Oleh Yani Rahmawati

(Ibu Generasi Peduli Umat)


Di era pemerintahan saat ini, kita sering mendengar kebijakan yang  kontroversial. Seperti yang sedang hangat belakangan ini adalah berita tentang seorang guru CPNS yang beragama Nasrani ditempatkan mengajar di Madrasah Aliyah Negeri Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Dikatakan kontroversial, karena madrasah merupakan sekolah dengan ciri khas Islam.

Analisis Kepegawaian Kementerian Agama (Kemenag) Sulsel Andi Syaifullah mengatakan, kebijakan penempatan guru beragama Kristen di sekolah Islam atau madrasah sejalan dengan Peraturan Menteri Agama (PMA) Republik Indonesia. Tentang pengangkatan guru madrasah khususnya pada bab VI pasal 30. (SuaraSulsel.id 1/2/2021)

PMA No 90 Tahun 2013 telah diperbaharui dengan PMA No 60 tahun 2015 dan PMA No 66 Tahun 2016, dimana pada bab VI pasal 30 dicantumkan tentang standar kualifikasi umum calon guru madrasah (khususnya pada poin a), yaitu beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Menurut Andi Syaifullah, karena tidak disebutkan harus beragama Islam, maka menurutnya penempatan itu tidak bermasalah dan guru nonmuslim tersebut akan mengajarkan mata pelajaran umum, bukan pelajaran agama. Bahkan menurutnya hal itu adalah satu manifestasi dari moderasi beragama, dimana Islam tidak menjadi eksklusif bagi agama lainnya.

Dengan mengatasnamakan moderasi beragama, Kemenag memberikan peluang kepada guru nonmuslim untuk mengajar di sekolah Islam. Padahal kita ketahui bahwa sekolah Islam atau Madrasah Aliyah adalah sekolah yang bercorak khas Islam, kental dengan budaya Islam dan penuh dengan nilai ruhiyah.  

Pernyataan pejabat Kemenag yang menyatakan guru nonmuslim mata pelajaran umum di sekolah Islam tidak mengganggu akidah adalah gambaran dari corak sistem pendidikan kita saat ini yaitu sistem pendidikan sekuler.  Dan ini menjadikan cikal bakal untuk mendangkalkan akidah generasi Islam.  Karena sejatinya guru tidak hanya sebagai penyampai materi saja, tetapi sebagai sosok panutan yang dapat ditiru, yang menanamkan kepribadian bagi anak didiknya, yaitu membentuk siswa dengan kepribadian Islam, pelajaran apa pun yang diberikan kepada anak didik, seharusnya guru bertarget selain siswa dapat menguasai semua mata pelajaran dan mengaplikasikannya dalam kehidupan, juga untuk meningkatkan keimanan kepada Allah Swt. dan semakin mendorong anak didik untuk terikat dengan aturan-aturan syariat sebagai konsekuensi penghambaannya kepada Allah Swt. Jadi mana mungkin target itu dapat terpenuhi jika guru sekolah Islam beragama nonmuslim. 

Selain lingkungan kondusif di madrasah yang terkontaminasi penempatan guru nonmuslim, atas nama moderasi beragama saat ini semangat remaja muslimah yang bersekolah di SMA untuk menutup auratnya juga "dihantam" dengan Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 menteri, yang diterbitkan tanggal 3 Februari lalu, di antaranya adalah melarang memakai atribut Islam (menutup aurat) di sekolah.

Penempatan guru nonmuslim di madrasah dan SKB 3 menteri ini adalah beberapa program penguasa yang menyakiti hati kaum muslim atas nama moderasi beragama. Seharusnya kaum muslim sadar bahwa moderasi beragama ini adalah hal yang membahayakan akidah generasi, karena ide ini diekspor oleh kaum kafir Barat ke negeri-negeri muslim, yang hakikatnya adalah untuk menjauhkan kaum muslim dari pemahaman dan penerapan Islam kafah.

Kaum muslim tidak boleh terperdaya dengan ungkapan manis moderasi beragama yang sejatinya adalah racun berbisa yang akan mendangkalkan akidah generasi muslim saat ini. Oleh karena itu kaum muslim harus berjuang untuk mewujudkan identitas sejati generasi muslim yang sedang dimoderatkan, dengan cara membentuk akidah generasi muslim dengan keyakinan yang kukuh, membongkar iming-iming jalan hidup sekuler liberal, memahamkan Islam sebagai din yang memiliki solusi untuk menyelesaikan seluruh masalah kehidupan dan membangun kebanggaan terhadap kebudayaan dan sejarah Islam.  

Hanya dengan menerapkan seperangkat aturan Allah dalam sistem Khilafah Islam yang dapat menghancurkan berbagai macam makar busuk kaum kafir penjajah.  Semoga Allah Swt. meridai kita yang berpegang teguh dan memperjuangkan tegaknya aturan Allah di muka bumi.

"...Dan keridaan Allah adalah lebih besar, itu adalah keberuntungan yang besar." (TQS. at-Taubah : 72)

Wallahu a'lam bishshawab.

 
Top