Oleh Wirianti Lubis

(Aktivis Muslimah Kendari)


Presiden Indonesia Joko Widodo dan Wakil Presiden Ma’ruf Amin mencanangkan tahun 2045 sebagai tahun Indonesia Emas. Indonesia emas merupakan kondisi dimana bangsa Indonesia diharapkan mampu bersaing dengan bangsa lain dalam mengatasi berbagai persoalan di tanah air seperti kemiskinan dan korupsi yang berkepanjangan. Menjadi bangsa yang maju, berdaulat, adil dan makmur.(Kompas, Oktober 2019)

Keinginan ini tertuang dalam ringkasan Eksekutif Visi Indonesia Emas 2045 yang dirilis Kementrian Perencanaan Pembangunan Nasional dan Bappenas tahun 2019 berisi mimpi Indonesia di tahun 2015-2045. Mimpi ini sungguh sangat berkaitan dengan sumber daya manusia yang ada saat ini. Dimana merekalah yang akan menjadi manusia produktif kelak yang akan mewujudkan mimpi ini. 

Di Tahun 2045 ini, sebagian akademisi menyebut sebagai “jendela demografi”  yang merupakan suatu fase yang diukur dari tingkat usia produktif seseorang yang lebih didominasi oleh mereka yang berumur sekitar 15-65 tahun. Dalam istilah kependudukan disebut bonus demografi. (Swarakampus.com, Agustus 2020)

Bonus demografi adalah langka karena terjadi satu kali ketika proporsi  penduduk usia produktif berada lebih dari dua pertiga jumlah penduduk keseluruhan. Menurunnya rasio  perbandingan antara jumlah penduduk non produktif (kurang 15 dan lebih 65) terhadap yang produktif.

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis hasil sensus penduduk 2020 dengan jumlah  penduduk Indonesia hingga September 2020 sebesar 270.20 juta jiwa bertambah 32.56 juta jiwa dibanding sensus 10 tahun lalu. Komposisi penduduk Indonesia didominasi generasi Z dan milenial masing-masing sebanyak 27.94 persen dan 25.87 persen. (kompas.com, Agustus 2020)

Kebijakan Pemerintah Menyongsong 2045

Usaha yang dilakukan pemerintah agar tercapainya mimpi di tahun 2045  adalah membangun manusia Indonesia. Melalui Direktorat Jendral Perguruan tinggi (Ditjen Dikti) bersama google, gojek, tokopedia dan traveloka bekerjasama menyelenggarakan program Bangun Kualitas Manusia Indonesia (Bangkit). Bangkit merupakan program pembinaan 3000 talenta digital terampil, guna menyiapkan 9 juta talenta digital terampil pada tahun 2030 nanti.

Program ini ditawarkan kepada mahasiswa di seluruh Perguruan Tinggi Indonesia untuk dapat mengimplementasikan Kampus Merdeka melalui studi/proyek independen untuk mendapatkan kompetensi di bidang machine learning, mobile development, and cloud computing. (Ditjen Dikti dan Kemendikbud, Januari 2021)

Selanjutnya Ditjen bagian pelayanan, Nizam mengatakan adanya kolaborasi antara dunia usaha dan industri  bersama perguruan tinggi menjadi penting karena ekonomi yang terus berinovasi. Kita tidak bisa terus mengandalkan impor, baik itu kebutuhan pangan, kesehatan,  manufaktur, dan beragam kebutuhan lainnya.

Dalam kampus merdeka, Perguruan tinggi akan membuka pintu selebar-lebarnya bagi industri, dunia usaha dan dunia kerja, sehingga dapat dilakukan negosiasi dalam rangka meningkatkan  relevansi antara kurikulum di perguruan tinggi dan hubungan dunia kerja. Pemerintah juga telah menyiapkan dana 250 M bagi perguruan Tinggi dan dunia usaha serta industri yang berhasil bekerjasama melalui terobosan ini. (Humas Dikti, Februari 2021) 

Perombakan kurikulum SMK yang dilakukan oleh Ditjen Vokasi kemendikbud juga dilakukan agar sesuai dengan kebutuhan dunia usaha dan industri. Mengkolaborasikan pendidikan vokasi dan industri. Menyiapkan peserta didik memiliki kemampuan tenaga ahli profesional dalam menerapkan, mengembangkan  dan menyebarluaskan teknologi untuk meningkatkan keterserapan lulusan dan menjadi dasar melakukan link and match.

Bila dikaji, maka usaha yang dilakukan pemerintah baik di tingkat sekolah menengah maupun perguruan tinggi, menunjukkan lemahnya pemerintah di sektor pendidikan, karena yang lebih dominan adalah perusahaan swasta yang membina dan mengarahkan generasi Indonesia ke arah tersedianya tenaga kerja siap pakai, bukan melahirkan manusia intelektual, berilmu dan pemecah masalah.  Akhirnya kurikulum pendidikan hanya diorientasikan untuk memenuhi kebutuhan industri dan memuaskan kaum kapitalis.

