Oleh Umi Rizkyi

(Komunitas Setajam Pena)


Sejak 3 Maret 1924, umat nasibnya sungguh memilukan. Kesengsaraan, penderitaan, kemiskinan, kelaparan, penganiayaan bahkan pembunuhan semakin hari semakin menjamur. Bukan hal yang tabu lagi untuk didengar dan disaksikan. Genap 100 tahun lamanya umat kehilangan keislaman dan kesejahteraannya. Keadaan umat Islam semakin miris dan memprihatinkan.

Walau mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam, namun keadaan bagaikan buih di lautan. Mudah terombang-ambing oleh ombak dan terbawa arus yang mengalir. Islam hanya dijadikan pelengkap data kewarganegaraan semata (KTP). Di mana aturan Islam hanya diambil sebagian-sebagian saja. Hanya sekadar mengatur hal ibadah saja, misal salat, zakat, puasa dan haji.

Sejak saat itu pulalah, umat Islam bak anak ayam kehilangan induknya. Karena umat Islam kehilangan kejayaannya. Dengan runtuhnya daulah khilafah. Dimana khilafah telah terbukti menjadi negara adidaya memimpin dunia. Wilayah kekuasaannya hingga 2/3 dunia selama kurang lebih 13 abad lamanya.

Setelah masa keemasan Islam itu berlalu hingga sekarang, walaupun ada sistem dan pemimpin yang adidaya dan memimpin dunia, namun nasib umat justru menyisakan kepedihan, kesengsaraan, penderitaan yang tak berujung. Tak berbeda yang terjadi di negeri kita tercinta ini. Kekayaan alam begitu melimpah ruah, dari pertambangan, perkebunan, pertanian, flora dan fauna.

Namun semua itu tidak dapat dinikmati dan dirasakan oleh umat. Karena sistem dan aturan yang diterapkan hanya menguntungkan segelintir orang saja. Hendaknya seseorang yang memimpin (seorang pemimpin) haruslah sebagai pelindung bagi siapa saja yang dipimpinnya. Sesuai tauladan yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. bahwa, "Imam/pemimpin laksana perisai. Dia akan dijadikan perisai dan orang lain akan berperang di belakangnya, digunakan sebagai tameng. Jika ia memerintahkan takwa kepada Allah Swt. dan berbuat adil,  maka pahala dan surga balasannya, dan sebaliknya jika memerintah yang lainnya maka akan mendapatkan murka dan neraka Allah Swt. karenanya. (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari hadis di atas telah jelas bahwa menjadi pemimpin itu harus melindungi dan menjaga seluruh umatnya. Tidak akan rela jika umatnya menderita. Tak akan diam kala umatnya terancam. Tak akan membisu ketika umatnya terbebani akan kebijakan yang semu. Tak akan rela jika umatnya tertekan dalam tekanan musuh. Ia akan senantiasa melindungi dari berbagai bahaya dan serangan musuh. Sehingga akan tercipta rasa aman dan nyaman dalam perlindungannya.

Maka dari itu, hendaklah seorang pemimpin dan umat harus memiliki pandangan hidup dan jalur yang sama untuk dijalani. Demikian pula dengan seluruh umat yang berada di bawah pimpinannya. Mereka akan menjadi kuat, Kokok, tangguh dan pemberani di hadapan musuh. Tak akan gentar sedikitpun.

Pada diri mereka telah tertanam bahwa mereka siap berjuang menjadi pemenang, atau syahid jika mengalami kekalahan dalam peperangan. Hal ini tertanam kokoh pada imannya. Selalu dibimbing dengan rasa takwa kepada Allah Swt. Bukan hanya sekadar kemenangan dan materi semata.

Sehingga pada suatu ketika, telah dikisahkan bahwa seorang raja Romawi merasa gentar dan takut menghadapi pemimpin dan umat Islam. Ia berkata, "Lebih baik ditelan bumi dari pada berhadapan dengan mereka", mereka di sini adalah pemimpin Islam dan umatnya. Hal ini membuktikan bahwa pemimpin dan umat Islam sungguh ditakuti karena kuat dan kokoh bahkan tidak terkalahkan.

Sekarang banyak peristiwa yang memilukan terjadi dengan umat. Bahkan nyawa umat tiada harganya lagi. Berbagai pembantaian dan penganiayaan yang dilakukan oleh saudara-saudara muslim di dunia. 

Kini saatnya kita sebagai umat Islam untuk memperjuangkan Islam. Mengambil hukum Islam secara menyeluruh tanpa memilah-milahnya. Baik dalam ekonomi, politik, pendidikan, kesehatan dan seluruh aspek kehidupan. Misalnya, hukuman bagi pembunuh adalah dibunuh. Sesuai perintah Allah Swt. yang berfirman, "Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu qishosh berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh, orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, wanita dengan wanita. Maka barang siapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diyat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik. Demikian itu adalah keringanan dari Tuhan kamu dan suatu Rahmat. Barang siapa melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang pedih." (QS. al-Baqarah : 178)

Wallahu a'lam bishshawab.

 
Top