Penulis : Ummu Haura’

DPP Pemuda, Pelajar, dan Mahasiswa Mitra Kamtibmas (PPMK) melaporkan Novel Baswedan atas dugaan ujaran provokasi dan hoaks di media sosial. Pelaporan ini dikaitkan dengan cuitan Novel Baswedan di twitter atas wafatnya Ustadz Maheer AtTuwailibi. Tanggapan Novel Baswedan atas pelaporan ini,

“Apa yang saya sampaikan itu adalah bentuk kepedulian terhadap rasa kemanusiaan,” kata Novel kepada Kompas.com, Kamis (11/2/2021).

Lebih lanjut, penyidik senior di KPK ini tak mau menanggapinya. Lain hal dengan Yudi Purnomo Harahap, Ketua Wadah Pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang menyayangkan adanya pelaporan tersebut.

Dilansir dari Kompas.com tanggal 12 Februari 2021, “Saya menyayangkan adanya laporan terhadap penyidik senior KPK tersebut. Apalagi pemerintah sendiri sudah menyatakan terbuka atas kritik,” kata Yudi dalam keterangan tertulis, Kamis (11/2/2021).

Presiden Jokowi meminta masyarakat Indonesia untuk lebih aktif memberikan kritik kepada pemerintah. Hal tersebut disampaikannya secara virtual dalam acara peluncuran Laporan Tahunan Ombudsman RI, Senin (08/02/2021). Tapi sayangnya, pernyataan Jokowi ini tidak seperti kenyataan di lapangan. Kasus Novel Baswedan adalah contohnya. Selain itu, catatan Kontras hingga Oktober 2020, ada sebanyak 10 peristiwa dan 14 orang yang diproses ketika mengkritik Presiden Jokowi. Hal tersebut disampaikan oleh Rivanlee Anandar, Peneliti Kontras pada saat dihubungi Tempo, Rabu, 10 Februari 2021.

Bagaimana pandangan islam mengenai kritik kepada penguasa?

Amar makruf nahi munkar secara umum adalah wajib, termasuk di dalamnya mengoreksi kebijakan penguasa atau muhasabah lil hukam. 

“Jihad yang paling afdhal adalah menyatakan kebenaran di depan penguasa zalim (Ath-Thabarani).

Kisah bagaimana seorang pemimpin bersikap terhadap orang-orang yang mengkritisi kebijakannya adalah kisah Umar bin Khattab. Seorang sahabat Nabi SAW yang menjadi khalifah setelah menggantikan Abu Bakar ra.

Umar pernah dikritik secara terbuka oleh para wanita terkait kebijakannya mengenai mahar. Umar membuat kebijakan pembatasan mahar yang harus diberikan oleh seorang laki-laki kepada wanita yang akan dinikahinya. Usai kebijakan itu disampaikan, seorang wanita memprotesnya.

“Apakah kau tidak pernah dengar Allah menurunkan ayat (melafalkan penggalan ayat 20 Qur’an surat AnNisa),” kata wanita tersebut.

Apa yang dilakukan Khalifah Umar bin Khattab pada wanita tersebut?? Protes tersebut ia sambut dengan hangat. Beliau beristighfar dan berkata, “ Tiap orang lebih paham ketimbang Umar.”

Kemudian beliau merevisi kebijakan pemberian mahar seperti sebelumnya. Bayangkan, pemimpin nomor satu di sebuah negara besar yang berpusat di Madinah. Terkenal dengan ketegasan dan keberaniannya, bahkan setan pun takut dan memilih lari ketika bertemu Umar di jalan. Akan tetapi ketika kebijakannya sebagai penguasa di protes, dikritik oleh rakyatnya, bahkan di salah satu kisah Khalifah Umar bin Khattab pernah dinasehati seorang wanita tua bernama Khaulah binti Tsalabah, sikap beliau ra. tidak antipasti terhadap itu semua. Begitulah semestinya sikap seorang pemimpin juga jajarannya dalam menghadapi kritik atau nasehat dari rakyatnya. Kisah Umar bin Khattab diatas harus menjadi pelajaran bagi pemimpin- pemimpin yang diamanahi urusan umat.

Dari Abu Hurairah, Rasul SAW bersabda “Ada tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah pada hari yang tiada naungan kecuali naunganNya, yaitu : pemimpin yang adil, ……”.

Hadits ini mengungkapkan keutamaan jika seorang pemimpin bersikap adil maka ia akan mendapatkan naungan Allah pada hari kiamat.

Wallahu’alam

 
Top