Dengan usaha ini, akankah Indonesia bisa mewujudkan visinya dalam menyongsong Indonesia Emas 2045? Di tengah arus kapitalisme yang makin kuat. Serta tujuan pencapaian hanya pada skill semata. 

Pendidikan dalam Islam

Peradaban Islam datang ke dunia membawa sejumlah misi berupa aturan dan azas istimewa yang menghadirkan pembaharuan bagi seluruh manusia. Azas keilmuan merupakan salah satu keunggulan peradaban Islam. Seiring dengan peradaban ini, Islam telah memberikan pemahaman dan metode berharga yang mengubah tatanan dunia secara sempurna dalam memantapkan kedudukan ilmu pengetahuan bagi generasinya. Allah Swt. berfirman dalam QS. al-Mujadillah (58) : 11 yaitu, ”…Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat”. 

Mewujudkan pendidikan dan generasi gemilang, tidak terlepas dengan ideologi suatu negara dan peran negara dalam mewujudkannya. Mewujudkan visi menjadi sebuah negara maju, berdaulat, adil dan makmur di masa depan tidaklah bisa diraih, manakala generasi saat ini bukanlah generasi unggul. Baik unggul dalam skill maupun unggul dalam pola pikir dan sikap. Hal inilah yang harus diurus negara. 

Generasi unggul akan lahir dari azas pemikiran yang lurus terhadap hakikat kehidupan dan keberadaan manusia di dunia (akidah Islam). Kemajuan dalam Islam adalah saat dimana suatu negara tidak tergantung pada negara lain. Dasar ajaran Islam adalah ilmu serta  menolak kesesatan dan prasangka.

Hak menjaga kekayaan intelektual merupakan dasar yang baru setelah Islam datang. Menetapkan kemuliaan  hak-hak pemikiran secara ilmiah disandarkan pada kesungguhan dan penemuan penulis dan pemiliknya, sehingga tidak ada pencurian (pembajakan) penemuan. 

Asas-asas pengajaran telah menjulang tinggi secara gemilang pada peradaban Islam dan lembaran-lembarannya. Semua terwujud diperingkat segala bidang dari penulisan hingga akademi ilmiah. Dunia Islam telah meletakkan dasar-dasar ma’had, universitas, perkuliahan, teropong, perpustakaan megah dan semua tempat untuk meneliti, mempelajari, menulis kaidah-kaidah atau rumus-rumus ilmu. Sehingga tumbuh kemauan bagi masyarakat untuk belajar.

Madrasah-madrasah ini banyak bermunculan di wilayah-wilayah Islam. Para khalifah memuliakan para pengajar dan guru. Hal yang pertama diajarkan adalah Al-Qur’an. Karena pentingnya pengajaran dan pendidikan anak, banyak ahli fiqih dan penyusun buku mendidik anak secara Islam, merancang  kaidah-kaidah pendidikan penting yang ditetapkan dalam madrasah dan menganjurkan para orang tua untuk mendidik anak-anak mereka. Seperti yang dilakukan Imam Abu Hamid Al-Ghazali yang meletakkan dasar-dasar secara terperinci dalam kitabnya yang berbobot, Ihya Ulumuddin, dengan bab “penjelasan tentang tata cara latihan anak-anak sejak masa pertumbuhan dan cara mengajar dan memperbaiki akhlak mereka”.

Jadi tidak heran peradaban Islam bisa mencetak generasi unggul untuk kemajuan negara seperti ulama-ulama terkemuka semisal Imam Syafi’i. Sufyan ats Tsauri, Imam Bukhori hingga penemu-penemu hebat masa Islam AlKhawarizmi, anak-anak musa bin syakir, Al biruni, Al Kasai Ali bin Hamzah, Al Batani, ArRazi, Ibnu sina dan masih banyak lagi yang tidak bisa disebutkan.

Semua masyarakat memiliki hak yang sama dalam pengajaran, sehingga mereka bisa dengan mudah memperoleh ilmu. Inilah cara Islam dalam mendidik generasinya. 

Alhasil, Sistem pendidikan Islam dalam naungan khilafah tidak hanya membekali siswanya dengan keterampilan dan keahlian di berbagai bidang di kehidupan masyarakat, namun juga mampu berdikari menciptakan peluang usaha untuk mewujudkan pendidikan yang sahih, menguasai pendidikan, bertsaqofah Islam dan ilmu-ilmu kehidupan yang manfaatnya bisa dinikmati manusia bukan korporasi.

Semoga sistem pendidikan Islam di bawah naungan khilafah segera terwujud.  

Wallahu a’lam bishshawab.

 
Top