Oleh Rismawati, S. Pd.

(Pengemban Dakwah Islam)


Akhir-akhir ini kita sedang disuguhkan banyak berita terkait Islam. Ada berita tentang syariat Islam yang dikriminalisasi, pernikahan muda yang dilarang, beberapa dakwah para ulama dibubarkan, hingga pada berita tentang wakaf yang baru-baru ini sedang tren dalam dunia pemerintahan. Namun, sungguh miris karena dalam berita syariat itu ditolak, sementara masalah wakaf justru digencar-gencarkan di tengah umat. Seolah Islam itu hanya mewajibkan wakaf sementara syariat itu tidak wajib.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Wakil Presiden KH. Ma'ruf Amin bahwa, selama ini wakaf uang cash hanya di peruntukan pada madrasah, mesjid, dan pemakaman saja. Karena itu, jika dikembangkan pasti akan menjadi dana yang besar sehingga bisa diinvestasikan untuk memperkuat sistem keuangan nasional Indonesia. (Republika.co.id, 24/10/2020)

Di samping itu, dalam Istana Negara, pada hari Senin tanggal 25 Januari 2021 Presiden Joko Widodo telah meluncurkan Gerakan Nasional Wakaf Uang (GNWU). Pada saat itu, beliau mengatakan bahwa cakupan pemanfaatan wakaf perlu diperkuat agar tidak hanya pada batasan untuk ibadah saja, melainkan harus diperluas pemanfaatannya untuk tujuan sosial dan ekonomi. (Republika.co.id, 30/01/2021)

Dari pernyataan berita di atas, kita dapat melihat bahwa wakaf sangat digencarkan oleh negara karena mampu memberikan banyak manfaat, salah satunya dapat meningkatkan perekonomian negara. Jadi, tidak heran jika pemerintahan mengadakan GNWU. Namun, sungguh miris ketika hanya wakaf yang digencarkan tetapi syariat justru diabaikan, padahal wakaf dan syariat dua-duanya terikat dengan Islam.

Dalam otak sistem demokrasi yang ada hanyalah materi semata. Karena itu, selama agama masih menguntungkan bagi para kapitalis, maka selama itu juga mereka akan mengagungkannya. Namun, apabila agama itu mulai mengguncang kedudukan mereka, mereka tidak akan segan untuk terang-terangan menolak dan menjauhkan agama dari kehidupan umat.

Bagaimana Bentuk Wakaf Tunai dalam Islam?

Dalam Islam, ada dua perbedaan pendapat tentang bentuk wakaf.,

Pertama, Tidak membolehkan wakaf tunai. Ini pendapat mayoritas fukaha Hanafiah, pendapat mazhab Syafi’i, dan pendapat yang sahih di kalangan fukaha Hanabilah dan Zaidiyyah.

Kedua, membolehkan wakaf tunai. Ini pendapat ulama Malikiyyah, juga satu riwayat Imam Ahmad yang dipilih Ibnu Taimiyyah (Majmu’ul Fatawa, 31/234) dan juga satu pendapat (qaul) di kalangan fuqaha Hanafiyah dan Hanabilah. (Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah, 44/167; Wahbah Zuhaili, Al Fiqh Al Islami wa Adillatuhu, 10/298; Al ‘Ayyasyi Faddad, Masa`il fi Fiqh Al Waqf, hlm. 8-9)

Sumber perbedaan pendapat di atas sebenarnya terkait dengan uang sebagai barang wakaf, apakah bendanya tetap ada atau akan lenyap. Pendapat yang tak membolehkan beralasan, sebagaimana kata Imam Ibnu Qudamah,”Karena wakaf itu adalah menahan harta pokok (al ashl) dan memanfaatkan buahnya, dan sesuatu yang tak dapat dimanfaatkan kecuali dengan lenyapnya sesuatu itu, tak sah wakafnya.” (Ibnu Qudamah, Al Mughni, 8/229)

Sedang pendapat yang membolehkan, mengatakan uang yang diwakafkan sebenarnya tak lenyap, karena disediakan gantinya (badal), yaitu uang yang senilai. (Abu Su’ud Muhammad, Risalah bi Waqf al Nuqud, hlm. 31; Abdullah Tsamali, Waqf Al Nuqud, hlm. 11-12; Ali Muhammadi, Waqf Al Nuqud Fiqhuhu wa Anwa’uhu, hlm. 159-163; Ahmad Al Haddad, Waqf Al Nuqud wa Istitsmaruha, hlm. 30-40)

