Kontroversi Abu Janda: Hina Islam Bukti Mengakarnya Sekularisme


Oleh : Hamsina Halisi Alfatih


Siapa yang tak kenal Abu Janda? Bak artis, sosok yang selalu memicu kontroversi ini tak pernah sekali saja membuat publik tenang akibat ulahnya. Seperti biasanya, sosok Permadi Arya atau biasa disapa Abu Janda ini selalu mengeluarkan statement yang menyerang kaum muslim dan Islam. 

Kegeraman publik pun memuncak ketika Abu Janda mengeluarkan statemen yang kali ini benar-benar tak bisa ditolelir. Pasalnya dalam cuitannya yang diunggah Abu Janda pada Minggu (24/1/2021) melalui akun Twitternya @permadiaktivis1, Abu Janda menyebut Islam merupakan sebagai agama arogan karena menghiraukan kearifan lokal.

Buntut dari cuitannya tersebut, Abu Janda kemudian dilaporkan pada tanggal 29 Januari 2021 oleh Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) ke Bareskrim Polri atas dugaan kasus ujaran SARA terkait unggahannya di media sosial Twitter mengenai 'Islam Arogan'. Kasus AJ pun dinilai melanggar Pasal 45 ayat (3) juncto Pasal 27 ayat (3) dan/atau Pasal 45 A ayat (2) juncto Pasal 25 ayat (2) dan/atau Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, Kebencian, atau Permusuhan Individu dan/atau Antar Golongan (SARA), Pasal 310 dan/atau Pasal 311 KUHP.

Penghinaan terhadap Islam sebenarnya tak hanya datang dari satu individu saja seperti yang dilakukan oleh Permadi Arya atau Abu Janda. Jauh sebelumnya bahkan publik bisa merasakan dan melihat sendiri bagaimana Islam tak pernah redam dihantam hinaan baik dari kalangan orang-orang kafir hingga dari kalangan orang-orang fasik dan munafik.

Mengapa hal demikian semakin bertambah dan terus terulang meskipun negeri ini sudah dipayungi hukum dan UUD? Bahkan halnya orang-orang kafir Barat yang semakin menampakkan jati diri mereka sebagai musuh Islam, dan hal ini terbukti dari beberapa kasus yang terjadi salah satunya atas penghinaan Islam di Perancis yang dilakukan oleh Presiden Perancis, Emmanuel Macron.

Sekularisme yang mengakar baik di negeri minoritas muslim dan di negeri mayoritas muslim seperti Indonesia, menjadikan penghinaan terhadap Islam semakin tumbuh subur. Bak bola salju, pelecehan terhadap Islam semakin mengakar dan keberadaan hukum negara pun tak mampu mengatasi polemik ini. Adanya pemisahan agama dari kehidupan telah memberi gambaran bahwa kebebasan adalah sesuatu yang logis ketika manusia boleh berbuat apa saja, termaksud menghina dan melecehkan agama.

Sekularisme yang menjadi asas demokrasi melahirkan kebebasan setiap individu yang dilindungi oleh negara. Seperti Perancis adalah negara yang menjunjung sekularisme. Sekularisme negara atau laicite menduduki posisi sentral dalam identitas nasional Prancis dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari moto pascarevolusi, yaitu "liberty, equality, fraternity".

Berdasarkan prinsip laicite ini, ruang publik, seperti ruang kelas dan tempat kerja, harus bebas dari agama. Negara beralasan, menekan kebebasan berpendapat untuk melindungi perasaan komunitas tertentu melemahkan persatuan nasional. Di Perancis, warga berhak beragama tapi orang juga berhak untuk tidak beragama. Keduanya sama-sama dilindungi oleh negara.

Pada 1905, dikeluarkan undang-undang yang melindungi sekularisme, yang ditujukan untuk melindungi kebebasan warga untuk menjalankan agama, namun juga untuk mencegah masuknya agama di institusi-institusi negara. Undang-undang tersebut menopang undang-undang lain yang melindungi hak untuk menistakan agama, yang dikeluarkan pada 1881.

Karenanya, mengapa majalah satire Charlie Hebdo bisa menerbitkan karikatur Nabi Muhammad. Sebab. undang-undang di negara ini membolehkan majalah tersebut bisa menerbitkan karikatur dengan gambar Rasulullah tanpa khawatir diajukan ke pengadilan dengan sangkaan melakukan memicu kebencian. Berdasarkan peraturan perundang-undangan di Perancis, boleh menista agama, namun tak boleh menghina seseorang berdasarkan agama yang ia anut.

Jelas bahwasanya inilah gambaran demokrasi liberalisme yang menjunjung tinggi nilai kebebasan. Seseorang boleh menghina dan melecehkan agama tanpa harus dijatuhi hukuman. Bahkan di Perancis sendiri yang backgroundnya minoritas Islam dengan sekularisme akutnya menjadikan keberadaan kaum muslim seolah terpenjara dan tidak memiliki kebebasan dalam berpakaian syari'.

Apa yang diterpakan di Perancis memang tak sama dengan di Indonesia. Tetapi, wabahnya virus sekularisme menembus dinding negara bermayoritaskan muslim di Indonesia menjadikan para pembenci Islam semakin marak. Inilah ketika ketiadaan aturan Islam yang mengatur sendi-sendi kehidupan manusia. Walhasil, pelecehan terhadap agama seolah dianggap hal wajar tanpa memikirkan dampak yang berpengaruh kepada keimanan apalagi pelakunya adalah seorang muslim.

