Hempaskan Doktrin-Doktrin Cinta

 




Oleh Adibah NF

Pegiat Literasi Islam


"Tiga hal, barangsiapa memilikinya maka ia akan merasakan manisnya iman, (yaitu) menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dari selainnya, mencintai seseorang semata-mata karena Allah, dan benci kembali kepada kekufuran sebagaimana bencinya ia jika dilempar ke dalam api neraka." (HR. Bukhari Muslim)

Betapa nikmat bagi mereka yang bisa merasakan cinta. Orang-orang yang tidak bisa merasakan cinta adalah orang-orang yang keras hatinya. Bagi yang demikian, hatinya tetap bergeming meski dengan cinta dan rahmat Allah Swt. Yang Maha Luas.

Memang benar, bahwa cinta merupakan sebuah anugerah terindah yang Allah Swt. ciptakan dan berikan untuk bisa dirasakan manusia. Bisa jadi, hanya karena cinta membuat seseorang buta dan mabuk asmara, hingga tak peduli dengan suasana di sekitarnya serta tak lagi bisa membuka mata hatinya. Apalagi jika tengah berada dalam pelukan cinta, hati pun berbunga-bunga bahkan seseorang bisa dibuatnya tak berdaya. 

Itulah besarnya cinta yang Allah Swt. berikan kepada manusia. Begitu besar dan tidak bisa diukur oleh akal manusia. Inilah pentingnya menyadari dan memahami dari mana datangnya cinta. 

Ada yang mengatakan bahwa cinta itu berasal dari mata turun ke hati. Atau cinta itu datang dengan sendirinya. Atau kejarlah cintamu nanti akan kau dapati. Ada juga yang mengatakan bahwa cinta tidak bisa dikejar karena dia sendiri yang akan menghampirinya. 

Hendaklah seseorang mencintai lawan jenisnya itu dengan sewajarnya, tidak berlebihan. Yaitu dengan perasaan yang wajar, sebagaimana dalam sebuah hadis,

"Cintailah kekasihmu sewajarnya saja karena bisa saja suatu saat nanti ia akan menjadi orang yang kamu benci. Bencilah sewajarnya karena bisa saja suatu saat nanti ia akan menjadi kekasihmu." (HR. At-Tirmidzi)

Cinta, benci, senang, sedih, bahagia, suka, sakit dan sehat semuanya merupakan pemberian dari Yang Maha Menciptakan seluruh dunia beserta isinya. Dialah Allah Swt. Tiada yang bisa menandinginya. Maka dari itu, siapapun yang bisa merasakan cinta, maka peliharalah dengan baik dan gunakan sesuai dengan aturan yang telah Allah berikan. 

Jangan sampai menjadi bucin pada sesama. Atau merealisasikan cinta hanya berdasarkan hawa nafsu belaka seperti yang digandrungi kaum milenial saat ini yang menjadi bucin-bucin tanpa kenal arti dan makna bucin itu sendiri. 

Sudah menjadi tren di bulan Februari misalnya, ada momen yang sangat ditunggu-tunggu yaitu Valentine's Day (VDay's) atau hari kasih sayang. Salah satu yang paling dikenal masyarakat adalah kisah yang berasal dari sejarah Romawi pada masa Kaisar Claudius II yang melarang para tentara menikah dan bertunangan dengan alasan akan melemahkan mereka ketika bertempur di medan perang. 

Adanya kebijakan ini ditentang oleh seorang pendeta yang bernama Valentine yang berusaha diam-diam menikahkan pasangan muda. Tindakan ini pun diketahui, akhirnya pendeta Valentine dipukul hingga dipancung. Hukuman inilah yang diabadikan melalui peringatan hari kasih sayang atau Valentine's Day yang diperingati setiap tanggal 14 Februari.

Dengan dalih hari kasih sayang inilah tidak sedikit diekspresikan dengan pergaulan bebas yang mengandung syahwat, dibalut dengan perhatian, mengungkapkan rasa cintanya dengan cokelat dan bunga, berujung pada perzinaan. Ini merupakan doktrin-doktrin yang harus segera dihempaskan dari diri kaum muslim, agar tidak lagi ikut-ikutan dengan budaya kufur ini.

Karena hal ini sudah menjadi tren yang semakin banyak diikuti, termasuk kaum muslim yang tidak terbendung terpengaruh budaya VDay's ini. Itu karena bukan hanya ikut merayakan saja namun sudah menjadi pemahaman dalam benak kaum muslim. Bahwa penyaluran naluri bisa melalui apa saja, termasuk mengikuti budaya VDay's ini. Dimana jelas-jelas lahir dari budaya kufur liberalisme (paham kebebasan) yang digadang-gadang akan membawa kebahagiaan. Kenyataanya justru menyeret pada kehancuran dan kerusakan moral. Jelas ini lahir dari budaya kufur bukan berasal dari Islam.

Dalam Islam, kecenderungan atau naluri yang Allah Swt. berikan kepada manusia bukan hanya rasa cinta, karena ada naluri lain yang menyertainya. Rasa cinta pun bukan hanya untuk sesama manusia semata, namun ada keterkaitan dengan yang lain yang dimiliki manusia yaitu kecenderungan atau naluri yang tidak mungkin bisa dihilangkan atau dihancurkan oleh siapapun. 

