Oleh : Syarifah Hidayati, S. Pdi


 “Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah isteri yang shalihah.” (HR Muslim).


"Generasi terbaik yang belum pernah ada, dan tidak akan pernah ada suatu kaum yang serupa dengan mereka”


Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Barangsiapa hendak mengambil teladan maka teladanilah orang-orang yang telah meninggal. Mereka itu adalah para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka adalah orang-orang yang paling baik hatinya di kalangan umat ini. Ilmu mereka paling dalam serta paling tidak suka membeban-bebani diri. Mereka adalah suatu kaum yang telah dipilih oleh Allah guna menemani Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dan untuk menyampaikan ajaran agama-Nya. Oleh karena itu tirulah akhlak mereka dan tempuhlah jalan-jalan mereka, karena sesungguhnya mereka berada di atas jalan yang lurus.” (Al Wajiz fi ‘Aqidati Salafish shalih, hal. 198)


Masa ini adalah masa yang penuh fitnah, khususnya bagi wanita yang memiliki peran krusial bagi bangkitnya peradaban yang bermartabat.  Bagaimana tidak,  darinya akan lahir para ulama',  ilmuan, mujtahid,  politikus yang hanif, pemimpin yang bertanggungjawab, serta orang-orang yang mampu menciptakan peradaban yang diridhai oleh Allah Swt. 


Jakarta, Humas LIPI. Indonesia merupakan salah satu negara berpopulasi tinggi di dunia dengan jumlah penduduk usia produktif (15 hingga 64 tahun) yang sangat besar. Bonus demografi ini akan sangat berharga apabila usia produktif yang dimiliki digunakan untuk meraih kebangkitan hakiki bagi negri ini. Menciptakan peradaban gemilang yang menjadi raksasa yang ditakuti barat. Bukan bangsa yang suka membebek. Bahkan mengagungkan peradaban barat yang bertentangan dengan islam. 


Akan tetapi,  banyak sekali fenomena seperti werther effect yang justru menimpa remaja kita. Peristiwa percobaan bunuh diri karena pengagungan yang berlebihan terhadap sang idola yang meninggal karena bunuh diri. Idola yang salah akan menyebabkan perilaku dan sikap yang salah. 


Sebab itulah seorang muslimah harus menetapkan idola dari generasi terbaik agar memiliki cermin yang benar untuk melakukan sesuatu. Dengan cermin itulah kita bisa melihat bagaimana seharusnya bertutur kata,  bersikap,  berpakaian, termasuk menyelesaikan persoalan yang sesuai dengan aturan Allah. 


Idola yang salah akan menjerumuskan.  Sementara idola yang benar akan menyelamatkan.  Ada cermin yang menipu, seolah bagus, indah. Ada pula cermin yang menampakkan kebenaran, sesuai fitrah. 


Mari kita lihat generasi terbaik kita dari para shahabiyah,  bagaimana ketaatan mereka kepada Allah dan Rasul-Nya.  Tanpa tapi dan nanti. Menyambut seruan dengan segera. Karena keyakinan yang mantap dan sudah kuat terpatri. 


Saat seruan tentang khimar (kerudung) datang, menyambut dengan senang hati.  Segra merobek sarung-sarung mereka untuk menutupi. Bagaimana dengan kita?

Hendaknya kita menjadi generasi izzah,  yang memiliki harga diri. Bukan generasi imma'ah yang sukanya hanya membebek. 


Kunci Syurga Bagi perempuan


“Jika seorang istri mengerjakan salat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya, menaati suaminya, niscaya akan dikatakan kepadanya, “Masuklah ke surga.” (HR. Ahmad)


Salat merupakan bukti ketaatan hamba terhadap penciptanya. Begitu pula dengan puasa di bulan Ramadhan. Perbuatan yang berhubungan dengan Allah langsung. Sedangkan menjaga kemaluan dan mentaati suami termasuk dalam perbuatan yang berhubungan dengan sesama. Semua aturan itu sudah Allah atur secara lengkap dalam sumber-sumber hukum Islam. Maka kita wajib untuk mempelajarinya. 


Walaupun telah dikabarkan bahwa penghuni paling banyak di neraka adalah perempuan,  bukan berarti kita tidak punya peluang untuk menjadi penghuni Syurga yang didamba semua orang. Hadis diatas menunjukkan beberapa hal yang harus dilakukan sebagai kunci menuju surga, yang merupakan sebagian dari ketaatan kita sepenuhnya kepada segala perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.


Hanya saja, memilih jalan menuju surga tidaklah mudah dan murah. Kita harus membayar mahal untuk itu. Butuh pengorbanan tertinggi. Kesabaran yang berlipat. Keikhlasan yang mengalir deras. Ilmu yang tak pernah kering. Kekuatan yang ganda. Iman yang menghujam. 


Menaati Allah dan Rasul-Nya Secara Totalitas


Seorang muslimah perindu surga, harus memiliki keimanan supaya bisa meniti jalan ketaatan meniti jalan ketaatan hai. Dengan begitu bisa melaksanakan rukun iman dengan baik. Sebab keimanan menempati posisi teratas. Untuk mampu bersyahadat dengan benar. Kemudian diikuti dengan meyakini keberadaan para malaikat, kitab Allah, para Rasul,  Qadha'qadar,  dan hari kiamat. 


Ketika rukun iman ini telah mantap dimiliki oleh seorang muslimah, maka akan diikuti dengan ketaatan secara penuh terhadap segala perintah Allah. Totalitas tanpa tapi dan nanti. Bersegera.Tidak menunda-nunda. Di segala aspek kehidupan. 


Untuk mencapai semua itu perlu meniti jalan keilmuan yang terus menerus tanpa henti. Memantapkan pemikiran dengan terus dialiri dengan tsaqofah Islam. Sebab,  pengikat amal adalah pemikiran. Pemikiran yang benar akan melahirkan perilaku yang benar. Mati kita senantiasa berlomba dalam ketaatan. Bersegera meraih amal kebaikan untuk waktu kita yang begitu singkat di dunia ini. 

Wallahu a'lam


 
Top