangkan. Pertama, khamar akan membuat peminumnya seperti orang gila. Orang yang meminum khamar akan terlihat seperti orang yang kehilangan akal atau gila. Abu Abi Dunya suatu ketika pernah melihat orang mabuk yang buang air kecil sembarangan dan kemudian ia ngusap-usapkan air kencing tersebut seperti orang gila

Kedua, Khamar bisa merusak harta. Umar bin Khathab pernah menanyakan apa pendapat Rasulullah tentang  khamar beliau mengatakan, “khamar itu merusak harta dan menghilangkan akal.”

Ketiga, meminum  khamar bisa mengakibatkan  permusuhan dan perkelahian di antara saudara, teman dan manusia. Sebagaimana Allah berfirman (QS. Al-Maidah: 91),” Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi.”

Keempat, menghalangi Mengingat Allah dan Solat. Karena itu Allah menyuruh umat-Nya agar berhenti meminum minuman tersebut. Sebagaimana Allah berfirman (QS. Al-Maidah: 91), ”(karena itu) menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).”

Kelima, meminum khamar salah satu penyebab terjadinya zina. Sebab terkadang orang yang mabuk secara tidak sadar ada yang mentalak istrinya namun tetap menggaulinya di kemudian hari. Keenam, khamar adalah kunci segala kemaksiatan dan keburukan. Sebab khamar akan memudahkan peminumnya melakukan perbuatan-perbuatan yang tercela.

Ketujuh, khamar menyebabkan peminumnya memasuki lingkungan masyarakat yang buruk dan menjerumuskannya pada pergaulan yang buruk pula. Delapan, Peminum khamar diancam hukuman cambuk 80 kali. Sekalipun tidak dicambuk di dunia maka sesungguhnya kelak di akhirat ia akan mendapatkan cambukan tersebut dengan tali cambuk besi yang dipanaskan api neraka. 

Sembilan, Pintu langit akan menolak segala amalan dan doanya, karena seseorang yang meminum khamar doanya tidak akan diterima selama 40 hari. Selain itu, pahala dan kebaikan yang ia lakukan akan terhapus. Sepuluh, minum khamar menyebabkan imannya akan tercabut saat meninggal, ini salah satu hukuman dunia. Adapun hukuman di akhirat tidak bisa terhitung. 

Karena itu hendaknya muslim yang pintar dan menyadari ancaman-ancaman tersebut akan merasa tidak rela menukar kenikmatan yang kekal di akhirat dengan kenikmatan yang sebentar di dunia. Mereka akan berjuang agar terhindar dari segala kerusakan akibat konsumsi dan pengedaran miras terutama pada generasi muda. 

Mengingat daya rusak minuman keras terhadap masa depan bangsa terutama bagi generasi muda cukup membahayakan, karena peredarannya yang relatif terbuka. Minuman beralkohol mudah didapatkan di warung atau kios, yang harganya cukup murah sehingga anak-anak usia sekolah pun dapat dengan mudah membeli miras. 

Sri Wahyuningsih, aktivis Gerakan Nasional Anti Miras Tangerang Selatan, mengatakan banyak kasus ditemukan anak-anak usia sekolah iuran membeli miras untuk dinikmati bersama-sema. “Sebab, tidak seperti narkoba yang relatif sulit didapat, miras itu gampang sekali mendapatkannya dan harganya pun cukup murah, ada yang hanya Rp15.000 per botol,”

Di sisi lain, melihat dan mendengar banyak masukan dari beragam kalangan termasuk MUI akhirnya demi menjaga agar kontroversi di tengah masyarakat tentang Miras ini mereda, Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada Selasa (2/3/2021) mencabut lampiran Perpres 10/2021 tentang Bidang Usaha Penanaman Modal. 

Banyak kalangan yang memuji keputusan beliau. Sematan kepemimpinan demokratis dan tidak otoriter mengalir deras. Pujian sebagai seorang pemimpin yang mau mendengarkan kritik dan saran yang membangun pun ikut terselip. 

Namun kita sebaiknya jangan merasa lega dulu, sebab yang dicabut oleh presiden hanya lampirannya saja. Sedangkan harapan masyarakat tentang miras yang dilarang secara total peredarannya akan pupus lantaran pada kenyataannya tidak otomatis miras menjadi ilegal di jual belikan di Indonesia. 

Hal itu tertuang dalam lampiran Bidang Usaha No. 44 tentang Perdagangan Eceran Minuman Keras atau Beralkohol dan No. 45 tentang Perdagangan Eceran kaki Lima Minuman Keras atau Beralkohol. Semua itu yang menjadi payung hukum bagi legalitas perdagangan Miras di Indonesia. Maka kemungkinan bagi peluang investasi Miras di negeri ini secara legal akan selalu ada. 

Selama sistem saat ini yang digunakan bukan sistem Islam, potensi kejahatan dan tindak kriminalitas termasuk kebijakan yang tidak sesuai dengan syara akan makin menggila. Harapan masyarakat untuk memberantas miras hingga tuntas hanya bisa terlaksana ketika negeri ini juga diatur oleh sistem yang sesuai dengan syara. Maka bersegera kepada syariah adalah langkah nyata guna mewujudkan kehidupan yang bebas dari miras dan minol sekaligus memenuhi kewajiban utama yakni tunduk dan patuh terhadap sistem yang telah Rasul contohkan. 

Wallahu'alam bishowab.

 
Top