Isolasi Mandiri Membuat Klaster Baru Keluarga


Oleh Shofi Lidinillah

(Mahasiswa Bandung)


Sudah hampir satu tahun Indonesia masih dalam masa pandemi Covid-19. Sudah banyak usaha yang telah dijalankan demi memutus mata rantai virus ini, mulai dari pemberlakuaan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), melakukan 5M (memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, dan membatasi mobilitas), menambah jumlah rumah sakit rujukan sampai melakukan new normal.

Selain rumah sakit, gedung BLK (Balai Latihan Kerja) di Kecamatan Baleendah digunakan tempat isolasi pasien Covid-19 dan satu hotel di Kabupaten Bandung menyatakan siap untuk digunakan tempat isolasi dengan kapasitas 20 kamar. (Pojokbandung.com, 06/02/21)

Gubernur Jawa Barat meminta kepada seluruh kepala daerah yang berada di Provinsi Jawa Barat agar tidak membiarkan warga yang terkonfirmasi virus Covid 19 menjalani isolasi mandiri di rumah masih-masing agar tidak menimbulkan klaster keluarga. (Jabarekspres.com, 03/02/21)

Tetapi pada kenyatannya, itu tidak bisa terealisasi sebab jumah pasien yang terpapar Covid-19 masih tinggi, pada laman pikobar jabar per tanggal 11 Februari 2021 pukul 17.00 total yang terkontaminasi yaitu 660 jiwa di Jawa Barat dan 8.435 jiwa di Indonesia. Sebagaimana yang telah diungkapkan oleh Anggota Komisi D DPRD Kabupaten Bandung mengatakan, “Apabila tidak akan ada isolasi mandiri, maka yang terkonfirmasi harus ditanggani oleh rumah sakit. sehingga otomatis rumah sakit harus tersedia dan pelayanan juga harus tersedia. Tetapi kondisi ini memang untuk Kabupaten Bandung nampaknya belum bisa.” (Jabarekspres.com, 03/02/21) akhirnya mau tidak mau isolasi mandiri di rumah dengan dibayangi klaster baru keluarga.

Dalam pandangan Islam, pananggulangan virus ini harus cepat tanggap. ketika ada satu tempat terkena virus, maka orang-orang yang berada di tempat tersebut tidak boleh keluar daerah dan yang dari luar tidak boleh ke daerah tersebut dengan kata lain pemberlakuan lockdown. Daerah yang tidak terpapar virus, dapat beraktivitas seperti biasa. Dengan cara ini dapat menghentikan penyebaran virus, selain usaha pembelakukan wajib vaksin. dengan kata lain, rumah sakit dapat menangani penderita dengan tidak membludaknya pasien. akhirnya isolasi mandiri dapat dilaksanakan di rumah sakit dengan pelayanan dan pengawasan yang ketat. Ini akan terlaksana jika aturan Islam dilaksanakan secara kafah melalui institusi.

Wallahu a’lam bishshawab.