Oleh : Dra. Rivanti Muslimawaty, M. Ag.

Dosen di Bandung


Kepala Dinas PUTR Kabupaten Bandung, Agus Nuria, mengatakan program-program 2020 banyak yang tidak bisa dilaksanakan alias ditangguhkan karena adanya kebijakan recofusing anggaran, sebagai dampak dari pandemi Covid 19. “Kemarin anggaran kita di recofusing sampai dengan 55 persen, sehingga target kita tidak bisa dicapai. Tentunya Dinas PUTR Kabupaten Bandung mempunyai kewajiban untuk menganggarkan kembali kegiatan-kegiatan yang ditangguhkan di 2020,” ujar Agus saat wawancara di Soreang. 

Contoh program yang tidak bisa mencapai target di tahun 2020 adalah jalan mantap. Target awalnya yaitu harus mencapai 90 persen tapi hanya bisa tercapai 86 persen. Artinya ada empat persen lagi yang masih belum tercapai. “Kalau mantap kan kondisi baik dan sedang. Kalau yang baik harus dipertahankan terus, bukan berarti dibiarkan. Kemudian yang kondisinya masih tidak baik, tentunya harus ditingkatkan menjadi baik,” tutur Agus. 

Menurut Agus, meski memiliki program yang bagus tapi jika tidak didukung dengan anggaran, maka program tersebut tidak bisa dilaksanakan. Apalagi jika berbicara mengenai program pembangunan fisik atau infrastruktur. “Saya berharap, di tahun 2021 ini kita coba menyelesaikan PR kami terkait infrastruktur yang ditangguhkan. Di tahun 2022, mudah-mudahan normal kembali situasinya,” tutup Agus. (dara.co.id, 13/1/21)

Fakta ini memperlihatkan betapa mudahnya dalih dikemukakan saat target tidak tercapai, pejabat terkait tinggal menyalahkan wabah yang saat ini masih melanda. Cukup salahkan wabah corona, beres sudah. Padahal pembangunan infrastruktur tersebut untuk kepentingan rakyat banyak, yang tentu saja sangat membutuhkannya. 

Berbeda dengan pembangunan infrastruktur demi kalangan konglomerat ataupun kapitalis yang terus berjalan meski wabah melanda, meskipun rakyat yang kelak akan dapat getahnya. Pembangunan berbagai perumahan, jalan tol, serta jalur kereta api cepat terus dilakukan demi mengejar target yang sudah dicanangkan. Hasilnya sudah dapat diduga: mereka yang dapat untung, rakyat yang buntung. 

Hal ini karena pembangunan tersebut mengakibatkan banyak kerusakan lingkungan, dari mulai kebisingan serta kepulan debu yang menyakitkan mata dan paru-paru hingga banjir yang tiba-tiba melanda perumahan penduduk. Rakyat yang sudah menderita makin sengsara, sementara perhatian dari pemimpin setempat hanya sekedarnya. 

Berbagai program pembangunan infrastruktur tersebut adalah gambaran nyata orientasi ekonomi kapitalis yang melayani oligarki. Mereka membangun infrastruktur tentu saja untuk kalangan berduit yang mampu membayar semahal apapun harganya, tidak mungkin untuk rakyat yang hidup sehari-harinya pun kembang kempis. 

Negara nampak tidak berdaya menghadapi dua hal sekaligus, yaitu pembangunan infrastruktur untuk rakyat dan menyelesaikan wabah corona. Seharusnya negara mampu menempatkan skala prioritas bila tidak mampu melakukan  keduanya sekaligus.

Lain halnya dengan khilafah, kondisi keuangan kekhilafahan sangat melimpah sehingga mampu membangun infrastruktur tercanggih dan termodern di masanya tanpa menarik dana dari rakyat. Meski begitu khilafah mempersilakan bila ada rakyat yang berniat wakaf maupun membantu pembangunan infrastruktur. Sepanjang sejarahnya selama tiga belas abad, khilafah membangun begitu banyak infrastruktur yang sangat bermanfaat serta kokoh fisik bangunannya, dari mulai sekolah, rumah sakit, masjid, jalan, perpustakaan dan banyak lagi.

Di bidang kesehatan pun khilafah menjadi yang terdepan. Berbagai penelitian dilakukan, baik terhadap manusia maupun hewan, yang bertujuan untuk mencegah maupun mengobati penyakit. Saat wabah melanda, khilafah memisahkan yang sakit dari yang sehat, sehingga yang sehat tidak tertular dan tetap dapat menjalankan berbagai aktivitas sehari-hari seperti biasanya. Yang sakit diisolasi di tempat tertentu dan dipenuhi segala kebutuhan hariannya serta dirawat oleh tenaga kesehatan terbaik. 

Hal inilah yang dilakukan oleh Rasulullah Saw. saat beliau memimpin dawlah yang berpusat di Madinah. Beliau mengisolasi yang sakit dan mengobati mereka hingga sembuh dan beraktivitas lagi di tengah-tengah masyarakat. Demikian pula yang dilakukan Umar ‘ibn Khaththab saat beliau mengemban amanah sebagai khalifah.

Penerapan syari’at Islam yang utuh-menyeluruh dalam wadah khilafah Islam terbukti dapat memberikan kebaikan yang begitu banyak bagi rakyatnya yang muslim maupun kafir dzimmi. Bahkan kebaikan ini juga menyebar keluar khilafah sehingga  terwujudlah rahmatan lil ‘aalamiin yang dijanjikan Allah Swt. Maka masihkah kita ragu terhadap khilafah?

Wallaahu a’lam bish shawaab.

 
Top