Oleh Fidalia Siti N, S.KM

(Aktivis Dakwah & Komunitas Menulis Muslimah Jambi)


Rajab, moment dimana umat ini wajib mengingat bahwa dahulu, pernah sejarah mengukir gemilangnya dunia dengan sistem peradaban Islam. 100 tahun bukanlah waktu yang sebentar umat ini kehilangan sistem perisai dan pelindung. Ketiadaannya di dalam sendi kehidupan membuat kita semakin berpikir bahwa umat saat ini sangat butuh dengan sistem yang bernama “Khilafah”. Islam sebagai din bukan hanya sekadar agama ritual belaka. Islam memiliki konsep menyeluruh di dalam mengatur semua aspek kehidupan. Dari hubungan yang berkaitan dengan ibadah, sanksi, uqubat dan muamalah, politik, ekonomi, hukum, sosial serta budaya. Bisa kita lihat contoh kecil saja, umat kehilangan pelindung ketika tidak bisa lagi melaksanakan seluruh hukum syara’. Contohnya seperti adanya pelarangan penggunaan hijab 11 negara, pelarangan ini jika dilihat dari sisi pelanggaran HAM, maka seharusnya sudah menjadi perhatian khusus dari umat Islam sendiri. Konflik Palestina yang tidak kunjung reda, kemiskinan, Riba merajalela, yang paling berat adalah digantikannya hukum syara’ dengan UU Barat yang semakin sekuler dan telah mengakar ke tengah-tengah kedudukan kaum muslim. Mengapa kemunduran umat Islam bisa terjadi?

Satu pertanyaan pun muncul, kemunduran umat Islam terjadi karena diawali dengan diremehkannya bahasa Arab, pemahaman tentang tsaqofah Islam mulai diacuhkan, umat tidak lagi menganggap penting pemahaman Islam tersebut. Ditambah lagi dengan umat diberikan gambaran khayalan yang jitu bahwa UU Barat itu lebih baik dari hukum syara’ dan layak untuk diterapkan di dunia. Dalam kitab Ad Daulah karangan Syekh Taqiyuddin An Nabhani dijelaskan tentang faktor-faktor melemahnya Daulah Islam adalah salah satunya bahwa Islam itu akan kuat jika di dalam umat Islam selain dia memiliki jiwa Islam yang kuat, pemahaman yang kuat dan senantiasa dipegang teguh oleh pemeluknya, dan faktor yang lain adalah penerapan terhadap hukum-hukum syara’. Jika ini ditinggalkan, maka kelemahan dan kemunduran pada tubuh umat sendiri akan terjadi. Bahkan satu per satu ikatan akidah Islamlam mulai terlepas dan lenyaplah dari tubuh kaum muslimin di seluruh dunia. Ada apa dengan UU Barat dan kaum muslimin?

The point at issue is that Turkey has been destroyed and shall never rise again, because we have destroyed her spiritual power: the Caliphate and Islam (Inti permasalahannya adalah bahwa Turki telah dihancurkan dan tidak akan bangkit kembali karena kita telah menghancurkan jantung kekuatan spiritualnya: Khilafah dan Islam).” Demikian jawaban Lord Curzon, Menlu Inggris, yang diprotes karena Inggris mengakui kemerdekaan Turki.

Turki salah satu negara dengan sistem khilafah terakhir yang dihapuskan di dunia, khilafah dihapuskan sejak 3 Maret 1924 oleh Mustafa Kemal Attaturk. Kemerdekaan Turki secara resmi diakui dengan penandatanganan Traktat Lausanne. Inggris dan sekutu-sekutunya menarik semua pasukannya dari Turki yang ditempatkan sejak akhir PD I. Penghapusan sistem khilafah dilakukan sebagai bagian dari syarat yang diajukan oleh Inggris untuk mengakui kekuasaan Mustafa Kemal Attaturk atas negara Turki. Keempat syarat itu adalah: (1) Menghapus sistem khilafah; (2) Mengasingkan keluarga Utsmaniyah di luar perbatasan; (3) Memproklamirkan pendirian negara sekuler; (4) Pembekuan hak milik dan harta milik keluarga Utsmaniyah (Mahmud Syakir, Târîkh al-Islâm, VIII/233). Maka sejak dihapuskan sistem khilafah, umat semakin beradaptasi dengan UU sekuler yang berasal dari Barat, filsafat digunakan, fatwa mudah dikeluarkan untuk mengatur seluruh aspek kehidupan. Sejak itu pula, umat berdampingan hidup dengan UU Barat dan semakin jauh dari pemahaman hukum syara’ yang sebenarnya. Bagaimana umat Islam, tanpa khilafah?

Khilafah sudah berlalu selama 100 tahun, umat kehilangan gambaran seperti apa sistem yang haq ini. Semakin terlihat di seluruh dunia memiliki permasalahan kompleks, karena dunia saat ini menggunakan konsep UU Barat dan kapitalisme. Kapitalisme diemban oleh seluruh negeri di penjuru dunia. Diagungkan, dipuja. Dan bisa dibayangkan saat ini umat Islam seperti buih di lautan. Terlihat banyak, tapi tidak memiliki kuasa penuh di muka bumi. Penyiksaan fisik semakin parah terjadi di Palestina, Suriah. Umat tidak memiliki rumah pelindung terbaik saat mereka sedang terzalimi. UU Barat semakin mengukuhkan taringnya di muka bumi. 

Umat Islam, tanpa khilafah seperti ikan yang hidup di daratan. Dia kehilangan arah dan tujuan, jauh dari hukum- hukum Allah dan di sisi terburuk adalah umat semakin lupa bahwa dia adalah manusia terbaik di muka bumi. Terlepas dari kontroversi pro dan kontra terhadap sistem khilafah, tetap bahwa khilafah adalah sistem terbaik yang Allah turunkan untuk mengatur seluruh aspek kehidupan yang dijalaninya. Dan umat ini harus kembali bangkit untuk mewujudkan kembaIi sistem mulia ini, tidak lain dia adalah sistem Khilafah Islamiyah. Wallahu a’lam bishshawab.

 
Top