Oleh Rismawati, S. Pd.

(Pemerhati Remaja)


Rasulullah saw. bersabda:

“Wahai para pemuda, siapa saja di antara kalian yang telah mampu untuk berkeluarga, maka hendaklah ia menikah. Barang siapa yang belum mampu maka berpuasalah, sesungguhnya puasa adalah penekan syahwat baginya.” (HR. Bukhari).

Hadist di atas menggambarkan kepada kita bahwa, sebagai umat Rasulullah saw. ketika sudah mampu untuk menikah, maka menikahlah. Karena itu, sepatutnya para orang tua tidaklah menjadi penghalang bagi putra-putrinya untuk menyegerakan pernikahan. Namun sebaliknya orang tua haruslah mendukung langkah baik bagi anak-anaknya. 

Pemimpin negara pun berkewajiban ikut andil dalam pelaksanaan pernikahan bagi muda mudi bangsa yang siap menikah. Oleh karena itu, tidak boleh ada batasan usia dalam anjuran pernikahan. Karena batasan usia dalam pernikahan hanya akan membawa para remaja dalam ikatan pacaran yang melahirkan perzinaan.

Seperti yang terjadi baru-baru ini di daerah Jawa Tengah, Jepara, tepatnya di kecamatan Batealit, desa Bringin. Dua remaja berinisial Al yang berumur 16 tahun dan Ba berumur 18 tahun. Mereka telah melakukan perzinaan (hubungan intim di luar nikah) di tahun 2020, kemudian pada Oktober 2020 Al (16) diketahui hamil oleh Ba(18) yang tidak lain kekasihnya sendiri. Karena takut perzinaannya diketahui orang tuanya, maka Ba meminta Al untuk melakukan aborsi dan akhirnya pada tanggal 3 Februari 2021 Al meminum obat pengguguran kandungan.(www.solopost.com, 07/02/2021).

Selain itu, berita lain datang dari Jakarta Timur, tepatnya di daerah Pulogadung. Kapolsek Pulogadung Kompol Beddy Suwendi telah menangkap seorang remaja berinisial C (17) yang bekerja sebagai asisten rumah tangga. C ditangkap karena terduga telah membuang bayi ke dalam saluran air sungai. Setelah diselidiki ternyata pada tanggal 17 Januari 2021 pukul 19.00 WIB si C melahirkan bayinya di kamar mandi majikannya kemudian membuang bayi tersebut karena dia hamil di luar nikah dan kekasihnya tidak mau bertanggung jawab. (www.suara.com, 20/01/2021).

Dari fakta di atas, kita bisa melihat betapa rusaknya moral remaja hari ini disebabkan karena cinta yang terlarang. Banyak remaja hamil di luar nikah karena berawal dari pacaran. Dimana pacaran adalah menjadi ikatan kasih yang tak halal karena cinta yang tumbuh dalam hati mereka.

Dalam sistem demokrasi telah mengeluarkan ketetapan yang melarang para remaja untuk menikah di usia muda. Karena itu, remaja tidak diberi izin dan fasilitas untuk menikah muda. Bahkan negara justru mengampanyekan kepada masyarakat untuk mencegah pernikahan dini.

Sebagaimana yang dilansir oleh merdeka.com bahwa Menteri PPPA (Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak) yaitu I Gusti Ayu Bintang Darmawati. Pada tanggal 11 Februari 2021 telah meminta semu rakyat Indonesia untuk mengampanyekan pencegahan pernikahan di usia dini. Ungkap Menteri PPPA di agenda media gathering KemenPPPA. (m.merdeka.com, 11/02/2021).

Karena itu, kita bisa melihat betapa mirisnya kehinaan yang menghampiri para remaja dengan munculnya pelarangan tersebut. Akibat dari adanya pelarangan pernikahan dini, membuat remaja menyalurkan kasih dan cinta mereka pada jalur pacaran. Sehingga membuat mereka kehilangan kemuliaannya sebagai remaja penerus bangsa yang gemilang.

Jika para remaja telah balig, maka tidak jarang di antara mereka terjerat oleh kata cinta. Jika dua insan yang saling bertemu kemudian hadir rasa cinta, itu hal wajar karena jatuh cinta itu adalah fitrah manusia. Apa lagi di zaman sekarang ini yang para remaja tak dibekali oleh ilmu iman tentang menundukkan pandangan ketika berpapasan dengan lelaki atau wanita yang bukan mahram. 

Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

”Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, ’Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.’” (QS. an-Nur [24] : 30).

Lalu apa solusinya dalam pandangan Islam di kala mereka telah terlanjur jatuh cinta?

Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam bersabda:

لَمْ نَرَ لِلْمُتَحَابَّيْنِ مِثْلُ النِّكَاحِ

“Aku tidak melihat penawar bagi dua orang yang sedang jatuh cinta semisal menikah.” (HR. Ibnu majah no. 1847).

Menikah, memang adalah salah satu solusi jitu ketika dua insan telah dimabuk cinta. Karena itu, ketika mereka telah siap menuju jenjang pernikahan maka jangan sekali-kali untuk menghalanginya. Karena pernikahanlah yang mampu memberi kemuliaan kepada dua insan yang telah jatuh cinta.

Oleh karena itu, orang tua maupun negara sudah sepantasnya mendukung keinginan anak menuju jenjang pernikahan. Dengan membekali ilmu terkait pernikahan bukan justru menjadi penghalang dari niatan mulia mereka. Namun, mengharapkan dukungan pernikahan muda dalam sistem demokrasi bagaikan pungguk merindukan bulan.

Oleh karena itu, sebagai kaum muslim yang menginginkan kemuliaan bukan kehinaan. Sudah sepantasnya menggaungkan Daulah Islam untuk ditegakkan. Karena hanya Daulah Islamlah yang mampu memberikan kebebasan bahkan memfasilitasi para remaja yang siap untuk menikah mudah agar terhindar dari kehinaan yang abadi. Wallahu a’lam bishshawab.

 
Top