Masalah Banjir: Butuh Solusi Sistemik

 


Oleh Dwi P Sugiarti 

(Aktivis Muslimah Majalengka)


Banjir kini kembali menjadi cerita baru di tengah pandemi. Negeri ini kembali berduka. Sejumlah wilayah di Indonesia hampir merata diguyur hujan sejak sabtu (6/1) hingga senin pagi (8/1). 

Di Jakarta, banjir menggenangi  sejumlah ruas jalan dan rumah warga.  Berdasarkan data BPBD Provinsi DKI Jakarta, total terdapat 42 RW dan 150 RT yang terdampak banjir. Air yang meluap tersebar di wilayah Jakarta Timur dan Jakarta Selatan. (www.suara.com, 08/02/2021)

Selain DKI Jakarta, beberapa wilayah di Jawa Barat juga ikut terkena banjir. Di Karawang, banjir melanda 10 kecamatan dengan 681 jiwa di antaranya mengungsi. Banjir juga melanda sedikitnya lima desa yang tersebar di tiga kecamatan di Kabupaten Majalengka, Minggu (7/2). Peristiwa itu dipicu oleh curah hujan tinggi yang mengakibatkan Sungai Ciduwet meluap. Kabupaten Indramayu dan Kabupaten Subang juga ikut terdampak banjir dengan ketinggian hingga 2 meter tersebut membuat sejumlah warga mengungsi. Kemudian, lima kecamatan di wilayah Kota Bekasi yang banjir akibat luapan Sungai Cileungsi, Cikeas dan Kali Bekasi pada Senin (8/2) pagi. (www.cnnindonesia.com, 08/02/2021)

Banjir juga melanda sejumlah wilayah di tanah air seperti Jawa tengah, Jawa Timur dan beberapa wilayah di luar pulau Jawa. Sepertinya banjir terjadi merata karena guyuran hujan yang terjadi sejak sabtu (6/2) lalu. Wajar kemudian, beberapa kalangan menyebut penyebab banjir adalah faktor curah hujan yang tinggi menyebabkan meluapnya air sungai dan jebolnya tanggul. Seperti yang terjadi di Indramayu. Akibat meluapnya sungai Cipunagara dan Sungai Cimanuk, aliran air sungai masuk pemukiman warga.

Selama ini bencana banjir memang menjadi PR saat musim hujan tiba. Apalagi jika intensitas hujan tinggi, wilayah yang menjadi titik rawan banjir tak pernah absen dari musibah ini. Banjir memang merupakan musibah bencana alam, namun seolah penyelesaiannya tak pernah ada akhirnya bahkan wilayah yang sebelumnya tak pernah terdampak banjir, harus ikut terdampak. 

Saya pribadi jadi bertanya, apakah pemerintah betul-betul serius mengatasi musibah ini? Apalagi musibah ini justru sering kali disebabkan oleh ulah manusia tak bertanggung jawab yang telah merusak alam. Ditambah lagi, berbagai program yang dilakukan pemerintah guna mengantisipasi banjir sejauh ini hanya memberikan solusi tambal sulam. 

Faktor Utama Penyebab Banjir

Ada banyak faktor utama penyebab banjir. Terutama yang diakibatkan oleh manusia. Pertama, kebiasaan masyarakat yang kerap kali membuang sampah sembarangan. Kebiasaan ini pasti akan memberi dampak buruk bagi lingkungan. Tak hanya menyebabkan lingkungan kotor, membuang sampah sembarangan juga bisa menghambat aliran sungai, yang akhirnya memicu banjir bandang. 

Kedua, adanya kerusakan hutan akibat ditebang secara liar. Pohon atau tumbuhan berperan penting untuk meresap air yang jatuh ke tanah. Jika terjadi penebangan pohon besar-besaran, tentu hal ini berpotensi memicu terjadinya banjir bandang.  Selain itu, penebangan hutan yang dilakukan secara liar juga bisa meningkatkan risiko tanah longsor.

