Oleh : Mira Sutami H

(Pemerhati Sosial dan Kebijakan Publik)


Perekonomian dunia saat ini dalam kondisi lesu dan terpuruk. Hampir seluruh negara mengalami hal yang sama. Diperparah dengan kondisi pandemi berkepanjangan di seluruh dunia tak terkecuali negara adikuasa Amerika Serikat. Seluruh negara berusaha untuk menggenjot perekonomian mereka yang lagi terpuruk. Segenap daya dan upaya dikerahkan untuk melejitkan kembali perekonomian.

Dengan merosotnya ekonomi sebuah negara itu berimbas pada seluruh umat. Mulai pejabat pemerintah, pengusaha, hingga rakyat kecil. Dan dampak ini langsung dirasakan oleh para ibu rumah tangga. Karena dengan kondisi yang seperti ini seorang ibu akan memutar otak agar bisa memenuhi kebutuhan hidup keluarganya agar nafkah dari suami bisa mencukupi kebutuhan hidup keluarga. Apalagi dengan terpuruknya ekonomi juga mengakibatkan sektor perindustian atau usaha lemah maka gelombang PHK mengalir bak air bah. Umat makin terpuruk.

Sebelum ekonomi jungkir balik seperti sekarang ini banyak para ibu yang memperdayakan diri untuk membantu keluarga agar dapur bisa ngebul dengan bekerja di luar rumah. Karena kebutuhan yang kian hari tak bisa dijangkau rakyat kecil yang suami mereka bergaji pas-pasan. Memang para pengusaha atau pemilik modal lebih mengincar pekerja perempuan karena selain perempuan lebih telaten dan ulet. Selain itu gaji yang harus pengusaha bayarkan lebih kecil dibanding laki-laki. 

Di tengah perekonomian yang semakin kritis kaum perempuan kian dikukuhkan sebagai pengokoh perekonomian. Perempuan didorong dan difasilitasi agar terjun ke dunia bisnis dan ekonomi. International Development Finance Corporation(DFC) menggelontorkan jaminan kredit sebesar US$35 juta untuk memobilisasi investasi US$100 juta guna mengurangi sampah plastik di laut Asia Tenggara. Salah satu cara yang dilakukan dengan mengucurkan jaminan kredit kepada perusahaan di bidang daur ulang botol plastik. Melalui prakarsa ini, DFC bertujuan untuk memobilisasi modal dan memberi insentif kepada sektor swasta untuk mencapai dampak terukur dan berkelanjutan bagi pemberdayaan perempuan secara ekonomi.

Chief Executive Officer DFC Adam Boehler mengatakan hal tersebut telah dimulai melalui pemberian jaminan kredit sebesar US$35 juta melalui Ocean Fund, di mana Tridi Oasis, perusahaan asal Jakarta yang bergerak dalam bidang daur ulang botol plastik, menjadi salah satu penerima manfaat. DFC, kata dia, juga berkomitmen mendorong lebih banyak investasi untuk membangun rantai nilai daur ulang sampah yang sekaligus juga dapat membuka lapangan kerja di Indonesia.

Pasalnya, sebuah penelitian menunjukkan bahwa memajukan kesetaraan perempuan di Asia-Pasifik dapat menambah US$4,5 triliun ke PDB kawasan tersebut pada 2025, atau meningkat 12 persen pertumbuhan rata-ratanya. (Cnnlndonesia. com, 14/01/2021)

Pemberdayaan ekonomi perempuan untuk mendongkrak perekonomian sejatinya bukan penyelesaian masalah perempuan. Namun malah menambah beban bagi perempuan. Karena perempuan harus membayar cicilan dan bunga yang cukup besar dengan jangka waktu yang panjang pula. 

Apakah ini yang dinamakan menyelesaikan masalah perempuan? Bukannya ini hanya upaya kapitalis untuk menyambung hidupnya. Dengan kedok pemberdayaan ekonomi perempuan. Sedangkan negara dan penguasa berlepas tangan terhadap penderitaan perempuan yang makin memberatkan para perempuan. 

Sungguh miris perempuan yang hidup di negeri yang kaya sumber daya alam dan tanah yang subur makmur namun mereka malah tak bisa menikmati itu semua. Karena semua sudah tergadai pada asing dan aseng. Mereka harus jadi buruh dan banting tulang demi sesuap nasi. Lebih mirisnya lagi demi keuntungan diri rakyat dan perempuan harus kebagian kebijakan ribawi yang entah sampai kapan akan terbayarkan.

Sejatinya meningkatkan perekonomian dengan kedok pemberdayaan perekonomian perempuan adalah bukti gagalnya kapitalisme dalam menyejahterakan umat. Sungguh strategi global yang jahat untuk mempertahankan hidupnya maka rakyat dikorbankan.

