Hanya di Sistem ini, Ketika Durhaka Tak Jadi Dosa


Oleh TatiRistianti


Terdengar Kabar di idntimes.com seorang anak menggugat orang tua sedang hangat diperbincangkan di masyarakat. Kejadian ini sungguh membuat miris dan harus dimediasi, sehingga orang tua dan anak kembali hidup rukun tanpa dilukai dengan adanya saling melaporkan secara hukum.

Psikolog dari Universitas Islam Bandung (Unisba) Stephani Raihana menjelaskan, setiap konflik antara anak dan orang tua pasti ada faktor pemicu. Sehingga harus dilihat terlebih dahulu motif dibalik perilaku penggugatan.

Dewasa ini ada dua kejadian, dimana anak menggugat orang tuanya sendiri. Pertama terjadi di Demak, Jawa Tengah karena faktor perceraian. Kedua yang sedang hangat anak menggugat ayahnya yang sudah berusia 85 terjadi di Kota Bandung, Jawa Barat karena materi. (idntimes.com)

Kasus ini bukan hal yang aneh di rezim saat ini, terulang dan terulang lagi, sungguh miris, andaikata dongeng malin kundang anak durhaka itu benar, mungkin mereka sudah menjadi batu. Konflik antara anak dan orang tuanya baik motif, faktornya dan pemicunya adalah masalah ekonomi, yang salah satunya terkait pembagian harta waris. Yang tidak seharusnya masalah pembagian harta dipermasalahkan apalagi saat orang tua masih hidup. Inilah bukti paham kapitalis yang telah menempatkan materi sebagai standar kebahagiaan. 

Kondisi saat ini faktor utamanya adalah pendidikan sekuler- liberalisme, paham ini akan menghasilkan anak-anak bebas bersikap, bertingkah laku, berpendapat, bahkan tak ada rasa malu mereka bebas membantah orang tuanya. Di sisi lain nilai-nilai agama dalam keluarga semakin terkikis oleh paham sekuler,  agama hanya dihayati sebatas ritual belaka dan kehilangan ruhnya sebagai pedoman dan peraturan hidup. 

Kita bisa melihat, solusi demi solusi dirumuskan, bahkan kasus ini dilemparkan ke kalangan pakar psikolog dan ahli mediasi, mereka mendiskusikannya untuk diterapkan di tengah masyarakat, hasilnya? Konflik antara anak dan orang tua makin meningkat, dan moral pun semakin rusak. Sebagian pihak menuding, keluargalah sebagai pangkal utama masalah, inilah cara berpikir kapitalisme, yang parsial, sehingga tidak menemukan akar dari masalah ini.

Kunci dari permasalahan yang tepat adalah pendidikan, karena dengan pendidikan yang benar adalah salah satu jawaban bagi pembentukan dan perbaikan anak-anak sebagai generasi peradaban, ada tiga pilar yang saling mendukung dalam dunia pendidikan,  yaitu pendidikan di dalam keluarga,  pendidikan di masyarakat, dan pendidikan di dalam institusi pendidikan, tak jarang dalam kasus itu seorang anaknya punya gelar dan sekolah tinggi, karena masalahnya adalah salah satu ketiga pilar itu rapuh, akan berakibat pada kerapuhan secara keseluruhan dalam sistem pendidikan dan kepribadian anak, dan kebanyakan orang tua memprioritaskan sisi pendidikan yang bersifat duniawi saja, inilah faktor dari penyebab konflik antar keluarga.

Selama sistem kapitalis-sekuler yang mendominasi warna negara ini tidak didelete, selama ini pula semua persoalan kerusakan keluarga yang terjadi, tidak akan bisa diselesaikan  dengan tuntas. Islam memiliki konsep pendidikan yang berbeda secara secara diametral dengan konsep pendidikan ala kapitalis-sekuler. Perbedaan terbesarnya terletak pada ideologi yang melandasinya, sistem pendidikan Islam, baik tujuannya, kurikulumnya, materi dan metode semua merujuk pada pemikiran dan konsep yang terpancar dari akidah Islam.  

Pendidikan dalam Islam adalah upaya sadar, terstruktur, terprogram dan sistematis dalam rangka mencapai tujuan pendidikan yaitu agar membentuk manusia bertakwa yang memiliki kepribadian Islam secara utuh pola pikir dan pola sikapnya didasarkan pada akidah Islam.

Dengan tujuan pendidikan seperti itu akan menghasilkan generasi yang bertakwa, tunduk dan taat pada hukum-hukum Allah, pada Allah saja tunduk dan takut, jadi mana mungkin durhaka pada orang tua yang telah mendidiknya dengan kasih sayang. Karena itulah,  di dalam syari'at Islam sangat menanamkan rasa kasih sayang dan memotivasi orang-orang dewasa dari kalangan bapak-bapak, pendidik, dan yang bertanggung jawab di dalamnya untuk menghiasinya dengan kasih sayang. 

Rasulullah saw. bersabda: "Bukanlah dari golongan kami orang yang tidak menyayangi yang masih kecil dan yang menghormati yang lebih tua." (HR. At-Tirmidzi). Sungguh, hanya negara khilafahlah yang bisa menerapkan semua pilar-pilar pendidikan secara paripurna, sehingga masyarakatnya berjalan baik dan saling mendukung. 

Wallahu a'lam bishshawab.