Yang lebih kuat (rajih) menurut kami pendapat yang tak membolehkan wakaf tunai, dengan 3 (tiga) alasan sebagai berikut:

Pertama, pendapat yang tak membolehkan lebih sesuai dan lebih dekat kepada definisi syar’i (ta’rif syar’i) bagi wakaf, yang mensyaratkan tetapnya zat harta wakaf (ma’a baqaa`i ‘ainihi). Sebab definisi wakaf adalah menahan harta yang dapat diambil manfaatnya dengan mempertahankan benda/zat harta itu (ma’a baqaa`i ‘ainihi), dengan tidak melakukan tindakan hukum (tasharruf) terhadap benda itu (menjual, menghibahkan, dan seterusnya), untuk disalurkan kepada sesuatu yang mubah. (Imam Shan’ani, Subulus Salam, 3/87; Imam Ibnu Qudamah, Al Mughni, 4/231; Imam Syairazi, Al Muhadzdzab, 1/575)

Wakaf uang tak memenuhi syarat ini, karena zat uang akan segera lenyap ketika digunakan. Berhujah dengan definisi syar’i ini sesungguhnya adalah berhujah dengan nash syar’i, karena definisi syar’i hakikatnya adalah hukum syar’i yang diistinbath dari nash-nash syar’i. (Taqiyuddin Nabhani, Izalatul Atribah ‘Anil Judzur, hlm. 1-2; Al Syakhshiyyah Al Islamiyyah; 3/443)

Kedua, pendapat yang tak membolehkan wakaf tunai berarti berpegang dengan hukum asal (al ashl), yaitu benda wakaf harus dipertahankan zatnya. Sedang pendapat yang membolehkan berarti menyalahi hukum asal (khilaful ashl), yaitu benda wakaf boleh lenyap zatnya asalkan diganti yang senilai. Berpegang dengan hukum asal adalah sesuatu yang yakin, sedang menyalahi hukum asal masih diragukan, kecuali ada dalilnya. Kaidah fiqih menyebutkan: al yaqiin laa yuzaalu bi al syakk (sesuatu yang yakin tak dapat dihilangkan dengan keraguan). (Jalaluddin Suyuthi, Al Asybah wa An Nazha`ir, hlm. 50)

Ketiga, pendapat yang membolehkan wakaf tunai sesungguhnya lebih bersandar kepada dalil kemaslahatan (Mashalih Mursalah). (Abdullah Tsamali, Waqf Al Nuqud, hlm. 13-14). Padahal Mashalih Mursalah bukan dalil syar’i yang mu’tabar (kuat). (Taqiyuddin Nabhani, Al Syakhshiyyah Al Islamiyyah; 3/441). Dikutip dari tulisan Ustadz M. Siddiq al-jawi.

Wakaf dalam Kacamata Islam

Dalam Islam, wakaf telah ditetapkan pengelolaannya berdasarkan Al-Qur'an dan Sunah Rasulullah saw. Oleh karena itu, harta wakaf menurut ajaran Islam, hanya diambil manfaatnya, sementara barang asalnya harus tetap tidak boleh diperjualbelikan atau dihibahkan, apa lagi diwariskan.

Wakaf dalam Islam dikategorikan sebagai cara untuk meraih pahala dari Allah Swt. Karena wakaf akan memberi amal jariyah kepada pelakunya, yang artinya; siapa yang melakukan wakaf untuk kepentingan agama Allah, maka sekalipun dia telah meninggal amalnya tetap mengalir selama apa yang dia wakafkan itu masih dipergunakan di jalan Allah. Keutamaan sedekah wakaf sebagai amal jariyah juga telah tertera dalam sabda Nabi Muhammad saw.,

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang saleh.” (HR. Muslim)

Oleh karena itu, kita dapat memahami bahwa wakaf itu adalah bagian dalam syariat Islam. Karena itu, jika menginginkan wakaf diterapkan di tengah umat, maka syariat Islam pun tidak boleh ditolak. Karena wakaf dan syariat adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan.

Namun tanpa Daulah Islam, syariat hanya akan dihempaskan oleh para kapitalis dan yang akan diambil hanya wakaf semata. Karena wakaf dapat memberi keuntungan bagi kapitalis. Selain itu mereka juga akan memplesetkan makna wakaf sebenarnya. Karena itu, saatnya umat bangkit dari tipu daya sistem kufur ini, dan kembali menyuarakan sistem Islam untuk ditegakkan. Karena hanya sistem Islamlah yang bisa mempergunakan wakaf sebagaimana mestinya. Wallahu a’lam bishshawab.

 
Top