Islamofobia di Tengah Dinar dan Dirham


Oleh Ummu Ahtar

(Anggota Komunitas Setajam Pena) 


Dilansir oleh nasional.okezone.com (3/2/2021)- Mabes Polri telah menangkap Zaim Saidi selaku pendiri Pasar Muamalah Depok, Jawa Barat. Kabar tersebut telah dikonfirmasi oleh Karo Penmas Humas Polri, Brigjen Rusdi Hartono. Zaim disangkakan atas Pasal 9 UU No 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana, dan Pasal 33 UU No 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang. Dalam kasus Pasar Muamalah ini Zaim adalah pendiri dan inisiator atas Pasar Muamalah. 

Pasar Muamalah menjadi viral karena transaksinya menggunakan koin dinar atau dirham. Seperti halnya pada umumnya barang yang dijual adalah sembako, makanan, minuman, dan pakaian. Hanya yang menjadi khas dari pasar ini adalah pembeli menukar uang  dengan koin dinar atau dirham sebelum melakukan transaksi jual beli. 

Zaim Saidi menentukan harga beli koin dinar dan dirham merujuk acuan harga pada PT Antam dengan ditambah 2,5 persen sebagai margin keuntungan. Dengan penjabarannya, dinar yang digunakan adalah koin emas seberat 4 1/4 gram emas 22 karat. Sedangkan dirham yang digunakan adalah koin perak seberat 2,975 gram perak murni.

Pasar ini ramai dibicarakan walaupun kegiatan tersebut sudah lama sejak tahun 2017. Sehingga banyak yang mempertanyakan kenapa hal tersebut dipermasalahkan. Padahal banyak yang mengklaim pasar tersebut membantu perekonomian masyarakat setempat, terutama di masa pandemi Covid. Karena tujuan asal terbentuk pasar tersebut yaitu pasar untuk memfasilitasi para penerima sedekah zakat fitrah atau mustahik untuk bisa menukarkan koin dirhamnya menjadi barang. 

Melalui kumparan (5/2), PP Muhammadiyah mempertanyakan proses hukum terhadap aktivitas Pasar Muamalah yang menggunakan dinar dan dirham dalam bertransaksi. Ketua PP Muhammadiyah Bidang Ekonomi, KH Anwar Abbas, menilai dinar dan dirham bukan uang asing melainkan koin dari emas dan perak yang dibeli dari PT Aneka Tambang (Antam) atau dari pihak lainnya. Sehingga ia membandingkannya dengan banyaknya penggunaan uang asing termasuk dolar dalam transaksi wisatawan asing di Bali.

Menurutnya, transaksi uang asing seperti halnya dolar yang terjadi di Bali berakibat menurunnya kebutuhan rupiah. Sehingga nilai tukar rupiah lemah. Akibatnya memengaruhi perekonomian nasional. 

Lagi-lagi kasus tebang pilih menjadi andalan para penguasa negeri ini. Apa yang menjadi sebab asal penyidik hukum lebih mengutamakan menindak kasus pasar muamalah daripada mengalir derasnya transaksi dolar di Bali yang sudah jelas menurunkan kualitas nilai rupiah. Sungguh rezim mulai menampakkan Islamofobia terhadap praktik transaksi dinar atau dirham. Tentu saja fobia akan diterapkan syariat Islam. Dan menggulingkan rezim yang telah mengagungkan demokrasi kapitalisme.  

Sejak Rasulullah saw. berhasil mendirikan Daulah Islam di Madinah, beliau menyetujui penggunaan mata uang dinar-dirham sebagai mata uang resmi negara Islam. Daulah Islam menjadikan emas dan perak sebagai standar baku dalam bertransaksi. Kesimpulan ini berdasarkan beberapa alasan berikut:

Pertama, ketika Islam melarang penimbunan harta.

Allah Swt. berfirman: "Orang yang menimbun emas dan perak, yang tidak menafkahkannya di jalan Allah, maka beritahulah mereka (bahwa mereka akan mendapat) siksaan yang pedih." (TQS. at-Taubah: 34)

Kedua, Islam telah menghubungkan emas dan perak dengan hukum-hukum yang baku. 

Yaitu saat Islam menetapkan diyat (denda/tebusan), Islam telah menentukan diyat tersebut dengan ukuran tertentu, yaitu dalam bentuk emas. Ketika Islam mewajibkan hukuman potong tangan terhadap praktik pencurian, Islam juga menentukan ukuran tertentu dalam bentuk emas.

Ketiga, setelah Rasulullah saw. menetapkan dinar dan dirham saja sebagai mata uang Islam, serta merta masyhur dalam semua transaksi antar barang di tengah masyarakat. Sehingga menjadikan ciri khas negara Islam. 

Keempat, ketika Allah Swt. mewajibkan zakat uang, Allah Swt. telah mewajibkan zakat tersebut atas emas dan perak. Allah Swt. menentukan nishab zakat dengan nishab emas dan perak. 

Sejak itu, emas dan perak unggul sebagai alat transaksi antarbarang di seluruh dunia. Dan menjadikan Daulah  Islam kokoh dan diakui kejayaannya hingga lebih dari 13 abad. 

Hal utama yang menjadikan  keunggulan emas dan perak atas nilai tukar barang dibandingkan dengan uang kertas (fiat money) yaitu dinar dan dirham memiliki basis yang riil berupa emas dan perak. 

Sebaliknya, nilai fiat money yang tercetak pada uang kertas fiat money tidak akan sama dengan nilai intrinsiknya. Hal ini memunculkan ketidakadilan. Itu dikarenakan otoritas moneter yang menerbitkan mata uang sudah mendapatkan keuntungan yang sangat besar dari selisih nilai nominal yang tertera dengan nilai intrinsiknya. 

Kedua, Dinar dan dirham lebih stabil dan tahan terhadap Inflasi dibandingkan dengan sistem uang kertas fiat money. Hal itu dibuktikan dalam sejarah hingga saat ini, jika sistem penopangnya menggunakan uang kertas, negara tersebut rentan terhadap krisis dan cenderung tidak stabil. 

Ketiga, Dinar dan dirham memiliki aspek penerimaan yang tinggi di dalam perdagangan internasional. Pasalnya dinar dan dirham tidak memerlukan perlindungan nilai karena nilai nominalnya benar-benar dijamin penuh oleh emas dan perak.

Sehingga patutlah keunggulan dinar-dirham mampu membawa negeri kokoh dan mandiri dalam kestabilan ekonomi. 

Rasulullah saw. bersabda:

"Akan datang suatu masa pada umat manusia, pada masa itu tidak ada yang bermanfaat kecuali dinar (emas) dan dirham (perak)." (HR Ahmad). 

Sepatutnya sebagai seorang muslim terikat dengan syariat Islam adalah perintah Allah Swt. Termasuk halnya dalam penggunaan mata uang dinar dan dirham sebagai alat transaksi. Penggunaan mata uang dinar dan dirham sangat jelas basis dalil syariatnya dan fakta keunggulannya.

Hanya saja, penggunaan dinar dan dirham sebagai mata uang tentu memerlukan legalitas negara sebagai institusi yang kuat dan berdaulat. Tidak mungkin semuanya bisa dilaksanakan dengan sempurna kecuali adanya negara yang berani untuk melawan hegemoni kapitalisme global. Yaitu Daulah Islamiyah yang dicontohkan Rasulullah beserta sahabatnya. 

Wallahu a’lam bishshawab.