Islam datang bukan untuk menolak keberadaan naluri/gharizah, namun mengatur dalam pemenuhan naluri-naluri tersebut. Termasuk naluri kasih sayang yang menjadi salah satu sebab turunnya rahmat Allah Swt., seperti sabda Rasulullah saw.,

"Para pengasih dan penyayang dikasih dan disayang oleh Ar-Rahman (Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang), sayangilah yang ada di bumi niscaya kalian akan dirahmati oleh Zat yang ada di langit." (HR. Abu Dawwud dan At-tirmidzi)

Adapun agar bisa memenej gharizah, maka terdapat hal-hal yang perlu diperhatikan diantaranya:

Pertama, tetap berpegang kepada syariat dalam melakukan interaksi atau hubungan dengan siapapun, baik sesama jenis maupun lawan jenis. Karena saat ini begitu marak hubungan yang dilakukan sesama jenis dan seolah didukung sistem yang berlaku saat ini. Maka dari itu sudah merupakan keharusan kaum muslim menjaga berbagai interaksi ini. Sebelum berinteraksi harus memahami betul kebolehan atau larangan menurut hukum syariat. Jika dibolehkan maka lihat dulu sejauh mana batas-batas kebolehannya. 

Kedua, gunakan orientasi (cara pandang) yang benar, yakni saat melakukan interaksi yang sesuai dengan syariat. Mulai dari aspek motivasi, tujuan, orientasi, dan tata cata interaksinya. Salah satu contohnya adalah jika motivasi kita dalam beriteraksi mengenai urusan dakwah dengan tujuan menjalankan aktivitas dakwah, maka selama melakukan aktivitas itu wajib fokus pada orientasi dakwah. Baik materi maupun cara penyampaiaannya. Juga perhatikan tata cara berinteraksi yang dibenarkan dalam syariat yaitu tidak diperbolehkan dilakukan dengan cara campur baur atau ikhtilath antara lawan jenis, dan lain sebagainya.

Ketiga, minimalkan faktor pendorong munculnya gharizah. Dalam diri manusia Allah Swt. telah menciptakan potensi dinamis, agar dengan potensi itu memungkinkan manusia dapat menjalani hidup. Ada kebutuhan jasmani (hajat al-'udhawiyyah) untuk mempertahankan hidup maupun potensi naluriah/kecenderungan. Terdapat tiga macam gharizah; gharizah at-tadayyun (naluri beragama), gharizah al-baqa' (mempertahankan eksistensi diri), gharizah an-nau' (naluri untuk melestarikan jenis/keturunan). Naluri inilah yang mengandung rasa kasih sayang di dalamnya. 

Kecenderungan rasa kasih sayang terhadap orangtua, saudara bahkan lawan jenis merupakan salah satu penampakkan dari gharizah nau'. Namun, cerminan ini tidak akan muncul kecuali ada faktor yang datang dari luar yang mampu mendorong kemunculannya. Misalnya karena ada fakta yang terindra; bisa melalui buku, tayangan televisi, pemikiran dan komunikasi pembangkit syahwat, seperti yang terdapat dalam doktrin-doktrin VDay's. Itu semua bisa memicu seseorang mencoba mengikuti dan pada akhirnya melakukan dengan dalih kasih sayang. 

Padahal dalam Islam sudah sangat jelas bagaimana dan kepada siapa cinta dan kasih sayang semestinya diberikan. Dan dengan aturan yang jelas. Misalnya ketika seseorang sudah mempunyai kecenderungan namun belum mempunyai pasangan maka hendaklah ia banyak-banyak berpuasa, karena dengan berpuasa bisa mengalihkan dari gharizah nau' kepada gharizah at-tadayyun. 

Keempat, jika terasa orientasi mulai bergeser, maka segera hentikan interaksi saat itu juga. Hindari interaksi yang bisa memunculkan gharizah nau'. Perbanyak faktor yang memunculkan gharizah at-tadayyun, sehingga tidak ada peluang untuk berfikir yang kurang bermanfaat apalagi menghayalkan lawan jenis. Berikutnya, ubah cara pandang ke dalam interaksi sebagai hubungan antara sesama hamba Allah Swt., antara sesama anggota masyarakat, antara sesama aktivis dakwah, dan sebagainya sebatas interaksi yang diperlukan. 

Demikianlah, sikap yang harus dilakukan oleh seorang muslim dalam menjalankan interaksi dan mewujudkan cinta dan kasih sayangnya sesuai aturan Islam, bukan dengan mengikuti aturan Valentine's Day yang menghalalkan segala cara, jelas-jelas bukan berasal dari ajaran Islam. Saatnya hempaskan budaya kufur ini dan kembali kapada ajaran Islam kafah yang akan segera terwujud dalam sistem Islam di bawah naungan Khilafah Islamiyah yang kedua. Sebentar lagi. Allahu Akbar!

Wallahu a'lam bishawwab.