Oleh Rifka Nurbaeti, S.Pd.


Kementerian Agama (Kemenag) dan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) akan bersinergi untuk mengampanyekan moderasi beragama ke masyarakat internasional. Rencana kerja sama itu muncul setelah Sekretaris Jenderal Kemenag Nizar bertemu dengan Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik (Dirjen IDP) Kemenlu Teuku Faizasyah di Kantor Kemenag. Ia berharap Kemenag bisa menyertai Kemenlu untuk menyiapkan konten kampanye soal moderasi beragama di tingkat global. Faizasyah mengatakan, kerja sama antara Kemenag dan Kemenlu juga pernah terjadi, salah satunya program dialog lintas agama. Ia menilai pembaruan format dialog lintas agama juga perlu dipertimbangkan agar dapat disesuaikan dengan kebutuhan umat beragama di Indonesia dan global. Faizasyah menambahkan, Kemenlu siap memfasilitasi tokoh-tokoh agama dunia dalam dialog lintas agama di Indonesia. (Kompas.com)

Gerakan moderasi yang secara sistemik, terstruktur serta masif diaruskan terutama di kalangan pelajar dan generasi muda telah menjadi penghalang lahirnya sosok generasi pelanjut perjuangan Islam. Program-program untuk menunjang moderasi agama di lingkungan pendidikan pun terus bermunculan seperti: pembekalan moderasi agama perspektif fikih pada guru madrasah, program pembekalan literasi agama lintas budaya untuk guru madrasah, juga program penyusunan modul moderasi PAI di sekolah yang terus dikebut oleh Kemenag, serta program moderasi lainnya yang informasi bisa ditelusuri dalam web resmi Kemenag. (kemenag.go.id)

Banyak arti yang dimaksudkan untuk menjelaskan kata moderasi agama, salah satunya yang disampaikan oleh Prof. Dr. Oman Fathurahman, M.Hum (Ketua Kelompok Kerja Moderasi Beragama Kementerian Agama RI) yang dimuat dalam kemenag.go.id. Moderasi beragama adalah cara pandang, sikap, dan praktik beragama dalam kehidupan bersama, dengan cara mengejawantahkan esensi ajaran agama yang melindungi martabat kemanusiaan dan membangun kemaslahatan umum, berlandaskan prinsip adil, berimbang, dan menaati konstitusi sebagai kesepakatan berbangsa.

Sepintas tidak ada masalah dengan batasan ini, seolah baik-baik saja. Namun, jika dikaitkan dengan pernyataan beliau yang lain masih dalam tulisan yang sama bahwa moderasi agama dibutuhkan karena adanya sikap ekstrem dalam beragama. Sementara ekstrem yang dimaksud memiliki 3 patokan yakni, pertama, dianggap ekstrem kalau atas nama agama, seseorang melanggar nilai luhur dan harkat mulia kemanusiaan, karena agama diturunkan untuk memuliakan manusia. Kedua, dianggap ekstrem kalau atas nama agama, seseorang melanggar kesepakatan bersama yang dimaksudkan untuk kemaslahatan; dan ketiga, dianggap ekstrem kalau atas nama agama, seseorang kemudian melanggar hukum. Jadi, orang yang atas nama menjalankan ajaran agamanya tapi melanggar ketiga batasan ini, bisa disebut ekstrem dan melebihi batas.

Pernyataan pada kalimat terakhir menegaskan bahwa moderasi agama itu berbahaya. Ajaran agama dikerdilkan oleh batasan-batasan yang dibuat oleh manusia berupa harkat mulia manusia, kesepakatan bersama, dan batasan hukum. Siapa yang berhak memastikan kebenaran ketiga batasan tersebut sehingga agama harus tunduk? Kenapa orang yang menjalankan agamanya dituduh ekstrem hanya karena dianggap melanggar batasan yang dibuat oleh manusia? Apakah aturan agama yang berasal dari Pencipta manusia yang Maha Tahu harus dikalahkan oleh aturan manusia?

Jika moderasi agama yang dimaksud seperti itu maka jelas-jelas bertentangan dengan akidah Islam. Seorang muslim harus memiliki keyakinan kuat bahwa Islamlah ajaran yang benar, bahwa ajaran Islam akan mengangkat martabat manusia, ajaran Islam menyelamatkan manusia dari kejahiliyahan. Hanya dengan keimanan yang sempurnalah yang akan memberikan kebahagiaan hidup di dunia dan keselamatan kelak di akhirat. Meyakini akidah lain selain Islam akan berujung pada kerugian yang pasti. (QS Ali Imran [3]: 19 dan 85)

Sama halnya dengan ide demokrasi, liberalisme, pluralisme, dan isme-isme lainnya, moderasi agama dijadikan senjata bagi Barat untuk melemahkan dan menjauhkan umat Islam terutama generasi muslim terhadap agamanya. Begitulah wajah asli orang kafir, sebagaimana diterangkan Allah Swt., “Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepadamu (Muhammad) sebelum engkau mengikuti agama mereka. Katakanlah, 'Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya)'. Dan jika engkau mengikuti keinginan mereka setelah ilmu (kebenaran) sampai kepadamu, tidak akan ada bagimu pelindung dan penolong dari Allah”. (QS al Baqarah [2] : 120)

Wallaahu a'lam bishshawaab

 
Top