Merindu Syurga, Merajut Dunia Penuh Makna

 


Oleh : Ummu Shofiyyah

(Pemerhati Masalah Publik)


Sebaik-baik tempat bagi seorang Muslim adalah Surga. Tak terkecuali tua, muda, miskin, kaya memiliki cita-cita tertinggi untuk menuju surga-Nya. Surga yang begitu nikmat, dan tidak ada bandingannya dengan kenikmatan di dunia. Allah menyediakan Surga bagi orang-orang yang beriman dan bertakwa. Allah berfirman dalam QS. Ali Imron ayat 133 :

وَسَارِعُوۡۤا اِلٰى مَغۡفِرَةٍ مِّنۡ رَّبِّكُمۡ وَجَنَّةٍ عَرۡضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالۡاَرۡضُۙ اُعِدَّتۡ لِلۡمُتَّقِيۡنَۙ‎

Artinya : "Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada Surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa."

Dari ayat tersebut kita diperintahkan untuk bersegera/ berlomba-lomba tanpa menunda-nunda dalam beramal shalih agar dapat meraih ampunan dari Allah Swt. atas segala dosa-dosa yang kita perbuat. Berupaya untuk memasuki surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang Allah siapkan bagi orang-orang yang mentaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Menjadi muslim/muslimah adalah jaminan untuk meraih surga-Nya. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Ali ‘Imran ayat 85 yang menyatakan “Dan barangsiapa mencari agama selain agama Islam, dia tidak akan diterima, dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang rugi.” Dalam ayat tersebut dinyatakan bahwa hanya Islam agama yang diterima Allah, sehingga penganutnya pun mempunyai jaminan untuk masuk surga.

Namun apakah cukup dengan menjadi seorang muslim/muslimah dengan otomatis akan memperoleh tiket untuk menuju surga? Apakah orang Islam yang berbuat jahat/dzolim/maksiat akan langsung masuk surga tanpa balasan atas perbuatannya? 

Sebelum berbicara mengenai surga yang merupakan terminal terakhir bagi perjalanan hidup manusia, maka ada baiknya kita mempersiapkan bekal untuk meraihnya, yakni dengan menjalani kehidupan dunia yang syarat akan makna. 

Untuk itu mari kita bahas apa sebenarnya tujuan kita hidup di dunia. Dan kemanakah tujuan kita nantinya? 

Perjalanan hidup manusia dimulai sejak lahir di dunia ini.  Tidak bisa memilih kondisi bagaimana dia dilahirkan. Dunia sebagai terminal pertama sebelum datangnya kematian dan alam dibangkitkannya manusia yang akan menjadi penentu bagi kehidupan kita pada terminal berikutnya yaitu akhirat. Allah berfirman dalam QS. Al baqoroh ayat 28 :

كَيۡفَ تَكۡفُرُوۡنَ بِاللّٰهِ وَڪُنۡتُمۡ اَمۡوَاتًا فَاَحۡيَاکُمۡ‌ۚ ثُمَّ يُمِيۡتُكُمۡ ثُمَّ يُحۡيِيۡكُمۡ ثُمَّ اِلَيۡهِ تُرۡجَعُوۡنَ‎

Artinya: "Bagaimana kamu ingkar kepada Allah, padahal kamu (tadinya) mati, lalu Dia menghidupkan kamu, kemudian Dia mematikan kamu lalu Dia menghidupkan kamu kembali. Kemudian kepada-Nyalah kamu dikembalikan."

Allah menciptakan manusia dari ketiadaan untuk kemudian menjadikannya sebuah kehidupan dan hal ini bukanlah suatu kebetulan. Allah menciptakan manusia semata-mata untuk beribadah kepada Nya. 

Allah berfirman dalam Qs. adz-Dzaariyaat ayat 56: 

"Dan tidaklah Aku ciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk beribadah kepadaku.” 

Untuk itu Allah Swt. memerintahkan kita agar tidak menyia-nyiakan kehidupan dunia. Kehidupan dunia bagaikan seorang musafir yang asing dan hanya sekedar lewat. Mereka tidak merasa senang dengan keadaan safarnya, karena mereka memahami bahwa semua akan mereka tinggalkan. Jiwa, harta, tahta dan keluarga adalah titipan saja yang sewaktu-waktu akan diminta oleh Pemiliknya. Sebaliknya mereka merindukan untuk berkumpul kembali ke tempat asalnya. Hal ini sebagaimana dinyatakan dalam hadist yang diriwayatkan olek Bukhori bahwa "Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau bahkan orang yang sekedar lewat.

Dunia adalah perkara yang fana sedangkan akhirat adalah kekal selamanya. Perumpamaan antara kehidupan dunia dan akhirat yakni ibarat seorang memasukkan /mencelupkan jarinya ke dalam lautan, maka lihatlah apa yang tersisa di jarinya jika ia keluarkan dari laut?” melainkan hanya setetes dibandingkan air laut yang tak terhingga jumlahnya. Begitulah gambaran dunia beserta isinya yang hanya bersifat sementara.

