Oleh Hamsia

(Komunitas Peduli Umat)


Satu abad sudah umat Islam mengalami musibah yang besar dan duka yang mendalam dengan ketiadaan khilafah. Umat Islam bahkan dunia secara umum dalam kehidupan yang karut marut semenjak ketiadaan kekhilafahan Islam terakhir yaitu kekhilafahan Turki Utsmani.

Umat Islam bagaikan anak ayam yang kehilangan induknya, tidak memiliki pelindung yang mampu melindungi harta, nyawa dan kehormatannya. Ketiadaan khilafah yang memimpin umat adalah musibah yang sangat besar bagi umat dan seluruh alam.

Hari ini kita telah menyaksikan musibah demi musibah yang dialami umat Islam akibat ketiadaan khilafah dalam waktu panjang. Salah satunya, kebebasan terhadap perempuan. Seperti yang kita pahami kontribusi kapitalisme dalam menghancurkan perempuan memang tak gampang. Paham kapitalisme yang jelas bobrok bak benang kusut, mengurai satu ujung tali, ujung lainnya tambah mengikat dan membelit. Demikian pula dampak kapitalisme terhadap kehidupan perempuan.

Arus globalisasi kapitalisme telah menyeret perempuan atas nama partisipasi, kesetaraan dan pemberdayaan. Namun, sejatinya kapitalisme telah mengikat dan membelenggu perempuan pada kehinaan, eksploitasi, kemiskinan dan kekerasan.

Sungguh jelas bahwa paham kapitalisme sejatinya telah menjadi sumber bencana dan penderitaan bagi manusia, termasuk kaum wanita. Saat ini tak terhitung banyaknya perempuan yang terpaksa maupun sukarela berzina demi mengejar harta, tahta, cinta dan kesenangan dunia. Tak hanya perempuan dewasa, tapi anak-anak remaja ABG pun mulai terjerat gaya hidup bebas, baik karena cinta hingga alasan ingin membeli HP baru rela menjual dirinya. 

Khilafah Menjaga Status, Peran dan Hak-Hak Perempuan

Islam telah memberikan status terhormat bagi kaum perempuan ibu dan pengatur rumah tangga. Berkaitan dengan ini berlaku kaidah, “al-Ashlu fi al-mar’ah annaha umm wa rabbatu bay [in] wa hiya ‘irdh [un] yajibu an yushana (hukum asal perempuan adalah sebagai ibu dan pengatur rumah tangga dan ia adalah kehormatan yang harus dijaga).”

Selain sebagai ibu dan pengatur rumah tangga, perempuan memiliki hak untuk berperan di ranah publik. Perempuan memiliki hak dan kewajiban seperti laki-laki kecuali dalam hal-hal yang dikhususkan bagi perempuan atau bagi laki-laki. Perempuan berhak untuk berkecimpung dalam bidang pertanian, industri, bisnis, pendidikan, kesehatan, dakwah, partai, dan sebagainya.

Khilafah Memberantas Eksploitasi dan Perbudakan Perempuan

Pada saat sekarang eksploitasi dan perbudakan terhadap perempuan tak kunjung berhenti. Salah satu bentuk eksploitasi tersebut adalah menampakkan seksualitas dan keindahan tubuh perempuan untuk kepentingan bisnis. Sales promotion girl (SPG) berpakaian seksi menjajakan barang dagangan dengan sasaran utama kaum laki-laki. Dalam industri media elektronik, perempuan menjadi obyek seksual. Tubuh perempuan dan kemolekan tubuh dijadikan salah satu alat untuk memancing daya tarik. keindahan atau seksualitas tubuh perempuan dijadikan alat untuk menjual produk yang diiklankan atau memperoleh keuntungan dari industri pornografi dalam media elektronik seperti TV dan internet.

Kasus pekerja pabrik perempuan yang harus shif siang dan malam banyak ditengarai sebagai bentuk eksploitasi. Begitu juga kasus trafficking (perbudakan) terus terjadi. Tenaga Kerja Perempuan (TKW) yang tidak jarang berakhir pada prostitusi dan tindakan kekerasan tidak dapat dipisahkan dari trafficking. Trafficking juga mewujud dalam perekrutan remaja putri sebagai pekerja seks komersial atau dipaksa dijual untuk melunasi hutang dan keuntungan materi. 

Mengapa hal ini terjadi? Eksploitasi dan trafficking disebabkan oleh banyak hal. Di antaranya adalah pergaulan yang mengumbar aurat. Kebiasaan wanita yag mempertontonkan aurat menjadikan dia tidak risih ketika ada pihak yang mengeksploitasi kecantikannya. Perempuan demikian tidak sadar bahwa ia dieksploitasi dirinya sendiri. Sistem kapitalisme justru mendorong pornoaksi ini.

