Dewasa Fisik atau Pikir?


Oleh Afra salsabila z.


Tidak dipungkiri semakin usia bertambah, semakin diri dituntut untuk senantiasa dewasa. Dewasa dalam bersikap, bertutur kata serta dalam setiap pengambilan pilihan dalam kehidupan. Dewasa sendiri terbagi menjadi dua bagian. Yaitu dewasa dalam berpikir dan dewasa dalam fisik

Pertama, dewasa dalam fisik. Yaitu ketika usia sudah mencapai akil baligh. Perempuan menunjukkan tanda kedewasaannya dengan ciri-ciri fisik yang berkembang. Begitupun laki-laki yang tumbuh jakun dan ihtilam.

Yang mana Islam mensyariatkan orang yang baligh telah terbebani oleh hukum atau mukallaf. Sehingga setiap langkah dan pilihan yang ia ambil akan mengandung nilai pahala dan nilai dosa.

Kedua, dewasa dalam pikir. Dalam hal ini tidak menjadikan usia sebagai tolok ukur. Karena dalam pemikiran yang berperan penting adalah kemauan dan pilihan. Mau dewasakah atau justru tidak? Semua pilihan.

Saat baligh, akal akan berkembang dengan baik dan dapat difungsikan sebagaimana mestinya. Akal inilah pembeda kita dengan hewan maupun makhluk Allah yang lainnya. Apalagi manusia sebagai ciptaan yang paling sempurna dengan akal.

Dalam setiap perjalanan kehidupan, Allah memberikan sebuah pedoman sebagai google map manusia untuk melewati ujian dunia dengan selamat. Namun, manusia diberi pilihan untuk menggunakannya atau justru meninggalkan.

Allah telah memberikan modal berupa akal dan Al-Qur'an sebagai petunjuk. Sekarang tinggal manusia mau memaksimalkan modalnya dan menjalankan sesuai petunjuk atau tidak. Semua itu kembali pada pilihan manusia.

Dewasa itu Pilihan

Sewaktu masih kecil bayangan kita dewasa adalah memiliki kekuasaan untuk memerintah serta memiliki apa pun untuk bisa membeli barang atau makanan kesukaan. Ketika usia telah meninggalkan masa anak-anak yang terpikir dalam benak justru berkebalikan.

Maka, dewasa adalah sebuah pilihan. Kita mau dewasakah atau menjadi anak-anak meski fisik telah berubah. Padahal, berpikir menjadi senjata penting umat Islam. Bangkit atau mundurnya peradaban Islam bergantung pada maju dan mundurnya pemikiran umat Islam.

Tertulis dalam kitab Ad-Durrul Mantsur jilid 2 halaman 409, bahwasannya cahaya dan sinar iman adalah dengan banyak berpikir. Sehingga jelas bila taraf berpikir semakin bertambah, maka iman semakin kuat. Semakin kuat iman semakin bangkitlah umat Islam.

Kemunduran yang terjadi pada kaum muslimin saat ini juga disebabkan mundurnya taraf berpikir umat Islam. Diskriminasi, islamofobia, radikalisme dan konotasi negatif yang disematkan pada Islam karena mundurnya pemikiran kaum muslimin.

Akhirnya, dewasa fisik atau pikir yang menjadi pilihan? 

Wallahu a'lam bishshawab.