Oleh : Arsy Novianty 

(Member Menulis Kreatif, Aktivis Remaja Muslimah)


Umumnya masyarakat Indonesia sudah tak asing dengan BPJS Kesehatan (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan) dimana kartu tersebut digunakan untuk memeriksa kesehatan yang dibayar oleh individu perbulannya. Waktu lalu BPJS mengalami penurunan drastis, tapi kini  mereka sudah berhasil mengatasi defisit.


Dilansir Bisnis.com, JAKARTA - Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan mengumumkan bahwa pada 2020 mereka berhasil mengatasi defisit dan mengalami surplus Rp18,7 triliun berdasarkan laporan keuangan belum diaudit.   09 Februari 2021.


Kesehatan merupakan salah satu hal terpenting dalam kehidupan, maka dari itu sangat penting sekali untuk menjaga diri apalagi dalam masa pandemi covid saat ini. Yang jadi masalah adalah ketika banyaknya orang yang sakit lalu tak ada biaya sama sekali, mereka hanya berdiam diri dan mengharap adanya bantuan.


Ketika adanya BPJS hadir dimana masyarakat melakukan transaksi pembayaran setiap sebulan sekali untuk menjaga-jaga jika suatu hari nanti sakit. Mungkin bagi sebagian masyarakat ini tak jadi masalah, tapi bagaimana dengan kalangan rakyat tidak mampu?  Untuk makan saja mereka susah apalagi jika harus membayar iuran perbulan.


Bagaimana pandangan Islam terhadap BPJS? Dilansir Merdeka.com - (29 Juli 2015) Majelis Ulama Indonesia (MUI) menetapkan badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan haram. Pengharaman ini dilakukan karena lembaga asuransi milik pemerintah tersebut tidak sesuai dengan syariah dalam Islam.


Dalam, beberapa penilaian, BPJS Kesehatan mengandung unsur gharar, maisir dan riba. Tak hanya itu, denda administrasi yang dibebankan bagi peserta yang menunggak juga termasuk dalam riba.


Itulah kiranya pandangan menurut Islam, jelas sekali disana dikatakan haram, sudah seharusnya sistem seperti ini di berhentikan bukan malah diwajibkan bagi masyarakat Indonesia.



Lalu bagaimana sistem Islam dalam mengelola kesehatan? Jadi sangat jelas bahwa kesehatan yang sesungguhnya adalah tanggung jawab dari pemerintah, karena tugas pemerintah adalah mengayomi dan mengurus masyarakat  sebagai mana dalam hadis "Ya Allah, siapa yang mengemban tugas mengurusi umatku kemudian ia menyusahkan mereka, maka susahkanlah dia; dan siapa yang mengemban tugas mengurusi umatku dan memudahkan mereka, maka mudahkanlah dia." (HR Muslim dan Ahmad).


Di dalam islam tugas seorang pemimpin adalah  mengurus rakyatnya baik dalam hal pendidikan, ekonomi dan kesehatan, sebagaimana dulu saat Islam berjaya selama 14 abad lamanya tugas-tugas diatas di emban langsung oleh pemerintah.


Maka kita perlu kembali pada sistem yang tepat dimana rakyat tidak disusahkan melainkan penuh dengan kemudahan, apa lagi kalau bukan dalam sistem khilafah Islamiyyah, kepemimpinan Islam berdasarkan Al-Quran dan Sunnah


Wallahu alam bishshowab 

 
Top