Dinar Dirham Mata Uang yang Unggul

 



Oleh Bani Hawanda

Ibu Rumah Tangga Dan Pegiat Dakwah


Beredarnya berita penangkapan salah satu pegiat pasar muamalah di beberapa minggu terakhir ini menjadikan publik heboh. Penangkapan itu disebabkan jual beli di pasar yang tidak menggunakan mata uang rupiah, melainkan memakai jenis logam mulia.

Pada Selasa malam (2/2/2021), Bareskrim Polri menahan pegiat gerakan emas dan perak Zaim Saidi.  Tersangka dijerat dengan dua pasal yang diatur dalam (KUHAP), yaitu Pasal 9 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang mata uang. Yang bersangkutan terancam hukuman penjara paling lama 15 tahun. (sindonews.com,2/2/2021)

Tentu menjadi pertanyaan banyak pihak, apakah penangkapan pada kasus  tersebut bertentangan dengan peraturan atau justru tersemat kepentingan politik di dalamnya? Apabila penangkapan didasarkan atas tuduhan penggunaan mata uang selain rupiah, mengapa di beberapa tempat lain dengan mata uang asing semisal dolar atau lainnya, perlakuan yang sama tidak terjadi? Seperti kita ketahui, penggunaan mata uang asing di daerah yang menjadi pusat wisata ini sudah berlangsung lama. Namun, tidak ada tindakan apa-apa dari pemerintah, dalam hal ini kepolisian.

Hal itu memunculkan banyaknya anggapan negatif. Apalagi ketika diberitakan bahwa pengguna emas dan perak tersebut ada kaitannya dengan ide khilafah. Padahal ketika  pemerintah akhir-akhir ini menjadikan wakaf sebagai gerakan nasional, itu juga terkait erat dengan syariat dan khilafah, demikian pula dengan zakat. Lalu kenapa emas dan perak yang dalam bentuk dinar dan dirham justru dipermasalahkan?

Daulah Islam di Madinah yang didirikan Rasullulah saw. telah menggunakan mata uang emas dan perak sebagai mata uang resmi negara. Dinar dan Dirham namanya. Dimana hal tersebut telah lama dipergunakan oleh masyarakat saat itu. Rasullulah saw. saat itu juga menyetujui timbangan yang dipakai kaum Quraisy sebagai standar timbangan emas dan perak. Sabda beliau saw.,

"Timbangan yang berlaku adalah timbangan penduduk Makkah dan takaran yang berlaku adalah takaran penduduk Madinah.” (HR. Abu Dawud)

Jika dalam timbangan sekarang ini dibandingkan dengan satu koin emas di masa Rasulullah, sama dengan 4,25 gram emas saat ini. Sementara satu koin perak sama dengan 2,975 gram perak saat ini.  Dalam hal ini Islam jelas menjadikannya sebagai mata uang yang digunakan sebagai alat tukar, yaitu emas dan perak.

Islam juga melarang penimbunan harta (kanzul mal) hanya mengkhususkan atas  penimbunan untuk emas dan perak. Tetapi boleh mengumpulkan harta selain emas dan perak (ihtikar). Hal ini menunjukan bahwa emas perak adalah alat tukar.

Allah Swt. juga mewajibkan zakat uang atas emas dan perak. Allah Swt. menentukan nishab atas emas dan perak. Semua itu menunjukkan mata uang dalam  Islam berupa emas dan perak. Ukuran mata uang dalam Islam adalah pada emas dan perak, dengan jenis dan timbangan yang telah ditentukan oleh Rasulullah saw.

Sementara saat ini kita sehari-hari menggunakan mata uang yang dikeluarkan oleh pemerintah yaitu uang kertas yang dicetak oleh pemerintah dengan jumlah tertentu. Uang kertas ini tidak memiliki nilai intrinsik sebagaimana logam mulia, melainkan hanya sehelai kertas biasa. Pemerintah juga tidak menjamin uang kertas tersebut dengan emas dan perak. Bahkan, hal ini terjadi di seluruh dunia.

Apalagi, emas dan perak banyak memiliki keunggulan dibanding dengan uang kertas biasa. Pasalnya emas dan perak memenuhi unsur keadilan dan himpunan (nilai pertukaran yang stabil). Berbeda dengan uang kertas yang tidak mempunyai kadar logam mulia dalam mata uang.

Dalam hal ini penggunaan dinar dirham pun mengangkat ketidakadilan. Pasalnya kekuasaan kepada yang sah yang diberikan, yang mendapatkan keuntungan yang sangat besar. Sebaliknya dinar dirham dengan emas dan perak jelas adil karena ada kesesuaian antara angka yang tertera dengan nilai kadar logam mulia di dalam mata uang.

Emas dan perak juga bersifat lebih stabil dan tahan terhadap peningkatan barang jika dibandingkan dengan uang kertas, bagaimanapun kuatnya suatu negara dalam perekonomiannya. Jika menggunakan uang kertas, suatu negara akan rentan terhadap krisis dan mengarah pada ketidakstabilan. Sementara apabila menggunakan emas dan perak tidak memerlukan perlindungan karena nominalnya dijamin penuh oleh nilai mulia di dalamnya.

Semua ini membuktikan bahwa emas dan perak dapat menjadi mata uang yang sangat unggul  dibanding dengan mata uang kertas manapun, termasuk Dolar Amerika Serikat sekalipun. Alan Greenspan, mantan Chairman the Fed berkata, emas masih menjadi bentuk utama pembayaran di dunia. Sementara Feter Bernstein, pakar keuangan terkemuka dunia mengatakan secara terbuka bahwa ketika semua mata uang kertas berjatuhan, emas akan menunjukkan kesaktiannya dan cenderung menguat terhadap uang kertas.

Allah Swt. telah memerintahkan kepada setiap muslim untuk terikat dengan syariat Islam termasuk dalam menggunakan mata uang emas dan perak. Hal ini sangat jelas dalil syariatnya dan fakta atas keunggulannya. Rasulullah saw. bersabda,

"Akan datang suatu masa pada umat manusia, pada masa itu tidak ada yang bermanfaat kecuali emas dan perak (dinar) dan (dirham)." (HR. Ahmad)

Tetapi penggunaan emas dan perak sebagai mata uang tentu memerlukan dukunganan yang (sah) dari lembaga pemerintah yang kuat dan berdaulat. Hal itu mustahil bisa dilaksanakan, kecuali ada negara yang berani untuk melawan kepemimpinan (pengaruh) kapitalisme global yang kini mendominasi dunia secara menyeluruh. Hal ini hanya bisa diwujudkan oleh lembaga pemerintahan Daulah Islamiyyah yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah saw. dan dilanjutkan oleh para sahabat sesudahnya.

Wallaahu a'lam bi ash-shawaab.