Oleh Ummu Salman

(Relawan Media)


Aplikasi pesan singkat WhatsApp menunda keharusan bagi penggunanya membagi data pribadi ke platform Facebook. Mengutip AFP, WhatsApp menunda karena cemas penggunanya eksodus pindah menggunakan aplikasi pesan singkat lainnya jika kebijakan itu diberlakukan. (cnnindonesia, 16/1/2021) 

Kebijakan WhatsApp yang hendak membagi data pribadi pelanggannya telah menuai kontroversi. Banyak penggunanya yang kemudian beralih ke aplikasi lain yang mereka anggap lebih aman, tanpa harus mengkhawatirkan data pribadi mereka dibocorkan. Kekhawatiran tersebut tentu beralasan, mengingat dengan pembagian data pribadi seseorang, bisa saja data itu  disalahgunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk kepentingan tertentu. Apalagi kasus penyalahgunaan data tersebut pernah terjadi pada Facebook. Kita belum lupa skandal Cambridge Analytica. 

Muncul aplikasi BIP yang merupakan salah satu aplikasi perpesanan buatan Turki. Aplikasi BIP mendapat sambutan baik di berbagai negeri muslim. Seperti di Bangladesh ramai-ramai masyarakatnya berpindah ke aplikasi BIP. Aplikasi buatan Turki tersebut menempati urutan pertama di antara aplikasi perpesanan. Di Indonesia sendiri, sambutan terhadap aplikasi BIP cukup luas. Ada kebanggaan tersendiri ketika menggunakan aplikasi BIP. Di samping karena aplikasi BIP adalah buatan negera muslim, fitur dalam aplikasi BIP disebut lebih bagus dari WhatsApp. 

Kejadian tersebut, menunjukkan betapa umat Islam seluruh dunia mempunyai kekuatan besar jika bersatu. Sesungguhnya umat ini harus menyadari potensi besarnya. Sekalipun umat Islam belum memiliki kepemimpinan politiknya sendiri, sikap umat Islam yang berani memutus hubungan dengan korporasi kapitalis global mampu menggertak raksasa teknologinya. 

Apalagi bila umat ini hidup dalam kepemimpinan Islam, maka kekuatan demografi, politik dan ekonominya pasti mampu meruntuhkan kesombongan musuhnya. Ini telah terbukti selama ratusan abad, kepemimpinan Islam yang telah menaungi hampir 2/3 belahan dunia merupakan institusi politik yang disegani musuh-musuhnya. Melalui kepemimpinan tersebut, umat Islam mendapatkan kemuliaan dan kehormatannya. Bahkan rahmat-Nya tidak hanya dirasakan oleh umat Islam, tetapi juga nonmuslim yang hidup di bawah naungannya. 

Maka mestinya upaya mengembalikan kepemimpinan Islam tersebut harus menjadi agenda penting dan utama bagi umat Islam seluruh dunia, jika umat ingin kembali kepada kemuliaannya. 

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman: "Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam."(QS. al-Anbiya [21]: 107)

“Islam itu tinggi dan tiada yang melebihi ketinggiannya”. (Sabda Rasulullah saw.) 

Wallahu a'lam bishshawab.

 
Top