Virus Merah Jambu (Valentine Day) yang Membahayakan Akidah


Oleh Hamsina Halisi Alfatih


Siapa yang tidak kenal si virus merah jambu? Ini bukan nama buah atau nama warna, melainkan plesetan dari nama valentine. Mungkin sebagian dari kita memandang bahwa valentine merupakan perayaan hari kasih sayang. Hari dimana semua yang memiliki pasangan saling memberi hadiah bahkan tak tanggung-tanggung keperawanan pun siap dikorbankan dan hal ini dilakukan rata-rata oleh pasangan muda mudi yang bukan suami istri.

Cukup mengherankan atau biasa saja? Budaya gaul bebas ala Barat memang tak hanya muncul saat-saat moment istimewa. Budaya gaul bebas ini mungkin bisa kita dengar dan melihat sendiri hampir setiap hari. Tak terbayang bagaimana kelak kondisi nasib generasi muda, apalagi yang berperan sebagai perempuan.

Budaya gaul bebas menjadi konsumtif para generasi muda sudah bukan hal yang mengherankan lagi. Budaya Barat yang kental dengan kebebasannya ini telah menjadi corak yang begitu kuat pengaruhnya terutama bagi generasi muda. Tak bisa pula kita pungkiri akan banyaknya kasus hamil di luar nikah dan aborsi akibat budaya gaul bebas.

Maka, dalam menyambut hari valentine tepat di tanggal 14 Februari akan menjadi ajang pesta seks bebas yang dominan dilakukan oleh muda mudi tanpa ikatan pernikahan. Valentine's day, hari yang identik dengan kasih sayang ini dipercaya bermula dari kisah pengorbanan Santo Valentine yang dieksekusi Kaisar Romawi Claudius II karena menikahkan para prajurit. Namun, asal-mula Hari Valentine masih jadi perdebatan lantaran sebagian sejarawan meyakini kisah Santo Valentine berlangsung pada bulan Mei.

Beberapa sejarawan pun memperkirakan tradisi hari valentine berasal dari perayaan Lupercalia di zaman Romawi kuno untuk mengusir roh jahat, menyucikan kota, meningkatkan kesuburan. Namun, berbeda dari hari valentine saat ini yang penuh kasih sayang, Lupercalia justru dirayakan dengan cara yang kelam, seperti menyembelih anak anjing, berkeliaran tanpa busana di jalan, hingga mencambuk wanita.

Budaya Barat yang jelas sangat-sangat merusak apalagi mengancam akidah kaum muslim ini justru menjadi perayaan yang biasa saja. Padahal berdasarkan asal-usulnya, valentine's day jelas haram hukumnya ketika muslim ikut merayakannya karena termasuk tasyabbuh bil kuffar. 

Merayakan valentine’s day berarti meniru kebiasaan orang kafir. Karena budaya kaum muslimin tidaklah seperti itu. Dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad 2: 50 dan Abu Daud no. 4031)

Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِغَيْرِنَا

“Bukan termasuk golongan kami siapa saja yang menyerupai selain kami.” (HR. Tirmidzi no. 2695. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Kenapa sampai kita dilarang meniru-niru orang kafir secara lahiriyah? Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

أَنَّ الْمُشَابَهَةَ فِي الْأُمُورِ الظَّاهِرَةِ تُورِثُ تَنَاسُبًا وَتَشَابُهًا فِي الْأَخْلَاقِ وَالْأَعْمَالِ وَلِهَذَا نُهِينَا عَنْ مُشَابَهَةِ الْكُفَّارِ

“Keserupaan dalam perkara lahiriyah bisa berpengaruh pada keserupaan dalam akhlak dan amalan. Oleh karena itu, kita dilarang tasyabbuh dengan orang kafir.” (Majmu’ Al Fatawa, 22: 154)

Di tempat lain dalam Majmu’ Al Fatawa, beliau berkata,

فَإِذَا كَانَ هَذَا فِي التَّشَبُّهِ بِهِمْ وَإِنْ كَانَ مِنْ الْعَادَاتِ فَكَيْفَ التَّشَبُّهُ بِهِمْ فِيمَا هُوَ أَبْلَغُ مِنْ ذَلِكَ ؟!

“Jika dalam perkara adat (kebiasaan) saja kita dilarang tasyabbuh dengan mereka, bagaimana lagi dalam perkara yang lebih dari itu?” (Majmu’ Al Fatawa, 25: 332)

Ketika kita telah memahami adanya larangan serta bahaya dibalik perayaan valentine day, maka sikap kita sebagai muslim sudah seharusnya meninggalkan kebiasaan Barat yang sudah diimpor negeri ini. Bukan hanya v-day, tetapi masih banyak lagi ritual atau perayaan yang berasal dari Barat atau perayaan nonmuslim lainnya yang masih diikuti oleh sebagian dari kaum muslim.

Hal demikian memanglah telah terkondisi oleh sekularisme liberal sejak runtuhnya khilafah. Pengaruh budaya Barat begitu kuat, hingga kaum muslim menjadi lemah akidahnya dan mudah terpengaruh oleh berbagai kebiasaan yang menyalahi syariat. Oleh sebab itu, untuk menyelamatkan generasi muda dari bahayanya valentine day tak lain ialah memahamkan Islam dengan membentuk Syakhshiyyah Islamiyyah.

Membentuk Syakhshiyyah Islamiyyah atau kepribadian Islam pada diri seorang muslim yakni dengan membangun pola pikir (aqliyyah) dan pola sikap (nafsiyyah). Dalam membentuk aqliyyah, seseorang harus memahami akidah Islam dan menjadikannya sebagai landasan berpikir. 

Maka, ketika kematangan aqliyyah ini telah terbentuk, seseorang akan mampu mengurai berbagai persoalan yang ada. Seperti pada aspek problematika umat, seseorang dinyatakan memiliki kepribadian Islam, jika ia memahami  problematika umat apa akar permasalahannya dan apa solusinya serta memahami ide-ide yang bertentangan dengan Islam, sehingga ia bisa menolaknya dan menjelaskannya pada umat.

Sementara dalam membentuk nafsiyyah atau pola sikap, seseorang harus menjadikan syariat Islam sebagai tolok ukur perbuatan. Seperti penggunaan jilbab dan kerudung yang memang wajib digunakan oleh wanita muslimah ketika baligh. Dan halnya mampu membedakan antara halal dan haram, dan menjauhi diri dari segala bentuk kemaksiatan.

Ketika nafsiyyah dan aqliyyah seseorang telah terbentuk sempurna, maka kepribadian Islamnya akan mampu memimpin dirinya. Menjadi pemikir kritis dan idealis yang tak mampu dipengaruhi oleh ritual impor budaya Barat yang menyesatkan iman. Wallahu a'lam bishshawab.