Jelas hal ini sangat berpengaruh terhadap keimanan, bahkan bisa jadi orang tersebut murtad atau keluar dari Islam. Para ulama pun telah sepakat bahwa pelecehan terhadap agama merupakan perbuatan kufur, baik dengan perkataan maupun perbuatan. Dan pelecehan terhadap agama termasuk dalam “Nawaqidhul Islam” (pembatal keislaman) yaitu hal-hal yang dapat membatalkan keislaman seseorang.

Lantas bagaimana Islam menyikapi hal tersebut? 

Islam meskipun dilecehkan, agama ini tetap agung dan mulia di sisi Allah Swt. Islam agama tinggi, diakui dan diridai di sisi Allah Swt., lebih sempurna, cukup lengkap, maha suci, tiada cacat dan celanya. Islam statusnya tinggi, diturunkan untuk mengembalikan fitrah manusia yang suci, bersih, tidak ada dosa, sesuai dengan tujuan manusia dijadikan untuk beribadah kepada-Nya. Allah Swt. berfirman, “Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS. Ali Imran : 19)

Sebanyak apa pun orang kafir, fasik dan munafik melecehkan Islam, agama ini tetap bernilai tinggi di mata Allah Swt. Kendati demikian, ketika Islam dilecehkan, tentu sebagai muslim wajib untuk marah dan membelanya. Terkait pelecehan terhadap Islam, hukuman yang diberikan pun berbeda seperti halnya jika pelakunya adalah kafir harbi maka hukumannya adalah mati.

Dikatakan apabila seorang kafir harbi menghina agama Islam, menistakan Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya atau menistakan ayat al-Qur`an maka diperangi dan dibunuh kecuali ia masuk Islam. Hal ini didasari dengan firman Allâh Azza wa Jalla:

 وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّىٰ لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّهِ ۖ فَإِنِ انْتَهَوْا فَلَا عُدْوَانَ إِلَّا عَلَى الظَّالِمِينَ 

Artinya: Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) agama itu hanya untuk Allâh belaka. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim. [al-Baqarah/2:193] 

Sementara, jika pelecehan itu datang dari kalangan muslim maka pelakunya telah keluar dari Islam (murtad). Namun dalam menetapkan apakah muslim tersebut kafir atau tidak, ulama memiliki perbedaan pendapat. 

Seorang muslim yang sudah mengucapkan dua kalimat syahadat, menunaikan kewajiban-kewajiban Islam dan meyakininya secara lahir batin bisa menjadi kafir setelah memeluk Islam dan murtad, apabila melanggar pembatal Islam, baik yang berbentuk perkataan, maupun perbuatan, seperti menistakan agama Islam.

 Syaikhul Islam rahimahullah berkata, “Penista agama apabila muslim, maka menjadi kafir dan dibunuh tanpa ada perbedaan pendapat padanya. Ini adalah madzhab imam yang empat dan yang lainnya. Di antara ulama yang menukilkan ijma’ ini adalah Ishâq bin Rahuyah dan selainnya. (As-Shârimul Maslûl, hlm. 10)

Sementara, Syaikh Muhammad bin Abdil Wahâb rahimahullah berkata, “Masalah vonis kafir terhadap orang tertentu (Takfir Mu’ayyan) adalah masalah yang sudah terkenal. Apabila berkata sebuah perkataan yang hukumnya mengucapkan perkataan tersebut adalah kekufuran, sehingga dikatakan: Siapa yang menyatakan perkataan ini maka dia kafir. Namun individu tertetu yang menyatakannya tidak dihukumi dengan kafir hingga tegak atasnya hujjah yang membuat kafir peninggalnya. (Ad-Durar as-Saniyah 8/244)

Hal ini didasari pada firman Allâh Azza wa Jalla: 

وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَثَ رَسُولًا 

artinya: Dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang Rasul. [Al-Isra’/17:15]

Syaikh Muhammad al-Amin asy-Syinqithi rahimahullah mengatakan bahwa makna tekstual dari ayat yang mulia ini adalah Allâh Azza wa Jalla tidak mengazab seorang makhluknya di dunia dan di akhirat hingga Allâh Azza wa Jalla mengutus Rasul untuk mengingatkan dan memperingatkan, lalu mendurhakai Rasul tersebut dan terus bertahan dalam kekufurannya dan kemaksiatannya setelah peringatan dan penegakan hujjah tersebut. (Adwa’ al-Bayân 3/429)

Dengan demikian dapat disimpulkan, bahwa penistaan Islam yang dilakukan oleh kaum muslim bisa berakibat pada pada pembatalan Islam (murtad). Namun, terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama terkait hukuman bagi pelaku penistaan tersebut. Kendati demikian, permasalahan yang menyangkut urusan agama ketika dilecehkan tentu harus disikapi dengan tegas. Dan ini dibutuhkannya peran negara dalam menetapkan hukum yang tegas sesuai dengan Al-Qur'an dan Sunnah.

Sebab dalam hal ini pula, ketiadaan khilafah yang semakin menjadi maraknya pelecehan terhadap Islam. Maka ketika khilafah tegak, akan memberikan sanksi tegas dan dalam hal ini khalifahlah yang mengambil peran dalam menentukan hukuman bagi pelaku penistaan terhadap Islam dari kalangan muslim. Wallahu a'lam bishshawab.