Efektifkah Pemberdayaan Ekonomi Perempuan


Oleh Ummu Nadiatul Haq

(Member Akademi Menulis Kreatif)


Lembaga AS gelontorkan jaminan kredit US$35 juta atau Rp493 miliar kepada pengusaha perempuan Indonesia yang terlibat penanganan sampah plastik. Tridi Oasis, perusahaan asal Jakarta yang bergerak dalam bidang daur ulang botol plastik, menjadi salah satu penerima manfaat. (CNN Indonesia, 14/1/2021)

Perempuan seolah menjadi tumbal negara untuk menutupi kelemahannya.  Perempuan dijadikan andalan solusi permasalahan ekonomi saat ini.  Mereka diberdayakan agar bisa menyumbang  negeri menumbuhkan perekonomiannya. Proyek-proyek UMKM yang jumlahnya meliputi 99,3 persen dari 64 juta pelaku usaha dan 60 persen di antaranya ternyata merupakan kaum perempuan.

Program PEP (Pemberdayaan Ekonomi Perempuan) dengan gelontoran dana asing diasumsikan oleh pemerintah mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Perempuan diberdayakan supaya mampu membuka lapangan kerja sendiri dengan tangan-tangan kreatifnya. Hanya saja, apakah ini solusi utama atas permasalahan ekonomi negeri ini? yang sepertinya masih belum bisa berdiri tegak.  Ekonomi kita masih terseok-seok untuk bisa berdiri sendiri. 

Tercium aroma liberalisasi perempuan sangat kuat. Perempuan mandiri secara ekonomi dan perempuan mampu memenuhi kuota keterwakilannya di parlemen adalah tujuannya. Upayanya begitu masif, baik melalui jalur vertikal maupun horizontal. Vertikal dengan dilahirkannya berbagai undang-undang. Sedangkan horizontal, yakni berbagai lembaga perempuan terus bertumbuh bak jamur di musim hujan. 

Barat yang merupakan rahim kapitalis tidak aneh ikut menggelontorkan dana, dengan dalih untuk pertumbuhan ekonomi. Padahal dibalik itu ada upaya  mencengkeram dengan sistem ekonomi kapitalisme global yang terbukti rusak dan membawa kerusakan. Pemberdayaan ekonomi perempuan yakni upaya menjadikan perempuan mandiri secara ekonomi. Dibungkus dengan berbagai propaganda cantik yang diaruskan demi diterimanya ide ini. 

Ide ini tentu sangat merusak tataran hidup keluarga dan masyarakat. Perempuan sejatinya memiliki peran vital sebagai penentu generasi hebat dikeluarkan dari fungsinya.

Liberalisasi perempuan jelas tidak sesuai fitrah perempuan. Fitrah perempuan sebagai pendidik generasi dan mempersiapkan penerus peradaban Islam akan semakin langka. Mereka sibuk dengan urusan yang lebih diutamakan daripada urusan sebagai ummu warabbatul bait.

Padahal dalam Islam, perempuan tidak memiliki kewajiban dalam mencari nafkah. Perempuan dalam Islam dimuliakan dengan hanya menjadi seorang istri, menjadi ibu rumah tangga yang mengurus anggota keluarga. 

Memang seorang wanita dalam Islam memiliki tiga posisi, sebagai hamba Allah yang sama dengan posisi laki-laki harus menjadi hamba yang mengetahui tujuan hidupnya, bertakwa, taat beribadah dan memurnikan akidahnya. Sehinga hanya kepada Allah tempat bergantung dan mengadukan semua permasalahan hidup juga sebagai pemecah semua permasalahan dalam semua aspek kehidupan. 

Posisi kedua sebagai istri dan ibu rumah tangga yang mendedikasikan diri semampu dan setotalnya untuk keluarga. Sehingga mengurus urusan keluarga lebih utama dibanding yang lainnya. 

Posisi ketiga memang seorang wanita bisa menjadi seorang individu yang bisa mengembangkan potensi diri untuk terus belajar dan berkontribusi sebaik-baiknya untuk kehidupan. Baik menjadi seorang pembelajar/ilmuwan,  seorang wanita karir/ pembisnis atau pengusaha. 

Namun, perekonomian negara tidak boleh mengandalkan pada perempuan bekerja. Dalam masalah ekonomi keluarga, negara Islam menetapkan hukum wajib bagi laki-laki menafkahi perempuan dengan jaminan terpenuhi kebutuhan pokoknya baik primer, sekunder maupun tersier dengan cukup. Ketika laki-laki (suami) tidak mampu memenuhi kebutuhan keluarga termasuk istrinya karena kesulitan ekonomi, perempuan tersebut menjadi tanggung jawab walinya. Saat walinya juga tidak mampu, maka negara wajib memenuhi kebutuhan pokoknya.  

Politik ekonomi Islam adalah menjamin terealisasinya pemenuhan kebutuhan primer (basic needs) setiap orang secara menyeluruh, berikut kemungkinan dirinya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan sekunder dan tersiernya, sesuai dengan kadar kesanggupannya sebagai individu yang hidup dalam sebuah masyarakat yang memiliki gaya hidup (life style) tertentu.

Hukum wanita bekerja adalah mubah/boleh, asalkan mencari pekerjaan yang sesuai hukum syara. Ada izin dari suami atau wali/orang tua, melakukan pekerjaan halal dan tidak menduduki jabatan pekerjaan yang dikhususkan untuk laki-laki. 

Allah Swt. telah menetapkan bahwa wanita boleh menekuni aktivitas pertanian, industri, perdagangan, mengembangkan harta, menjadi persero dalam suatu syirkah, menjadi pegawai, mempekerjakan orang, menyewakan sesuatu atau melakukan semua bentuk muamalat lainnya. 

Hanya saja, perempuan tidak boleh menduduki jabatan pemerintahan (berhubungan dengan kekuasaan yang menentukan kebijakan) seperti kepala negara, gubernur, bupati. Dan ketika bekerja harus dilakukan secara seimbang dengan tanggung jawab utamanya sebagai ibu dan pengatur rumah tangga. 

Di masa Rasulullah, terdapat contoh konkrit sosok perempuan yang sukses mengembangkan karir yang diiringi dengan ketakwaan kepada Allah Swt.  Sosok tersebut yakni Sayyidah Siti Khadijah, istri pertama Rasulullah saw. Beliau dikenal sebagai saudagar yang kaya raya, mampu melakukan perniagaan dan berekspedisi hingga ke bermacam negeri. Namun, beliau setia mendampingi Rasulullah berdakwah, bahkan mengorbankan kekayaannya untuk Islam. Tetapi ini bukan andalan dalam perkembangan ekonomi negara. 

Ekonomi dalam sistem Islam sudah cukup dari sumber-sumber pemasukan baitulmal yang tetap yaitu fai', ghanimah, anfal, jizyah, dan pemasukan dari hak milik umum dengan berbagai macam bentuknya; pemasukan dari hak milik negara, usyur, khumus, rikaz, tambang serta harta zakat dan pajak ketika kas baitulmal benar-benar kosong.

Perempuan dalam sistem Islam lebih diutamakan sebagai ibu dan pendidik generasi penerus peradaban Islam.  Agar kelak di masa depan mereka menjadi calon-calon pemimpin yang cerdas, kuat iman dan beramal saleh sesuai dengan apa yang disyariatkan Allah Swt. 

Wallahu a'lam bishshawwab.