Oleh Umi Lia

Ibu Rumah Tangga, Cileunyi Kabupaten Bandung-Jabar


“Dan orang-orang yang berkata, ‘Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan-keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa’.”(QS. Al-Furqan: 74)

Paradigma Islam dan sekuler berbeda secara diametral dalam mengelola pendidikan. Dalam sistem sekuler, pendidikan diselenggarakan untuk menghasilkan tenaga kerja yang siap kerja. Sementara dalam sistem Islam, pendidikan diselenggarakan untuk mempersiapkan generasi muda menjadi pengganti generasi tuanya. Mereka disiapkan untuk menjaga warisan pemikiran, budaya dan identitas bangsa. Pendidikan Islam berhasil dengan tujuannya sehingga bisa mempersembahkan peradaban gemilang selama 13 abad.

Indonesia yang mengadopsi sistem sekuler mengambil kebijakan dalam mengelola pendidikan dengan melibatkan korporasi asing dan domestik. Hal ini terbaca dari kurikulum pendidikan menengah dan tinggi. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Kementerian Pendidikan dan Budaya bekerja sama dengan Google, Gojek, Tokopedia dan Traveloka menyelenggarakan program Bangun Kualitas Manusia Indonesia (Bangkit) 2021. Program ini ditawarkan kepada mahasiswa di semua perguruan tinggi Indonesia untuk bisa mengimplementasikan Kampus Merdeka melalui studi/proyek independen untuk mendapatkan kompetensi di bidang machine learning, mobile development dan cloud computing. (Kompas.com, 8/1/2021)

Pada akhir program ini, mahasiswa akan dibekali dengan keahlian teknologi dan soft skill yang dibutuhkan untuk sukses berpindah dari dunia akademis ke tempat kerja di perusahaan terkemuka. Dengan kata lain sukses menjadi buruh atau budak korporasi. Sampai di situkah tujuan pendidikan kita? Lulus uji kompetensi kemudian bekerja menghasilkan materi dan memberi keuntungan pada korporasi? Kemudian siapa yang akan menjaga warisan pemikiran, budaya dan identitas bangsa? Siapa yang akan menangkal serbuan pemikiran dan budaya asing?

Bekerja untuk menghasilkan materi sebagai bekal hidup, memang penting. Tapi itu bukan satu-satunya tujuan pendidikan. Islam mengajarkan kepada kita bahwa kita harus mempunyai cita-cita tinggi. Menyelenggarakan pendidikan hanya untuk mencetak buruh yang bekerja pada korporasi, sangat membahayakan. Hal itu sama dengan menyerahkan potensi unggul generasi pada korporasi, negara “rela” kehilangan sumber daya manusia sebagai keunggulan bangsa.

Sementara dalam Islam, pendidikan diselenggarakan untuk mencetak para pemimipin. Pemimpin yang bisa dibanggakan, yang akan memimpin umat manusia meraih peradaban gemilang.

Islam dengan aturannya yang menyeluruh akan mengintegrasikan berbagai aspek kehidupan dengan asas akidah Islam. Aspek pendidikan dalam Islam tidak bisa berdiri sendiri, dan tidak hanya berpengaruh pada dunia usaha atau ekonomi saja. Tapi berpengaruh juga pada aspek sosial, budaya, kesehatan, politik dan lain-lain. Bahkan berpengaruh pada kemandirian suatu bangsa. Pendidikan yang berasaskan akidah Islam akan menghasilkan orang-orang yang berkepribadian Islam dengan menguasai tsaqafah Islam. Juga menguasai ilmu-ilmu kehidupan sebagai bekal kehidupannya di dunia seperti sains, teknologi dan seni yang sesuai syariat Islam.

Tujuan pendidikan ini dicapai dengan cara menjalankan pembinaan, pengaturan dan pengawasan di seluruh aspek pendidikan seperti penyusunan kurikulum, penyediaan sarana dan pemilihan guru.

Terkait kurikulum vokasi atau kurikulum kejuruan, maka diarahkan supaya bisa menghasilkan tenaga ahli dan terampil di berbagai bidang kehidupan sesuai jenjangnya baik di sekolah menengah atau perguruan tinggi. Mereka tidak diarahkan menjadi buruh para pelaku usaha dan industri. Keterampilan ini seharusnya bisa dimanfaatkan oleh semua lapisan masyarakat, bukan hanya dimanfaatkan oleh para pengusaha. Bahkan seharusnya mereka mampu menciptakan usaha sendiri dan membuka lapangan kerja, tidak bergantung pada industri milik korporasi.

Intinya pendidikan dalam sistem Islam menghasilkan manusia-manusia yang bermental pemimpin. Karena Islam hadir membawa perubahan ke arah yang lebih baik, membebaskan manusia dari ketergantungannya kepada selain Allah Swt. Sesuai dengan tujuan pendidikan, maka akan lahir generasi yang menjadi ulama yang ahli dalam ilmu-ilmu keislaman (ijtihad, fiqh, peradilan dan lain-lain) sekaligus ahli dalam ilmu-ilmu terapan (teknik, kimia, fisika, kedokteran dan lain-lain). Dari sinilah akan lahir para calon pemimpin peradaban yang multi talent atau polymath.

Hal ini bukan baru cita-cita atau khayalan saja, pada masa khilafah dulu ketika sistem Islam diterapkan muncul orang-orang yang besar jasanya dan tercatat sejarah dengan tinta emas. Antara lain Ali asy-Syaukani seorang ulama besar, mujtahid dan pakar pendidikan yang telah menulis 348 judul buku. Kemudian ada Jabir bin Haiyan, pakar kimia yang menciptakan skala timbangan akurat, mendefinisikan senyawa kimia, menulis 200 judul buku, 80 buku di antaranya di bidang kimia. Selain itu ada Imam Bukhari yang meneliti 300.000 hadis, yang diriwayatkan 1000 orang dan hadis yang dipilih hanya yang shahih sebanyak 7.275. Dan masih banyak lagi pribadi unggul hasil pendidikan Islam yang menjadi pioner di bidangnya sehingga ilmunya bermanfaat sampai zaman sekarang.

Konsep Islam di bidang pendidikan dan di bidang-bidang lainnya akan menjadi khayalan, jika tidak diterapkan oleh negara. Sudah saatnya kita tinggalkan sistem sekuler dan beralih ke sistem Islam. Jika negara menjalankan sistem Islam, maka pemenuhan kebutuhan dasar bagi seluruh rakyat seperti pendidikan, keamanan dan kesehatan akan dijamin negara. Jaminan dalam bidang pendidikan diwujudkan dengan cara menyediakan pendidikan gratis bagi seluruh rakyat, menyediakan fasilitas dan infrastruktur yang memadai dan lain sebagainya. Dengan jaminan seperti ini maka pendidikan dan sumber daya manusia akan berkualitas sehingga menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Wallaahu a’lam.

 
Top