Oleh Juwita Rasnur, S.T.

      

Baru-baru ini kita dipertontonkan hebohnya pemberitaan terkait pasar muamalah. Di mana dinar dan dirham dijadikan sebagai alat pembayaran dalam aktivitas jual-beli yang disepakati.

Pemberitaan ini berujung pada penangkapan Zaim Saidi sebagai inisiator dan penyedia lapak pasar muamalah Depok oleh Bareskrim Polri. Beliau disangkakan dengan dua pasal sekaligus yaitu Pasal 9 UU No 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana yang berkaitan dengan alat pembayaran yang sah maka akan ancaman hukuman setinggi-tingginya 15 tahun, dan Pasal 33 UU No 7 Tahun 2011 tentang setiap orang yang tidak menggunakan rupiah dalam transaksi yang memiliki tujuan pembayaran, penyelesaian kewajiban keuangan,  transaksi keuangan lainnya akan dipidana dengan kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan pidana denda paling banyak Rp200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah). (nasional.okezone.com, 03/02/2021).

Penangkapan ini menuai banyak respon. Salah satunya datang dari ketua PP Muhammadiyah Bidang Ekonomi, KH Anwar Abbas. Beliau mempertanyakan mengapa pelaku yang ada di Pasar Muamalah Depok itu ditangkap oleh Polisi dan atas dasar apa. Karena beliau melihat penggunaan dinar dan dirham tidak masuk dalam kategori penggunaan mata uang asing.  Alasannya: Pertama, sama dengan transaksi barter. Kedua, transaksi tersebut mirip dengan transaksi yang mempergunakan voucher. Ketiga, dinar dan dirham yang mereka pergunakan itu mirip dengan penggunaan koin di tempat permainan anak-anak. Di samping itu beliau juga membandingkan kejadian ini dengan banyaknya penggunaan uang asing termasuk dolar, dalam transaksi wisatawan asing di Bali. (Kumparan.com, 05/02/2021)

Melihat fakta ini maka ada  hal yang perlu kita cermati terkait penggunaan mata uang asing. Bank Indonesia (BI) menyatakan bahwa transaksi mata uang asing paling banyak adalah dolar Singapura per Juni 2020 dengan nilai transaksi setara dengan Rp18,4 triliun dari total transaksi Rp41,83 atau mencapai 44%. Disusul oleh dolar AS sebesar  32% atau Rp13,38 triliun, yuan China 8%, setara Rp3,34 triliun, ringgit Malaysia 4%, atau Rp1,67 triliun, dan euro Eropa Serta dolar Australia masing-masing 3% atau Rp1,25 triliun. (m.cnnindonesia.com, 21/12/2020)

Transaksi tersebar di beberapa kota di Indonesia. Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Kepala Kantor Perwakilan (KPW) BI Onny Widjanarko yang menyatakan bahwa di ibu kota transaksi dolar Singapura mencapai 41% dari total transaksi mata uang asing.  Disusul oleh dolar sebesar AS 36% dan ringgit Malaysia 4%.  Sedangkan di Bali transaksi mata uang dolar AS sebesar 49%.  Diikuti oleh dolar Australia 20 persen dan euro Eropa 14 persen. Di Riau, dolar Singapura mendominasi transaksi mata uang asing, yakni 74%. Diikuti oleh Yuan China sebesar 18% dan ringgit Malaysia 5%. (m.cnnindonesia.com, 21/12/2020)

Dari data ini kita bisa mengambil kesimpulan bahwa transaksi dengan mata uang asing di Indonesia cukup besar. Bahkan beberapa mata uang cukup mendominasi dan seperti tidak ada masalah dalam transaksinya. Pun tidak ada pihak yang mempersoalkannya.

Namun fakta yang berbeda justru terlihat ketika penggunaan dinar dan dirham digunakan sebagai alat pembayaran yang disepakati. Seperti yang terjadi pada inisiator dan penyedia lapak pasar muamalah Zaim Saidi yang telah ditahan oleh Mabes Polri.

Seperti ada kesan yang dipaksakan dalam kasus ini, yang membawa publik pada pandangan bahwa ada upaya mengkriminalisasi dinar dan dirham. Penangkapan ini seolah mempertegas fobia terhadap Islam, bukan semata-mata penertiban pelanggaran alat transaksi. Mengingat belakangan ini banyak sekali terjadi penangkapan para ulama dan kriminalisasi ajaran Islam. Padahal tidak ada kerugian sedikitpun yang ditimbulkan dari pelaksanaan ajaran Islam oleh masyarakat baik bagi umat lain maupun bagi pemerintah. 

Dari sisi lain dinar dan dirham memiliki ketangguhan dibandingkan dengan mata uang kertas. Salah satunya adalah memiliki nilai intrinsik yang melekat pada zatnya, menjamin kestabilan moneter, menciptakan keseimbangan neraca pembayaran, sistem emas dan perak, memiliki keunggulan yang kokoh, mempunyai kurs yang stabil antar negara, memelihara kekayaan emas dan perak setiap negara.

Jika alasan ajaran Islam menjadi pendorong munculnya fobia, maka tampaknya fobia ini akan semakin besar dari hari ke hari. Melihat geliat kaum muslim terhadap ajaran Islam dan penerapannya juga semakin besar. Hal ini terbukti pada minat pasar muamalah, sekolah Islam terpadu bahkan sampai pada pembiayaan syariah. Namun, tidak menutup kemungkinan akan ada saja pihak yang tidak senang dengan kondisi ini dan mengerahkan segala upaya untuk menghalanginya termasuk dengan upaya monsterisasi ajaran Islam, sehingga menimbulkan fobia.  

Namun halangan itu tidak akan mempengaruhi datangnya kemenangan Islam. sebagaimana firman Allah Swt. dalam surat at-Taubah : 32 yang artinya:

"Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, tetapi Allah menolaknya, malah berkehendak menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir itu tidak menyukai".

Jaminan ini datang dari Allah Swt., dan Dia adalah sebaik-baik penjamin. Maka kita tidak perlu fobia terhadap Islam justru seharusnya kita semakin mencintainya. 

Wallahu a'lam bishshawab.

 
Top