Oleh Layli Hawa

(Mahasiswi & Aktivis Dakwah)


Islam pernah mencatat sejarah kejayaannya, yang dimulai dari masa setelah nabi hijrah ke Madinah, masa khulafaurrasyidin, dan masa kekhalifahan dinasti. Kekhalifahan Islam berakhir seiring runtuhnya Khilafah Utsmaniyah atau dikenal dengan Kesultanan Turki Utsmani pada 3 Maret 1924.

Setelah berakhirnya periode kekhalifahan yang ditandai meninggalnya khalifah ke-4 Ali Bin Abi Thalib (661 M), kepemimpinan Islam selanjutnya adalah kekhalifahan dinasti (pewarisan kekuasaan). Kurang lebih ada 1.263 tahun umat Islam menjalani kekhalifahan setelah khulafaurrasyidin. Dimulai dari Kekhalifahan Umayyah (661-750 M), Kekhalifahan Abbasiyah (750-1258 M), dan Kekhalifahan Fatimiyah (909-1171 M), hingga Kekhalifahan Utsmani.

Khilafah Islamiyah secara resmi dihapuskan pada 3 Maret 1924. Hilangnya sistem khilafah berarti hilangnya sebuah sistem peradaban Islam yang menyatukan dunia Islam di bawah satu kepemimpinan berlandaskan syariat Islam. Hilangnya sistem khilafah juga berarti hilangnya Negara Islam yang menurut Dr. Yusuf Qaradhawi, merupakan perwujudan dari ideologi Islam.

Jika dulu Islam menjadi jiwa setiap individu, kini ketiadaan khilafah menjadikan umat hilang kendali atas kewajiban utama manusia di hadapan Sang Pencipta. Bahkan umat kehilangan arah menentukan kiblatnya menentukan qiyadah fikriyah dalam menentukan solusi setiap problem yang dihadapinya. 

Dunia didominasi sistem sekuler-kapitalis dalam setiap sendi kehidupan. Tanpa sadar, umat mengenyam lahap pemikiran demi pemikirannya. Contoh nyata, perempuan dijadikan sasaran empuk bagi corong feminis dalam melanggengkan pemikiran sekulernya untuk menjauhkan perempuan dari tugas utamanya di dalam keluarga. Perempuan juga dianggap sebagai bahan bisnis menguntungkan dalam media kapitalis. Dan berbagai problem terenggutnya martabat perempuan karena ketiadaan perisai yang menjaga kaum perempuan. 

Di sisi lain, kehormatan umat tak lagi tersisa. Persoalan pelik Israel terhadap umat Suriah dan Palestina yang tak kunjung usai. Pembantaian keji oleh kelompok rasis terhadap etnis muslim Uighur, pengusiran Rohingya dari wilayahnya, bahkan di dalam negeri, aparat pemerintah dengan mudahnya menyiksa bahkan membunuh orang-orang kritis akan kebenaran. 

Umat tak lagi merasakan ketenangan dan kesejahteraan hidup yang sekarang dirasakan di era demokrasi. Keruntuhan khilafah terakhir akibat pengkhianatan Kemal Ataturk, membuat karut marut kehidupan semakin terasa. Dan format negara hari ini nyata gagal dalam memberikan rasa aman bagi umat menyeluruh. Terkhusus umat Islam. Justru, umat Islam merasakan tekanan hebat akibat kebijakan negara yang hanya berpihak pada golongan kapitalis. 

Telah hampir 100 tahun umat terpuruk dari jati dirinya, apakah cukup hanya berpasrah diri dengan kondisi yang ada? Jawabannya tidak, karena salah satu pengaruh besar dalam terwujudnya harapan adalah dengan berusaha maksimal. Jangan mau kalah dengan kaum pembenci Islam dalam mengatur strategi buruk untuk memporak-porandakan kaum muslimin, kita juga harus berupaya maksimal mengangkat kembali kejayaan umat dalam naungan khilafah Islamiyah. Dengan mendalami Islam dan dakwah terhadap umat meluruskan kembali ideologi Islam serta berupaya membongkar makar jahat kafir beserta antek-anteknya. 

Dengan begitu, bukan tidak mungkin Islam bisa kembali meraih kemenangan seperti sediakala dengan penerapan syariatnya. 

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum kaum itu sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka”. 

 
Top