Kemajuan Teknologi di Tangan Kaum Muslim

 


Oleh Nur Faktul

(Pemerhati Sosial dan Generasi)


Beberapa waktu yang lalu, aplikasi WhatsApp sempat membuat geger para penggunanya. Kebijakan baru di awal tahun, yang mengharuskan setiap pengguna aplikasi ini menyetujui data pribadi pengguna dibagikan ke aplikasi Facebook milik mereka. Meskipun pihak WhatsApp sendiri memastikan data pribadi setiap pengguna akan aman, namun hal ini tetap saja membuat masyarakat khawatir. Terlebih pihak WhatsApp juga memberikan ultimatum, jika tidak menyetujui kebijakan baru ini maka akun pengguna akan di nonaktifkan dalam waktu tertentu. Merespon kebijakan baru WhatsApp ini, Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny Plate mengimbau kepada masyarakat untuk selalu berhati-hati dan membaca ketentuan privasi sebelum menyetujuinya. (Kompas.com, 12/01/2021)

Melihat hal ini, pihak WhatsApp pun akhirnya menuai banyak kritik dari masyarakat atas kebijakan barunya. Bahkan sejumlah tokoh dan juga warganet pun beramai-ramai mengajak masyarakat untuk pindah ke platform yang lebih aman dan mengambil sedikit data pribadi kita (iNews.com. 15/01/2021). Merasakan banyaknya protes dari para penggunanya, akhirnya pihak WhatsApp pun menunda kebijakan barunya karena cemas jika nantinya masyarakat meninggalkan aplikasi ini jika dipaksakan untuk tetap diberlakukan. "Kami akan memundurkan jadwal dan akan meninjau terlebih dahulu tanggapan dari pengguna", tutur WhatsApp mengutip AFP, Jum'at (15/01) CNN.Indonesia.com. 

Dari sini kita bisa melihat dengan gamblang, sekuat apa pun korporasi kapitalis global, mereka akan tetap kalang kabut jikalau ratusan juta penggunanya meninggalkan aplikasi yang mereka buat. Apalagi mayoritas terbesar pengguna aplikasi ini adalah umat muslim, tentu saja mereka tidak akan mau mengalami kerugian pada perusahaan mereka. Bayangkan saja, jika umat Islam mampu bersatu dalam negara yang besar, tentu hal ini akan membuat para korporasi kapitalis yang saat ini menjadi raksasa teknologi tidak akan berkutik lagi.

Bersamaan dengan ini dapat disimpulkan, bahwasannya bersatunya umat muslim memiliki pengaruh besar bagi peradaban para korporasi kapitalis. Jika dalam perkara aplikasi WhatsApp saja mampu menekan keinginan mereka menguasai tiap-tiap pengguna, maka dalam perkara yang lain pun juga akan sama jika mayoritas muslim mau bersatu.

Sekuler kapitalis akan tetap bercokol jika umat muslim hanya diam dan memakluminya. Bahkan merebaknya zina dan juga riba, tak lepas dari pemakluman umat muslim terhadap pelanggaran hukum syara' tersebut. Seandainya umat Islam mau bersatu dalam menolak ide-ide kebebasan yang digaungkan para sekuler kapitalis, tentu kerusakan moral tidak akan separah saat ini. 

Namun sayangnya, sistem demokrasi yang menjamin kebebasan telah membuat umat muslim terlena dan terjebak pada permainan korporator yang menuhankan materi. Yang memisahkan agama dari kehidupan dunia. Terpecahnya pemahaman umat Islam terhadap syariat Islam membuat kita berada di zona terpuruk. Bagaikan buih di lautan, jumlahnya banyak namun tak mampu membendung ide sekuler yang merusak.

Lantas bagaimana jika menginginkan kejayaan Islam kembali? Tentu kita harus mewujudkan kemandirian baik di dalam teknologi maupun sistem politik  negara. Sungguh, ketika negeri-negeri kaum muslimin dipersatukan dalam naungan khilafah tidak ada satu negara pun yang mampu menandinginya. Bukanlah suatu kebetulan apabila ternyata Allah telah karuniakan kepada kaum muslimin SDA dan SDM yang sangat besar. Kekayaan yang melimpah ruah di tanah-tanah kaum muslimin, serta orang-orang yang cerdas di dalam naungan sistem Islam. 

Ada tiga kunci yang menjadi faktor utama kembalinya kejayaan Islam. Pertama, kesadaran mayoritas individu muslim untuk mengambil peran dalam mewujudkan cita-cita menjadi umat yang terbaik (khairu ummah). Dengan meyakini akidah Islam sebagaimana janji Allah dan Bisyarah Rasulullah saw. Kedua, adanya kesadaran kolektif. Berupa kultur atau budaya yang tumbuh di tengah masyarakat dengan aktivitas amar makruf nahyi mungkar, penguasa yang gembira dikritik dan rakyat yang tak takut untuk mengkritisi kebijakan.

Ketiga, sistem pemerintahan dan sistem ekonomi yang tidak sekadar akomodatif (menoleransi), namun juga promotif (mendorong) terciptanya kemajuan. Dengan demikian, maka negara tidak akan lagi bergantung pada para korporasi. Sebab setiap penemuan dan kemajuan teknologi yang didapatkan kaum muslimin, dijadikan sebagai sarana meraih rida Allah dan juga kemaslahatan kaum muslimin, bukan sekadar menghasilkan pundi-pundi cuan sebagaimana para kapitalis saat ini.

Maka wajar jika Barat amat takjub dengan kemajuan teknologi umat muslim di bawah naungan khilafah. Karena sebenarnya, mudah menciptakan teknologi yang lebih canggih dibandingkan milik korporasi global. Dan mudah pula sebetulnya meninggalkan sistem dan rezim kapitalis lalu beralih pada sistem kepemimpinan Islam dalam naungan khilafah. Asal umat Islam mau bersatu dan mau memperjuangkannya semata karena Allah. Seyogyanya, kecemasan yang dialami pihak WhatsApp ini menjadi pelajaran bagi umat muslim. Bahwa sesungguhnya potensi umat Islam amatlah besar untuk sebuah peradaban yang dicita-citakan. Wallahu a'lam bishshawab.