Perempuan dalam kubangan kapitalis memang sengaja dieksploitasi dalam segala hal. Kemuliaan dan kesejahteraan tak didapat oleh perempuan. Namun kelelahan fisik dan juga mental yang dirasakan oleh mereka. Para perempuan juga mesti tahu pemberdayaan ekonomi perempuan adalah agenda Barat untuk membuat wanita melupakan peran mereka sebagai ibu sekaligus pengatur rumah tangga. Selain bila ibu telah melupakan peran mereka maka generasi akan mereka lemahkan dengan pemikiran sekuler liberal. 

Begitulah kegagalan sistem kapitalisme sekuler dalam bidang ekonomi dan gagal pula dalam melindungi dan menyejahterakan perempuan. Tak akan mungkin yang namanya sistem buatan manusia yang lemah akan membuat umat sejahtera. Hal ini akan berbeda dengan sistem lslam yang berasal dari wahyu Allah.

Islam sangat memuliakan kaum perempuan. Seorang perempuan mempunyai tugas utama sebagai seorang ibu dan pengatur rumah tangga. Perempuan juga sebagai pencetak generasi yang tangguh. Jadi seorang perempuan tidak diwajibkan untuk bekerja dan menafkahi keluarga.  Yang wajib bekerja adalah kaum laki-laki. Oleh karena itu pemerintah akan membuka lapangan kerja seluas-luasnya bagi kaum laki-laki. Dan tentu saja setiap laki-laki bisa bekerja sesuai dengan bidang dan kemampuannya. 

Dengan sistem lslam generasi itu dicetak mandiri bukan menjadi buruh. Mereka bisa membuka lapangan kerja dan mandiri. Mereka bisa menemukan peluang kerja sendiri sesuai dengan bidang yang diminati. Dan semua akan diapresiasi oleh pemerintah.

Untuk urusan ekonomi pemerintah akan mengupayakan dengan semaksimal mungkin agar tidak terjadi krisis. Tentu saja untuk mendongkrak perekonomian negara tidak dibebankan pada individu apalagi dibebankan pada pundak perempuan.

Di dalam lslam tugas menjaga perekonomian dan meriayah umat adalah tanggung jawab dari pemerintah. Seorang pemimpin negara dipilih memang bertujuan agar bisa meriayah umat sehingga umat bisa hidup sejahtera, tentram dan damai. Seorang pemimpin akan selalu meriayah umat sesuai dengan hukum syariat lslam.

Untuk menstabilkan ekonomi, maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam lslam antara lain: 

1. Pengelolaan sumberdaya alam yang menguasai hajat hidup orang banyak akan dikelola negara. Semisal air, minyak bumi, batu bara, gas dan lain-lain. Dan hasilkan akan dikembalikan kepada rakyat. 

2. lndustri yang berkaitan dengan hajat hidup orang banyak seperti listrik, telekomunikasi, transportasi dan lain-lain akan dikelola negara. Dengan begitu umat bisa memperoleh dengan harga murah atau bahkan gratis.

3. Negara berusaha untuk tidak berhutang untuk membangun negara. Apalagi hutang yang mengandung riba yang jelas-jelas haram dalam lslam.

4. Adapun pendapatan negara bisa juga berasal dari zakat, jizyah, kharaj, 'usyriyah. lni adalah sumber tetap pemasukan negara. 

5. Harta milik negara juga akan dikelola mandiri oleh negara.

6. Negara akan mencegah peredaran harta hanya pada kelompok tertentu saja. Jadi tidak akan ada yang namanya orang menimbun harta sehingga mata uang menjadi langka di masyarakat.

7. Standar mata uang yang dipakai adalah emas dan perak yang nilainya stabil. Jadi diharapkan tidak terjadi inflasi. 

Dengan beberapa mekanisme seperti itulah ekonomi dalam lslam akan selalu stabil. Bahkan bisa jadi perekonomian akan terdongkrak seperti zaman Kekhalifahan Umar bin Abdul Azis. Bagaimana tidak seluruh umat hidup sejahtera sehingga tak satu pun warga negaranya yang berhak menerima zakat. Sampai-sampai harta zakat menggunung di baitulmal. Sistem lslam telah terbukti nyata dapat melejitkan perekonomian bagi negara. Tentu kita ingin hidup seperti itu bukan? Hidup dimana pemimpin mampu meriayah umatnya dan juga perekonomian bisa melejit tanpa menyengsarakan umatnya.

Namun semua tak akan mungkin terjadi mana kala lslam tidak diterapkan secara kafah dalam naungan khilafah. Wallahu a'lam bishshawab.

 
Top