Berbeda dengan itu, khilafah memerintahkan perempuan mengenakan jilbab dan kerudung saat keluar rumah (QS an-Nur [24]: 31 dan al Ahzab [33]: 59). Khilafah juga melarang khalwat: memerintahkan perempuan yang melakukan safar lebih dari sehari semalam untuk didampingi mahram; menjaga kehormatan perempuan dan melarang eksploitasi terhadapnya; membentengi seluruh masyarakat, termasuk perempuan, dari bahaya pornografi-pornoaksi.

Sesungguhnya yang memunculkan eksploitasi dan perbudakan adalah sistem bisnis eksploitatif yang dikembangkan oleh kapitalisme. Karena kapitalisme memandang perempuan sebagai sarana yang dapat dieksploitasi demi kepentingan bisnis. Padahal Islam jelas menentangnya. Rafi’ bin Rifa’ah meriwayatkan, “Rasulullah saw. melarang pekerjaan perempuan kecuali apa yang dikerjakan oleh tangannya.”

Islam Menjamin Kesejahteraan Perempuan

Islam telah menjamin perempuan berhak untuk memiliki, menggunakan dan mengembangkan harta kekayaan yang halal sebagaimana laki-laki. Hanya saja, Islam menghendaki perempuan lebih mengutamakan tugas utamanya sebagai ibu dan pengatur rumah (umm [un] wa rabbah bayt). Apabila tugas utama tersebut sudah ditunaikan, tidak ada larangan kaum perempuan berkecimpung dalam dunia publik, termasuk bisnis.  

Perempuan bekerja dan mandiri adalah perempuan cerdas dan maju. Sebaliknya, perempuan yang hanya di rumah atau ibu rumah tangga adalah perempuan yang kurang berdaya guna bahkan cenderung dilecehkan. Inilah opini yang terus digencarkan kepada kaum perempuan. Seharusnya perempuan dilindungi bukan malah dieksploitasi. Tetapi negara malah membiarkannya bahkan semakin membuka pintu lebar-lebar bagi perempuan yang ingin bekerja. 

Tak sedikit para ibu yang mendorong anak-anak perempuannya sukses dalam karir, jabatan dan materi sekalipun harus mengorbankan kewajiban utamanya sebagai istri dan ibu. Bahkan ekonomi perempuan dijadikan sebagai salah satu indikator keberhasilan kesetaraan gender, termasuk ketika perempuan berani menuntut cerai karena merasa sudah mampu secara ekonomi.

Wajar saja, saat ini banyak perempuan yang telah melalaikan fitrahnya. Mereka mati-matian bekerja, berkarir tapi meninggalkan peran utamanya sebagai ibu, pengatur rumah tangga, dan pendidik generasi yang pertama dan utama.

Perempuan itu dihormati dalam semua aspek kehidupannya, dalam segala usia. Mereka akan tetap dalam kehormatannya sepanjang negara Islam ada, negara Islam yang menerapkan peraturan Allah di bumi. Sebab, perempuan dalam Islam berperan sebagai ibu dan seorang istri yang kehormatannya wajib dilindungi.

Ummul Mukminin, Khadijah ra., adalah teladan terbaik kita karena dia adalah salah seorang perempuan terkaya di Mekkah dan dia berdagang antara Yaman dan Syam. Zaenab ra., istri Nabi, yang membuat rantai dan menjualnya untuk kemudian uang tersebut digunakan untuk menolong orang miskin. Sementara Al-Shifa, dia adalah perempuan yang dipercaya menjadi Qadhi Al-Hisbah (hakim dari pasar). Perempuan juga memiliki peran yang kuat dalam Dawawin, di antara mereka menjadi ulama, dokter, ilmuwan di berbagai bidang pengetahuan dan ilmu di sepanjang sejarah Islam sampai saat ini.

Sabda Rasulullah saw., “Wahai wanita kalian telah diizinkan oleh Allah Swt. untuk bekerja memenuhi kebutuhanmu.” Oleh karena itu, dalam Islam, wanita diizinkan untuk bekerja dan terlibat dalam transaksi yang sama seperti laki-laki. 

Negara Islam, menjaga dan melindungi perempuan agar selalu dalam koridor syariat. Mengupayakan agar kewajiban dan peran perempuan tidak terganggu. perempuan bisa maju dan cerdas tanpa harus meninggalkan fitrahnya. Terbukti ketika Islam berjaya sekitar 13 abad lamanya, kaum perempuan banyak mencetak generasi pemimpin yang unggul.

Sesungguhnya Islam telah banyak mengajarkan kepada kita, kaum muslimah untuk menjalankan fungsi dan peran kita sesungguhnya, sehingga kita akan menjadi umat yang terbaik. Pada akhirnya, perempuan akan menyadari akan besarnya tanggung jawab mereka terhadap masa depan Islam dan kaum muslimin, sehingga mereka akan terpacu dan berlomba-lomba meraih kemuliaan sebagaimana para ibu di masa Islam terdahulu,. Dengan demikian, mereka akan siap menjadi pendidik dan pencetak generasi yang akan membawa umat kepada kebangkitan hakiki seperti yang diinginkan. Wallahu a’lam bi ash-shawab.

 
Top