Ketiga, pembangunan infrastruktur yang sering kali menyalahi amdal. Dampak pembangunan ini akhirnya membuat daerah resapan air menjadi hilang. Seperti banjir yang terjadi di Kabupaten Majalengka, disinyalir semenjak adanya pembangunan bandara Kertajati warga di Kecamatan Kertajati ikut terdampak banjir. Bahkan dikatakan banjir kali ini terparah sejak adanya Bandara Kertajati karena daerah resapan airnya sudah berkurang sehingga air hujan langsung menggenangi gang-gang pemukiman warga. (www.suryagrageonline.com, 06/04/2020)

Namun, satu hal yang harus kita sepakati bersama adalah, fakta bahwa banjir terjadi tidak hanya terjadi satu atau dua kali saja, menandakan ada solusi kurang tepat secara sistemik dalam pengaturan tata kelola kota. Sehingga, usaha mengatasi banjir secara teknis tidaklah mencukupi, karena masalahnya ada pada ideologi yang diterapkan negara, yakni kapitalisme.

Sistem kapitalisme yang didasarkan pada pertumbuhan ekonomi, memberi ruang seluas-luasnya bagi penguasa dan pemilik modal (pengusaha) untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya. Maka tak heran cara pandang profit oriented menjadi tujuan utama dari pemangku kebijakan, muncullah banyak aturan yang memberikan kemudahan dalam pembangunan industri, perkantoran, dan bisnis menggiurkan lainnya semacam villa dan hotel mewah.

Maraknya pembangunan tidak diiringi dengan efek kelanjutannya pada lingkungan sekitar, mengakibatkan hilangnya ruang terbuka hijau dan daerah resapan air. Akhirnya kemungkinan air terserap akan semakin kecil. Jika pun ada solusi ingin menambah jumlah gorong-gorong, kanal-kanal, kolam retensi seperti dam, waduk, dan embung. Maka akan sangat sulit dilakukan. Karena sebagian besar tanah sudah berganti menjadi aspal dan beton.

Inilah penyebab utama mengapa banjir seolah tak pernah selesai. Kebijakan yang ada jelas menjadi jalan tol atas pembangunan yang ada. Tak adanya sanksi yang tegas dan membuat jera menjadikan penebangan liar bahkan pembakaran hutan secara besar-besaran kerap terjadi bahkan setiap tahun, namun tak pernah ada cerita akhir. 

Masalah banjir ini adalah masalah sistemik, sehingga butuh penyelesaian sistemik. Berharap pada sistem hari ini tak akan menyelesaikan masalah. Sehingga upaya yang harus dilakukan adalah mengganti sistem hari ini dengan sistem lain. Dialah Islam sebagai sebuah ideologi yang berasal dari Sang Pencipta. Mengapa sistem Islam? Sebab sistem Islam hadir sebagai rahmat bagi seluruh alam. Tidak ada aturan yang sempurna kecuali yang berasal dari sang Pencipta. Apalagi secara historis peradaban Islam telah mampu menangani masalah banjir. 

Di masa keemasan Islam, bendungan-bendungan dengan berbagai macam tipe telah dibangun untuk mencegah banjir maupun untuk keperluan irigasi. Di Provinsi Khuzestan, daerah Iran selatan misalnya, masih berdiri dengan kokoh bendungan-bendungan yang dibangun untuk kepentingan irigasi dan pencegahan banjir.

Selain itu secara berkala, dilakukan pengerukan lumpur-lumpur di sungai, atau daerah aliran air, agar tidak terjadi pendangkalan. Tidak hanya itu saja, dilakukan penjagaan yang sangat ketat bagi kebersihan sungai, danau, dan kanal, dengan cara memberikan sanksi bagi siapa saja yang mengotori atau mencemari sungai, kanal, atau danau.

Khalifah Islam juga membentuk badan khusus yang menangani bencana-bencana alam yang dilengkapi dengan peralatan-peralatan berat, evakuasi, pengobatan, dan alat-alat yang dibutuhkan untuk menanggulangi bencana. Tak lupa, Khalifah pun akan cepat tanggap menangani korban-korban bencana alam. Khalifah akan segera bertindak cepat dengan melibatkan seluruh warga yang dekat dengan daerah bencana dan menyediakan tenda, makanan, pakaian, dan pengobatan yang layak agar korban bencana alam tidak menderita kesakitan akibat penyakit, kekurangan makanan, atau tempat istirahat yang tidak memadai. Inilah potret bagaimana sistem Islam begitu tanggap terhadap bencana banjir. Semoga saja sistem ini dijadikan solusi tuntas.

Wallahu a'lam bishshawab.