Lantas lamakah perantauan kita di dunia ini? Untuk itu kita bisa melihat fakta bahwa menusia jaman sekarang hidup rata-rata hingga umur 70 tahun. Memang ada yang berumur seratus tahun bahkan lebih akan tetapi jarang terjadi. Bahkan Nabiyullah Muhammad Saw. tutup usia pada saat Beliau berumur 63 tahun. 

Allah berfirman dalam Qs. An Nazi'at ayat 46 

"Pada hari ketika mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan sebentar saja di waktu sore atau pagi hari." 

Kehidupan dunia akan berakhir dengan dicabutnya ajal seseorang. Allah berfirman dalam S. Al Anbiya ayat 35: 

"Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami." 

Begitu pula dalam QS. Yunus ayat 49 yang artinya 

"Bagi setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak pula mendahulukannya." 

Kematian adalah pemutus segala kenikmatan di dunia. Manusia seakan-akan dikepung oleh 99 sebab kematian yang jika kesemuanya itu gagal mengenainya maka manusia tidak bisa mengelak dari usia tua.

Mengenai kematian ini tentunya masih lekat dalam ingatan kita dengan terjadinya beragam musibah pada awal tahun 2021 ini, dimana banyak menelan korban jiwa. Diantaranya : terjadinya longsor di daerah Sumedang, Jawa Barat yang menelan korban sebanyak 32 orang meninggal dunia. Kecelakaan pesawat Sriwijaya Air yang membawa 62 penumpang dan nyaris tidak ada yang selamat. Kemudian disusul dengan banjir di wilayah Kalimantan Selatan bahkan hingga ke daerah daerah lain termasuk Sumenep. Terjadinya gempa di Mamuju Sulawesi Barat dengan korban jiwa sebanyak 73 orang. Disusul dengan peristiwa meletusnya gunung Semeru di Lumajang, Jawa Timur yang menyebabkan 9 kecamatan di Probolinggo terdampak abu fulkanik dari erupsi gunung tersebut. Semua ini terjadi di tengah pandemi covid-19 yang hingga saat ini belum berakhir. 

Tentunya rentetan musibah yang menimpa negeri ini merupakan kekuasaan Allah yang tidak dapat kita hindari dan harus kita terima dengan ridho dan sabar sebagai wujud keimanan kita. Diluar ketentuan Allah ini ada hal lain yang memungkinkan datangnya bencana yakni dosa dan kemaksiatan yang diperbuat oleh manusia. Alih fungsi lahan,  eksploitasi sumber daya alam secara serakah, penebangan hutan secara serampangan dlsb. sejatinya merupakan penyebab kemurkaan Allah. Allah berfirman dalam QS. Ar Rum ayat 41:

 ظَهَرَ الۡفَسَادُ فِى الۡبَرِّ وَالۡبَحۡرِ بِمَا كَسَبَتۡ اَيۡدِى النَّاسِ لِيُذِيۡقَهُمۡ بَعۡضَ الَّذِىۡ عَمِلُوۡا لَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُوۡن

Artinya : "Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan (kemaksiatan) manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan (kemaksiatan) mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)."

Kemaksiatan terbesar yakni karena kita meninggalkan Syariat Islam. Saat ini Islam sebagai sebuah sistem yang mengatur segala aspek kehidupan telah dicampakkan. Satu-satunya solusi agar kerusakan di muka bumi tidak berlanjut adalah dengan bertobat dari segala kemaksiatan yang dilakukan. Hal ini haruslah dilakukan oleh semua komponen, yakni individu, masyarakat, utamanya negara. Sebagai individu, kita hendaknya harus menyadari bahwa waktu terus berjalan menghempas apapun yang ada di hadapan kita. Waktu yang telah berlalu tidak dapat kembali walaupun hanya satu detik. Untuk itu sebelum datangnya ajal, kita senantiasa berupaya menghamba hanya kepada Allah, mempersembahkan ibadah terbaik dan kondisi akhir yang baik. Yakni dengan terikat dengan seluruh aturan-Nya dalam segala aspek kehidupan. Sebagai masyarakat, kita mempunyai kewajiban untuk senantiasa melakukan amar ma'ruf nahyi mungkar terhadap segala bentuk kemaksiatan yang terjadi, sehingga kemaksiatan tidak merajalela. Peran paling vital haruslah datang dari negara. Negara haruslah kembali kepada syariat Islam secara totalitas. Sebagaimana firman Allah Swt.:

"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi"

(QS Al-a'raf [7]: 96). 

Dengan demikian, jika kita mau segera bertaubat lalu menerapkan syariat-Nya secara total, maka negeri ini akan menjadi negeri yang baldatun thayyibatun warabbun Ghafur.

Wallahu a'lam bush showab