Pendangkalan Akidah Generasi, Dampak dari Buah Sistem Demokrasi


Oleh Silmi Kaffah

(Pemerhati Sosial)


Madrasah merupakan lembaga pendidikan yang memiliki ciri khas Islam, ditopang dengan kurikulum pendidikan Islam dan dibina oleh para pengajar yang memiliki pemahaman Islam yang baik. Hal tersebut menjadikan madrasah sebagai lembaga pendidikan yang diharapkan mampu membentuk kepribadian Islam peserta didik. (Tajukutama.com, 6/06/ 2021)

Namun saat ini hal tersebut menjadi tanda tanya besar, apakah madrasah masih bisa diharapkan untuk mampu mencetak generasi Islam yang menguasai seluruh ilmu berdasarkan asas akidah atau malah sebaliknya? Bagaimana tidak, banyak peserta didik kita yang sekolah bahkan sekolahnya dikhususkan untuk sekolah muslim (pesantren modern). Tapi nyatanya tidak bisa mampu membentuk kepribadian, pola pikir dan pola sikap yang islami kepada para peserta didik saat ini apalagi sudah keluar dari pesantren.

Disebabkan karena kesibukan para orang tua yang bekerja dari pagi sampai malam bahkan sampai pagi lagi, sehingga tak mengetahui lagi tumbuh kembang anaknya. Dan ditambah lagi dengan aturan saat ini yang diambil dari pikiran manusia yaitu demokrasi kapitalisme (yang memisahkan agama dari kehidupan). Sehingga kedangkalan akidah para peserta didik semakin rusak dan tidak bisa dielakkan, akhirnya banyak tawuran antar pelajar di mana-mana, kekerasan seksual dan bahkan etika tidak ada lagi dalam diri pendidik terhadap orang tua dan gurunya.

Akar Masalah

Melihat fakta di atas, kita bisa dapat mengetahui bahwa acuh tak acuhnya negara dalam menerapkan aturan pendidikan yang berbasis kurikulum menjadi faktor pendukung sebagai legalitas untuk menerapkan pendidikan Islam, namun itu hanya sarana saja. Karena ada hal yang lebih penting dan utama, yaitu dimulai dengan menanamkan akidah sejak usia dini. Di sini tentunya, peran orang tua yang lebih dominan.

Akan tetapi, serangan-serangan yang dapat merusak akidah para peserta didik di zaman ini akan semakin gencar menyerang generasi muda muslim, jika akidahnya rapuh maka keyakinannya akan goyah, lalu agamanya akan menjadi rusak dan pemikirannya juga ikut menjadi kacau. Serta salah satu yang sangat dikhawatirkan bisa merusak akidah generasi muda Islam adalah adanya pemahaman sinkretisme yang menganggap semua agama itu benar, hukum Islam tidak lebih baik dari aturan hukum yang dimuat manusia, dan aturan Islam melanggar HAM, menghambat kebebasan berpendapat dan berekspresi.

Mengenai hal ini, akan menambah kekhawatiran tentang nasib para generasi yang saat ini terbelit dalam demokrasi. Memang pada dasarnya, walaupun orang tua atau guru yang mengajar itu hanya pada pelajaran umum, tapi apakah tidak berpikir bahwa guru merupakan orang pertama yang dicontoh para murid? Sudah jelas murid akan selalu beranggapan bahwa guru itu benar dan patut dijadikan contoh, karena kebanyakan murid hanya mampu ikut-ikutan, apalagi akibat didikan sekuler, generasi masih belum bisa membedakan mana yang benar dan salah, dengan begitu, maka paham-paham liar akan mudah masuk pada pemikiran murid.

Mirisnya negeri ini, harapan ingin mempunyai generasi penerus bangsa hanyalah sebuah mimpi, rezim hanya mampu berharap mendapatkan generasi yang mampu meneruskan memperjuangkan negara, tapi apalah daya kalau cuma mampu berharap dan menginginkan, tapi didikan saja tidak diawasi. Kalau pendidikan saja dianggap remeh, akidah dialihkan, maka bobroklah para generasi kalau tanpa akidah. Karena seperti kita ketahui, akidah adalah tonggak dasar yang akan membentuk pola sikap serta kepribadian seseorang.

Solusi Dalam Islam

Berbeda halnya dengan Islam, bukan hanya menjamin tidak ada biaya dalam pendidikan (gratis), tapi juga mengawasi tentang pelajaran serta guru yang mengajar dan terutama juga peran orang tua. Mengapa demikian? Orang tua mesti sadar bahwa anak-anak kita saat ini adalah target dari liberalisme, pluralisme dan upaya sekularisme peradaban Barat. Untuk itu, sejak dini, anak-anak kita sudah harus memiliki kekuatan akidah.

Tanamkan keyakinan dengan kuat bahwa hanya Islam satu-satunya agama yang benar sebagai tuntunan hidup yang akan membawa keselamatan dan kebahagiaan dunia dan akhirat. Sampaikan juga bahwa Rasulullah Muhammad saw. adalah nabi terakhir dan tidak ada lagi nabi setelah beliau. Oleh karena itu, tahapan dalam menguatkan akidah anak harus benar-benar diutamakan. Didik mereka dengan jiwa tauhid yang mengkristal di dalam batinnya, meresap sampai ke tulang sumsumnya, yang tidak akan sampai pun nyawa berpisah dari badannya, akidah itu tidak akan terpisah dari hatinya.

Dan serta khilafah juga berperan untuk  membina, menjaga, melindungi akidah umat dari segala bentuk penyimpangan, pendangkalan, kekaburan, serta penodaan. Khilafah juga akan terus-menerus membina keislaman seluruh rakyat, mengajarkan dan mendidik masyarakat tentang akidah dan ajaran Islam, baik melalui pendidikan formal maupun informal.

Islam juga akan menjamin bahwa orang tua dan guru yang mengajak pada pendidikan adalah orang tua dan guru yang berkepribadian Islam, berakhlak mulia, dan berjiwa pemimpin serta menjadi teladan bagi anak didiknya. Dengan kualitas orang tua dan guru seperti ini, para anak serta siswa pun tetap bisa nyaman belajar, bahkan semakin meningkat keimanan dan keterikatan kepada syariat Islam.

Demikianlah karakter generasi muda, hati dan jiwa mereka sesungguhnya halus. Jika ‘direndam’ di dalam agama dengan cara yang benar, maka mereka akan menjadi pemuda yang hatinya kukuh di atas kebenaran, percaya diri dengan keyakinan Islam mereka, teguh pada kewajiban-kewajiban, dan membenci kemaksiatan, dan generasi tangguh menghadapi masalah hidup. 

Wallahu a’lam bishshawab.